Gelisah karena Jodoh Tak Kunjung Datang? Saya Pernah Mengalaminya. Inilah Kisah Saya: Menemukan Pasangan Hidup di Usia Lebih dari 30 Tahun

Singleness & Dating

[Image: viunge.dk]

24.7K
Terus terang, saya tidak merasa memiliki panggilan untuk menjalani hidup single. Ya, saya ingin menikah. Tapi saya tak tahu kapan waktu itu akan tiba bagi saya. Karena hingga saat itu pun, saya belum juga punya pacar. Sampai kapan saya harus menunggu?

Setelah mengalami banyak hal pahit dalam hidup - yang telah saya tuliskan di artikel ini - saya menyakini: apa pun tahapan yang sedang kita lalui dalam perjalanan kehidupan, tak lain adalah sebuah proses untuk belajar. Demikian pula dengan pergumulan menantikan hadirnya pasangan dalam hidup saya.

Saya anak perempuan terakhir dari enam bersaudara. Kakak-kakak saya semua sudah menikah. Tinggal saya seorang diri, si bungsu yang bahkan belum punya pacar. Ketika duduk di bangku SMU, saya pernah punya sebuah harapan: menikah di usia 25 tahun. Apa mau dikata, harapan tinggallah harapan, karena akhirnya usia ‘keramat’ itu harus berlalu begitu saja. Saya masih single, di usia 25 tahun.

Lima tahun kemudian berlalu. Tahun 2007, saya menginjak usia 30 tahun. Tekanan – terutama dari lingkaran terdekat - semakin berat saya rasakan. Layaknya semua orangtua, pasti menginginkan anak gadisnya menikah di usia produktif. Usia di mana seorang wanita masih sehat untuk bekerja [dengan ‘bekerja’ termasuk juga bereproduksi, tentunya]. Pun demikian orangtua saya. Mereka mengungkapkan harapan untuk segera menimang cucu dari saya, meskipun tidak secara tegas lewat ungkapan kata-kata, tetapi dari sikap mereka, saya bisa merasa.

Baca Juga: Saya Ingin Menikah, tapi Tidak Karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti ini

Tahun 2008 adalah tahun di mana saya sungguh-sungguh menggumuli kegalauan akan hadirnya pasangan dalam hidup saya. Terus terang, saya tidak merasa memiliki panggilan untuk menjalani hidup single. Ya, saya ingin menikah. Tapi saya tak tahu kapan waktu itu akan tiba bagi saya. Karena hingga saat itu pun, saya belum juga punya pacar.

“Sampai kapan saya harus menunggu?” tanya saya dalam doa.

Menunggu, saya garis bawahi, adalah pekerjaan yang paling tidak mengenakkan. Percayalah, saya tahu betul apa rasanya. Namun, seperti yang telah saya katakan di awal tulisan ini, ketika sekarang menengok kembali ke belakang, saya baru menyadari: Tuhan ingin saya belajar sesuatu dari proses yang sungguh tak nyaman ini. Banyak hal terjadi di balik waktu menunggu yang menyiksa itu. Saya merasakan betul, Tuhan memakai masa itu untuk memproses saya. Mempersiapkan saya untuk pada akhirnya ditemukan oleh pasangan - yang telah Ia sediakan untuk saya.

Ini kabar baiknya: akhirnya saya menikah.

Di usia 33 tahun. Delapan tahun jaraknya dari impian masa muda saya, menikah di usia 25 tahun. Jika ada satu hal yang bisa saya katakan dari pengalaman menunggu itu, ialah ini: Tuhan benar menjawab doa.

Selama menunggu dan menggumuli pasangan hidup, inilah 3 hal yang secara khusus saya minta dalam doa dan puasa saya:


1. Tunjukkan Jodoh Saya

Saya meminta Tuhan untuk menunjukkan, siapa jodoh saya. “Tuhan, Engkau bisa menunjukkan siapa jodoh saya melalui penglihatan atau lewat mimpi.” Mustahil? Mungkin terdengar begitu. Tapi saya memberanikan diri untuk meminta apa yang saya minta itu. Dan, Tuhan benar-benar menunjukkannya pada saya. Dalam mimpi, saya melihat sesosok laki-laki berkacamata. Siapa laki-laki itu, saya tidak tahu – apalagi kenal.

Hingga suatu ketika, seorang teman mengatakan ada yang menitipkan salam untuk saya. “Jangan hanya titip salam, datang ke sini,” begitu tanggapan saya ketika itu. Benar saja, beberapa minggu kemudian, seorang laki-laki datang menemui saya. Selama mengobrol, saya mengamati wajahnya sambil mengingat-ingat. Saya merasa pernah melihat laki-laki ini. Kemudian saya tersadar, dialah lelaki berkacamata yang pernah datang dalam mimpi saya. Yudi, demikian namanya. Setelah kunjungannya siang itu, kami intens berkomunikasi lewat telepon.

Permintaan pertama terpenuhi. Namun saya masih belum merasa benar-benar yakin, karena ada dua permintaan lagi yang masih saya tunggu jawabannya dari Tuhan.

Baca Juga: Kalijodo, Jodoh Kali Ya? Inilah 3 Penghambat Utama yang Menyebabkan Jodoh Tak Kunjung Datang



2. Ibunya yang Menyatakan Cinta

Siang itu, Yudi menelpon. Namun ternyata, sambungan telepon kali ini tak sekadar untuk say hello seperti biasa. Ada yang istimewa: ibunya meminta untuk bicara dengan saya.

Dari percakapan dengan ibunya, baru saya ketahui bahwa selama ini ternyata Yudi hampir tak pernah berkomunikasi secara intens atau menjalin hubungan khusus dengan wanita. Dan kini, ketika sang ibu melihat tanda-tanda kedekatan Yudi dengan seorang wanita, ia tak ingin membuang kesempatan.

“Nak Lia mau ya, menikah dengan Yudi?” tanya Ibu kepada saya.

Saya tak bisa memberi jawab. Pertama, karena tak menyangka, tentu saja. Kedua, karena saya langsung teringat, inilah jawaban dari permintaan kedua yang selama ini saya doakan. Saya ingin ibunya yang meminta saya, yang menyatakan cinta untuk anaknya.

Tak langsung mengiyakan, tak juga menolak, saya mengambil waktu untuk sharing dengan rekan doa saya tentang konfirmasi dari Tuhan ini. Teman saya menyarankan untuk lebih serius menjalin komunikasi, sambil menunggu jawaban Tuhan atas permintaan saya yang ketiga – yang terakhir.

Baca Juga: Rahasia di Balik Penolakan Cinta oleh Wanita: 6 Alasan yang Tak akan Mereka Katakan kepada Para Pria



3. Usianya Lebih Tua

“Lia, kamu ulang tahunnya kapan?” tanya Yudi ketika kami bercakap-cakap di telepon siang itu.

“21 April 1976,” jawab saya. “Kamu, kapan?” saya balik bertanya, sembari berharap-harap cemas menunggu jawab. Jika ternyata ia lebih muda, itu berarti saya kembali harus menunggu. Karena yang saya nantikan adalah seorang laki-laki yang usianya lebih tua daripada saya.

“24 Juli 1975,” jawab Yudi.

...

...

Dan saya tak bisa merasa lebih lega lagi.

Tuhan tidak bergurau dengan saya. Ia menyediakan seorang laki-laki - tepat seperti apa yang saya minta. Tiga permintaan saya, yang amat spesifik itu, Ia penuhi semua. Akhirnya, tanggal 5 Juli 2009 kami menikah. Saya 33 tahun dan Yudi 34 tahun.


[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Kisah di atas adalah pengalaman saya. Sebagaimana setiap pengalaman, tentu sifatnya amat pribadi, tak bisa disamaratakan untuk semua orang. Setiap kita berproses dengan cara yang unik, demikian juga dalam hal menunggu hadirnya pasangan hidup. Namun demikian, inilah beberapa hal yang bisa saya bagikan dari pengalaman saya menunggu:

1. Berdoa secara khusus untuk pasangan hidup yang sepadan.

2. Manfaatkan status lajang dengan baik. Perluas pergaulan. Ikuti kegiatan yang bermanfaat.

3. Dalam mencari pasangan, penampilan fisik bukanlah ukuran utama.

4. Hubungan harus memiliki dasar kuat: visi dan misi hidup yang sama. Jangan hanya mengandalkan perasaan - yang amat mudah berubah.

5. Jangan tergesa-gesa!

Bergumul dengan Tuhan adalah cara terbaik untuk menemukan pasangan hidup yang tepat untuk kita.



Baca Juga:

Kamu yang Masih Menunggu Jodoh yang Tepat, ini Penting Untukmu!

Bagi Kamu yang Berusia 20-30 Tahun dan Belum Punya Pasangan, inilah 7 Alasan untuk Tetap Single

Belum Juga Menemukan Pasangan Hidup? Jangan Menyerah, 8 Langkah ini akan Memberikan Harapan Baru Untukmu!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Gelisah karena Jodoh Tak Kunjung Datang? Saya Pernah Mengalaminya. Inilah Kisah Saya: Menemukan Pasangan Hidup di Usia Lebih dari 30 Tahun". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Elisa Aprilia | @elisaaprilia

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar