Gara-Gara Warisan, Saya Mengusir Anak Kandung. Kejam demi Kebaikan!

Parenting

alarab.co.uk

711
Sebuah tulisan tentang keluarga yang terpecah gara-gara warisan yang dikisahkan oleh Jevin Sengge

Beberapa tahun yang lalu, saya mengusir anak saya sendiri keluar dari rumah kami. Sejak kejadian itu, saya mendapat banyak tanggapan yang kurang baik dari orang-orang, yaitu dari teman, tetangga bahkan saudara dan keluarga besar sendiri saya sendiri.

Orang-orang menganggap saya terlalu berlebihan. Kata mereka saya bermasalah dengan pengontrolan emosi saya, tidak dewasa dan tidak bijak sebagai orangtua.

"Apakah memang demikian?"

Memang saya mengusir anak kandung saya beserta isteri dan anak-anaknya; bahkkan saya menganggap dia bukan lagi anak keturunan saya. Singkatnya, saya menghapus dia dari silsilah keluarga.


i2.prod.mirror

Saya telah bulat dengan keputusan saya waktu itu. Saya usir anak saya dan kabarnya dia sudah pindah ke Pulau Kalimantan. Saya tidak lagi ikut campur dengan urusan hidupnya. Saya harap dia sungguh belajar banyak dari kejadian yang ia alami.


Saya menjaga keutuhan keluarga

Kejadiannya sebenarnya sudah berlangsung 4 tahun yang lalu. Ketika itu, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah dokumen tentang permohonan pergantian nama kepemilikan tanah dan rumah. Saya heran. Sejak kapan saya melakukan permohonan pergantian ini? Saya merasa curiga dan kecurigaan saya itu mengarahkan saya pada sebuah nama, yaitu nama anak saya sendiri.

“Apa yang sedang kamu rencanakan?” tanya saya ketika memanggil dia untuk bertemu di rumah. Saat itulah dia mengaku bahwa secara diam-diam dia bakal mengganti dokumen kepemilikan rumah dan tanah dengan namanya sendiri.

Saya bukan orang yang kaya. Saya hanya punya beberapa warisan tanah dan rumah di beberapa tempat. Itu pun merupakan warisan turun-temurun keluarga saya. Warisan itu tidak dimaksudkan untuk saya gunakan sendiri, namun sesuai dengan kesepakatan keluarga semua anggota keluarga akan mendapat bagian atau keuntungan yang sama rata.

“Kalau tanah dan rumah itu diberikan kepada kamu, lalu bagaimana dengan 9 saudaramu yang lain?” tanya saya. Dia hanya terdiam.

Baca juga: Karena Warisan, Anak Tega Gugat Ayah yang Berusia Senja. Jangan Harta Memecah Keluarga, Bijak Mewaris, Ini Kiat Orangtua Saya


Seiring dengan berjalannya waktu, secara diam-diam anak saya masih terus mengusahakan niatnya. Dia masih ingin menguasai rumah dan tanah seolah-olah orang yang haus akan harta-benda. Saya bagi saya secara terbuka dia meminta warisan dari orangtua sebelum orangtuanya tiada. Ini adalah sebuah penghinaan.

Melihat betapa besar niat jahatnya ini, maka saya memutuskan untuk mengusirnya seperti yang sudah saya ceritakan di atas. “Jangan anggap papa sebagai papamu lagi. Jangan menginjakkan kakimu di rumah ini lagi. Jangan ada tegur sapa lagi di antara kita.” Hampir saya menampar dia kalau saja tidak ditahan oleh anak-anak saya yang lain.

Semua kejadian itu memang disaksikan oleh anak-anak saya yang lain. Hal itu saya lakukan sebenarnya bukan untuk mempermalukan anak saya, melainkan untuk menjaga keutuhan keluarga.

Setiap anggota keluarga tidak boleh egois atau mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Yang namanya keluarga itu harus satu penanggungan. Kerukunan keluarga adalah hal yang utama. Pemecah-belah harus segera disingkirkan, apalagi jika materi digunakan untuk alat memecah-belah.


Salah memilih pasangan hidup

Beberapa tahun belakangan ini saya menemukan sebuah realita lain. Haus akan harta warisan ternyata bukan hanya kesalahan anak saya sendiri. Sikapnya yang seperti itu ternyata juga dipelopori oleh isterinya. Isterinya adalah orang yang mendorong dia untuk melakukan hal demikian. “Terkutuklah menantu itu!” geram saya.

Dibalik senyum manis dan perhatiannya yang baik selama ini, ternyata menantu saya ini punya rencana yang jahat atas keluarga. Saya sungguh menyesali hal itu. Kalau tahu seperti itu dari awal, saya tidak akan menyetujui pernikahan mereka. Dia hanya mencintai harta, bukan sungguh-sungguh mencintai anak dan keluarga saya.

Baca juga: Memilih Istri yang Tepat, Cukup Perhatikan Tiga Kriteria Ini Saja!


Orang bilang saya jahat

Banyak orang yang mengatakan bahwa saya adalah orangtua yang jahat. Saya mengusir anak saya sendiri, bahkan saya tidak mau mengenalnya lagi. Perkataan itu kemungkinan keluar dari mulut orang-orang karena mereka tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Tak apalah. Semoga suatu waktu nanti mereka tahu alasan dari tindakan saya.

Menurut saya, orang-orang itu mungkin harus memosisikan dirinya di tempat saya agar dapat mengerti alasan saya. Mereka yang pernah mengalami kejadian yang sama dengan saya akan lebih mudah memahami. Mereka tahu bahwa yang terjadi itu bukanlah sebuah persoalan yang tidak mudah. Mereka akan paham bahwa demi sampai kepada keputusan seperti itu, saya perlu waktu yang panjang.

Sering kali saya memukul diri saya sendiri jika mengingat apa yang terjadi pada anak saya. saya merasa sangat menyesal. Saya tahu, ini bukan kesalahan anak saya semata. Ini juga merupakan kesalahan saya.

Sebagai orangtua, saya mungkin sudah gagal mengajari dia tentang nilai-nilai kepedulian dan kasih.

Saya sering berkata, “Apakah keputusan saya ini jahat, ya Tuhan?” Saya takut kemudian hari Tuhan menghukum saya beserta keluarga saya. Harapan saya cuma satu yaitu bagaimana keutuhan keluarga tetap terjaga dan semua saudara saling mengasihi. Ini lebih penting dari pada memperebutkan harta dan warisan di dalam keluarga.

Semoga Tuhan masih berbelas-kasihan dan mengampuni kami semua.


Ingin membaca artikel-artikel menarik lainnya? Klik di sini:

Bukan Materi, Inilah Warisan Keluarga Paling Berharga yang Saya Miliki
4 Bentuk Warisan Berharga, Namun Tak Pernah Diperebutkan. Orangtua, Siapkan Hal-hal Ini demi Masa Depan Anak-anak


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Gara-Gara Warisan, Saya Mengusir Anak Kandung. Kejam demi Kebaikan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar