Gaduh di Media Sosial: 5 Perilaku Netizen yang Menghancurkan Kedamaian Hidup

Reflections & Inspirations

photo credit: The Ladders

475
Rasa ingin tahu memang tak bisa ditahan. Tapi, perlu kehati-hatian untuk berkomentar. Yang kita perlukan adalah kebijaksanaan agar tak jatuh pada penghakiman.

Perceraian, perselingkuhan, orang ketiga, lalu menghubungkannya dengan politik, korupsi, apalagi ya? Mmm.. Agama. Ya, agama. Itu menarik. Saya ingin sekali menuliskan sesuatu tentang hal-hal ini. Mengaitkannya, lalu membumbuinya. Pasti sangat “enak” ketika disebar di media sosial. Bagaimana tidak, itulah yang sedang dicari-cari para netizen masa kini. Yang sensasional dan kontroversial.

Tapi, Saya berhenti sejenak. Saya memilih sekadar membaca dan tak mau banyak berkomentar.

Lalu, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?

Diskusi saja deh. Ya, akhirnya, saya memilih untuk berdiskusi dengan seseorang. Saya memilih berdiskusi dengan guru saya, melalui telepon. Ya, ia saya sebut sebagai guru kehidupan. Itulah mama saya.

Saya menanyakan pendapat beliau tentang berita yang sedang viral saat ini, tentang perceraian itu loh. Dengan tenang beliau menjawab dalam bahasa Nias.

"Na lo fanaha todo, ahori alua fefu zimane da’o" (Artinya: kalau tidak ada pengendalian diri, semuanya bisa terjadi).

Wah, betul juga kataku. Kalau kita tidak mengendalikan diri, apa pun bisa terjadi. Apalagi kalau dihubungkan dengan masalah rumah tangga. Jika dua insan tak bisa mengendalikan diri. Apa saja bisa terjadi. Pengendalian diri memang sangat diperlukan, di tengah dunia yang menawarkan nilai kebebasan yang vulgar ini.

Selain dalam soal relasi, fungsi pengendalian diri juga berlaku dalam hal bermedia sosial

Apalagi ketika menanggapi kegaduhan yang sedang terjadi saat ini. Alih-alih ingin bersikap bijaksana, namun tanpa sikap pengendalian diri, sikap bijaksana itu malah bisa semakin memperkeruh suasana.

Rasa ingin tahu memang tak bisa ditahan. Tapi, perlu kehati-hatian untuk berkomentar. Yang kita perlukan adalah kebijaksanaan agar tak jatuh pada penghakiman. Saya ingat perkataan St. Matthew,

"Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi oleh Sang Pencipta Kehidupan. Sebab sebagaimana kalian menghakimi orang lain, begitu juga Dia akan menghakimi kalian. Dan ukuran yang kalian pakai untuk orang lain, akan dipakai juga oleh Dia untuk kalian. Mengapa kalian melihat secukil kayu dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kalian perhatikan?

Lalu, apa yang saya pelajari? 5 perilaku netizen yang mencemaskan ini:

photo credit: The Ladders

1. Kita lebih suka mempergunjingkan berita yang abu-abu

Di area abu-abu, imajinasi kita nampaknya lebih liar. Liar karena bisa merangkai beragam spekulasi. Spekulasi itu selalu menarik. Jika ada yang mengatakan pada kita, tunggu saja faktanya! Rasanya, itu butuh waktu. Kita tidak mau menunggu. Akhirnya, kita memilih untuk memuaskan ketidaksabaran itu dengan dugaan-dugaan. Nah, dugaan-dugaan atas berita yang abu-abu lebih mendapat tempat di hati masyarakat. Dugaan yang abu-abu itu ditulis dan tersebar dengan begitu cepat. Bukan hanya cepat, tapi “sangat” cepat. Media sosial adalah pasar yang tepat untuk menyebarkan tulisan bersifat abu-abu itu. Lalu bagaimana dengan kita? Kita yang menggunakan medsos, mereka sebut sebagai pembca yang polos. Baca, lalu menarik kesimpulan.


2. Rasa penasaran kita lebih besar daripada rasa peduli kita

Mencari, menulis, lalu menyebarkannya di media sosial. Sesungguhnya itu dilandaskan rasa penasaran atau kepedulian? Kalau boleh jujur, rasa penasaran kita bisa melebihi rasa peduli kita. Sedikit sekali orang yang kemudian menaruh empati terhadap masalah orang-orang yang sedang dipergunjingkan tersebut. Kita lebih banyak mencari informasi untuk sekadar memuaskan rasa tahu. Sampai di situ saja. Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, mana yang lebih banyak: menghujat atau mendoakannya?


3. Kita suka menyebar sesuatu yang kita sendiri belum yakini

Ini cuma dugaan. Kita masih menunggu konfirmasi dari yang bersangkutan. Pertanyaannya: dugaan kok disebar? Kita yang tidak tahu kebenarannya, berlagak sok tahu. Akhirnya, virus semacam ini mewabah ke semua masyarakat. Menyebarkan berita yang masih belum diyakini. Apa bedanya menyebarkan dugaan yang tak berdasar dengan menyebarkan gosip? Hmm… coba pikir sendiri.


4. Berkomentar berdasarkan judul saja

“Gila. Ini tentang agama. Ini tentang politik...” Ini komentar yang saya baca dari seorang netizen, terdapat di kolom komentar sebuah artikel. Saya percaya, orang itu belum membaca beritanya, makanya komentarnya juga ngaco. Ada juga yang belum baca isinya, komentarnya udah panjang banget. Bahkan komentarnya bisa jadi satu artikel sendiri. Ini kebiasaan yang tidak baik. Berkomentar tanpa membaca. Karena itu, mari dong kita budayakan membaca sebelum berkomentar. Jangan sampai kita memperkeruh suasana dengan komentar yang tak sesuai dengan isi artikel.


5. Isi tak seindah judul

Hal yang paling menjengkelkan saat membaca artikel di media sosial adalah ketika Isi artikel tak seindah judulnya. Kecewa banget pasti. Udah habiskan waktu dan kuota. Ternyata eh ternyata, tak ada isinya. Karena itu, tolong dong, media-media tulislah artikel yang berbobot. Judul dan isi harus selaras. Itulah media yang sehat.

Kesimpulannya: Para Netizen, marilah kita bersama-sama menyebarkan berita positif di tengah kegaduhan yang ada. Mari menyebarkan berita faktual dibanding berita khayal. Mari menggunakan media sosial dengan semangat membangun bukan merusak.

Baca juga: Dari 10 Tipe Kepribadian Berdasarkan Cara Membaca Media Online Ini, yang Manakah Dirimu?

Jangan asal tulis habis itu share. Pikir dulu!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Gaduh di Media Sosial: 5 Perilaku Netizen yang Menghancurkan Kedamaian Hidup". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yunus Septifan Harefa | @yunusharefa

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar