Menderita Kelainan Tulang Belakang Menahun, Inilah 7 Hal yang Membuat Saya Mampu Berdiri Tegak, Menghadapi, dan Melaluinya

Reflections & Inspirations

[Image: balletforadults.com]

2.9K
Saya menderita scoliosis. Lengkapnya: Scoliosis lumbalis konvecsitas ke kiri.

Saya menderita scoliosis.

Lengkapnya:

Scoliosis lumbalis konvecsitas ke kiri.


Meskipun telah lama sakit-sakitan, Saya baru mengetahui adanya pembengkokan pada tulang belakang ketika menginjak umur 19 tahun. Keluhan nyeri pinggang mulai saya rasakan sewaktu memasuki kelas SMA 2 pada tahun 2003. Kesehatan yang semakin menurun menyebabkan saya harus melepaskan kesempatan menjadi bagian dari kelas siswa unggulan ketika akan memasuki kelas 3 SMA. Tidak semua orang bisa menjadi siswa unggulan di SMA negeri 1 di kota kami, karena harus melewati ujian seleksi dan pesertanya meliputi semua murid dari sekolah-sekolah terpilih. Dari 500 siswa, hanya sekitar 30 orang yang bisa masuk kelas tersebut. Pihak sekolah sangat menyayangkan keputusan saya, tetapi mereka juga memaklumi keadaan saya saat itu.

Saya tidak kuat berjalan jauh. Saya tidak tahan dengan kelelahan maupun kepanasan, karena bisa menimbulkan gatal-gatal di sekujur badan. Belum lagi nyeri pinggang yang begitu sering datang mengunjungi saya. Semua sangat menyusahkan saya untuk menjalani aktivitas keseharian. Berat badan saya juga terus menerus berkurang. Saat memasuki jenjang kuliah, kesehatan saya sudah sedemikian menurunnya, sampai-sampai ketika hendak menaiki tangga menuju ruang kelas di lantai 2 pun saya harus dipapah oleh teman. Namun saya tetap bertahan. Saya berhasil menyelesaikan perkuliahan, walau kesehatan semakin drop hingga untuk berjalan pun saya begitu kesusahan. Kaki saya sepertinya selalu mendadak tidak bertenaga, sehingga saya bisa seketika langsung terjatuh dan meninggalkan bekas memar di lutut.

Kabar baiknya, sejak pertengahan tahun 2015 perlahan saya mulai pulih, bahkan dapat dikatakan sudah kembali seperti orang normal pada umumnya. Saya amat bersyukur untuk hal ini.

Lewat artikel ini, saya ingin berbagi kepada semua orang di luar sana yang mungkin saja mengalami kejadian ataupun masalah serupa. Semoga kiat-kiat yang saya kumpulkan sepanjang perjalanan saya melawan sakit hingga bisa memperoleh kesembuhan seperti sekarang bisa bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mengalaminya.


1. Jangan Pernah Menyerah

[Image: blogsociety.com]

Sebagian orang, bila mengalami sakit dengan sedikit sekali [jika tidak bisa dikatakan tanpa] harapan untuk sembuh, mana pula semakin memburuk dari hari ke hari, pasti di dalam benak ada pikiran untuk menyerah saja, melepaskan kehidupan ini.

Ya, saya juga termasuk salah satu orang yang pernah berpikir demikian.

Seringkali saya merasa kehidupan ini tidak adil. Merasa bahwa hidup saya di dunia ini sangat tidak berguna, hanya merepotkan orang sekitar saja. Bahkan, karena sakit yang menahun ini, saya berulang kali mendapatkan tuduhan bernada olok-olok bahwa ini hanya sekadar pura-pura; bahwa sesungguhnya saya ini hanyalah seorang pemalas saja. Olokan itu, sedihnya, datang dari orang terdekat. Saya amat terluka. Tentu saja, siapa yang tidak terluka bila mendapatkan tuduhan sekejam itu? Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiran saya seperti apa yang mereka tuduhkan itu.

Baca Juga: Kamu Berharga, Apapun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apapun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal inilah Buktinya

Akhirnya saya mencoba mengubah pola pikir, “Bisa saja, melalui sakit ini saya diajarkan untuk memahami rasa sakit yang dialami orang-orang di luar sana, yang mungkin malah lebih parah keadaannya daripada saya. Dengan keadaan sekarang, setidaknya saya beruntung, karena tidak lumpuh total.” Dengan pemikiran seperti itu, semangat hidup saya bangkit kembali, dan saya putuskan, saya tidak akan menyerah begitu saja.



2. Mencari Pengobatan dari Sang Ahli

[Image: quotefancy.com]

Hal ini sangat penting tentunya bila kita mengharapkan kesembuhan. Hanya ingin sembuh tanpa tindakan nyata sama saja seperti kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya. Saya pribadi sudah menjalani pengobatan ke mana-mana, dari medis, non medis, semua pernah saya coba. Setiap ada yang merekomendasikan suatu pengobatan yang kabarnya bagus, saya dapat dipastikan akan segera mencobanya. Segala cara pengobatan sudah saya upayakan, bukannya membaik, sakit saya malah semakin memburuk. Saya sempat merasa putus asa dan hendak menyerah saja. Tetapi saya kembali diingatkan: Sekali lagi! Jangan menyerah!

Baca Juga: Bisakah Hari yang Buruk Menjadi Lebih Buruk?



3. Jangan Menutup Diri Rapat-Rapat

[Image: expressen.se]

Sebagian orang yang mengalami sakit menahun biasanya akan merasa malu. Malu kepada orang lain, dan yang paling berat, kepada diri sendiri. Walaupun demikian, jangan menutup diri rapat-rapat! Semakin kita tertutup, semakin memburuk pula penyakit itu. Carilah seseorang ataupun beberapa orang yang bisa menjadi teman curhat. Jangan memendam semuanya sendirian! Setelah dibagi kepada orang yang tepat, beban pikiranmu akan menjadi lebih ringan. Bukan kebetulan jika saya dianugerahi Tuhan dengan seorang mama yang sangat kuat dan dengan luar biasa mendukung saya, juga seorang sahabat yang selalu mensupport saya.

Baca Juga: Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin



4. Mengenali dan Memaafkan Diri Sendiri dan Masa Lalu

[Image: quotefancy.com]

Mungkin terdengar konyol, tetapi ketahuilah, ini poin terpenting dalam proses penyembuhan saya.

Suatu ketika, saya membaringkan badan saya yang lemah ini di kasur. Merasa begitu lelah akan kehidupan ini, saat itu saya sempat berpikir, alangkah baiknya jika saya tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Entah bagaimana, seketika itu juga saya tiba-tiba teringat akan perkataan seseorang yang pernah mengobati saya, “Kamu pernah mengalami trauma ketika berumur 13 tahun.”

Saya tidak ingat trauma apa yang dimaksud oleh orang tersebut. Sempat terbersit niat untuk menjalani pengobatan hipnoterapi untuk mengetahui apa sebenarnya trauma masa lalu itu. Akan tetapi, karena biaya yang menurut saya sangat mahal dan saya tidak ingin membebankan keluarga lagi, niat itu saya urungkan. Sampai akhirnya saat berbaring itu, saya mencoba mengenang kembali masa kecil saya yang penuh dengan kebahagiaan. Saya berasal dari sebuah keluarga yang harmonis, meskipun keadaan ekonomi pas-pasan, kami sekeluarga hidup dengan bahagia, penuh canda dan tawa. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya, secepat membalikan telapak tangan, suasana bahagia berubah menjadi suasana penuh keributan. Saat itu, keadaan ekonomi keluarga membaik, namun sikap papa mulai berubah. Papa yang sebelumnya tidak pernah memarahi saya, tiba-tiba menjadi sosok yang sangat menakutkan. Setiap hari rumah penuh dengan keributan, papa mama selalu bertengkar.

Mungkin karena kelelahan berusaha mengingat-ingat masa lalu, saya jatuh tertidur. Dalam tidur itu, saya bermimpi. Saya melihat versi kecil diri saya sedang bermain di sebuah taman bermain, berlari dan terbang. Mama mengejar di belakang sambil mengingatkan agar saya tidak berlari terlalu cepat. "Awas, nanti terjatuh!" teriak Mama. Karena suasana hati yang senang, saya tidak begitu menghiraukan mama, dan tiba-tiba, entah bagaimana saya terjebak di dalam air mancur. Mama berteriak histeris. Saya berhasil dikeluarkan, namun berubah menjadi gila, anak kecil yang gila dan linglung. Mama menangis semakin keras. Dalam kesedihannya, ia mencoba menyembuhkan saya, membawa saya berobat kemana-mana. Akhirnya saya berhasil disembuhkan. Mimpi saya berlanjut dengan latar tempat yang berbeda. Kali ini saya bermimpi sedang berada di sebuah rumah, rumah itu berantakan seperti kapal pecah, barang-barang berserakan di mana-mana. Kemudian saya terbangun.

Mimpi serupa terus saya alami selama 3 hari berturut-turut. Saya jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud dari semua mimpi itu? Saya kemudian mencoba merenungkan kembali perjalanan hidup saya. Satu kejadian yang paling membekas di pikiran dan hati saya adalah suatu hari ketika terjadi pertengkaran hebat antara papa dan mama. Karena tidak tahan lagi akan keributan yang terjadi di dalam rumah, saya mengambil sebuah pisau, mengarahkannya ke perut saya, lalu berteriak dengan lantang kepada orangtua saya, “Jika kalian terus bertengkar, lebih baik saya mati saja!” Kakak, yang melihat tindakan nekat saya itu langsung dengan cepat merebut pisau dari tangan saya. Saya baru sadar, ketika itu umur saya 13 tahun!

Seketika semua menjadi jelas bagi saya. Mimpi-mimpi tersebut menyadarkan saya akan sebuah kenyataan yang selama ini tanpa sadar tertutup dan terkubur jauh di dalam diri saya. Saya tidak ingin mengingat hal-hal buruk di masa lalu, tetapi semua itu malah membuat kesehatan saya semakin buruk. Dan, meskipun saya tidak pernah dengan sengaja mengingat-ingat hal tersebut, pikiran saya selama ini selalu saja tidak tenang.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengajak pembacanya untuk memaafkan masa lalu. Baru memahami apa makna sesungguhnya dari artikel tersebut, saya pun mulai mensugesti diri sendiri, “Saya menerima dan sudah memaafkan masa lalu saya. Saya juga memaafkan semua orang yang pernah menyakiti saya.” Saya terus mengulangi kalimat-kalimat tersebut sampai benar-benar mendalami dan menyelaminya. Keadaan emosi saya berangsur-angsur mulai stabil. Saya juga terus menjalani pengobatan fisioterapi dan olahraga ringan hingga akhirnya memperoleh kesembuhan seperti sekarang. Semua itu memakan waktu 1 tahun.

Bila kamu sudah menjalani semua pengobatan namun tidak kunjung mendapat kesembuhan, cobalah untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Maafkan masa lalumu, maafkan orang-orang yang pernah menyakitimu, dan terimalah kenyataan kehidupanmu saat ini.

Mudah-mudahan itu semua akan membantu proses penyembuhanmu.

Baca Juga: Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami



5. Berdoa

[Image: shutterstock.com]

Berdoa merupakan hal yang penting, apapun keyakinan spiritualmu. Berdoalah, sampaikan niatmu dengan khusyuk. Setiap harapan baik yang kita panjatkan, mudah-mudahan akan mendapatkan respons yang baik pula, meskipun terkadang tak semua langsung terwujud. Tetapi setidaknya kamu, lewat berdoa, telah berupaya mendekatkan diri pada hal yang baik, daripada jatuh dalam keputusasaan.



6. Berbagi

[Image: tumblr.com]

Berbagi merupakan salah satu cara untuk mendamaikan hati. Tidak mesti melulu materi, kamu bisa berbagi cerita, atau kebaikan-kebaikan lain. Dengan berbagi kebaikan, secara tidak langsung kamu telah memupuk jodoh baik dan menyalurkan energi positif kepada dirimu sendiri.



7. Bermeditasi

[Image: everydaymindfulness.org]

Bermeditasi merupakan salah satu cara untuk menstabilkan emosi. Saat ini banyak orang mulai bermeditasi untuk mendapatkan manfaat kesehatan maupun untuk memperoleh ketenangan hati dan pikiran. Kamu bisa mencobanya. Sekarang, meditasi relatif lebih mudah untuk dipelajari karena telah banyak tersebar artikel maupun video tentang meditasi bagi pemula.

"Fisik sakit - batin kuat lebih baik daripada fisik kuat - batin sakit.

Fisik yang sakit dapat disembuhkan dengan batin yang kuat.

Batin yang sakit dapat melemahkan fisik kuat.

Batin yang kuat dapat diperoleh dengan melatih dan menjaga pikiran melalui meditasi."

- Ramani Wenny Lo


Demikianlah catatan perjalanan perjuangan saya melawan sakit yang telah menggerogoti badan selama ini. Mudah-mudahan bisa membantu teman-teman yang mengalami hal serupa dengan saya.

Jangan menyerah, karena harapan itu sungguh ada!



Baca Juga:

Setelah Lama Menikah dan Tak Kunjung Hamil, Saya Lakukan Bagian Saya untuk Memeriksa 7 Hal ini. Akhirnya Anugerah Kehidupan itu Diberikan kepada Saya

Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya

Tak Terbayangkan! Inilah 8 Alasan Wanita Bertahan dalam Hubungan yang Menyiksa



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menderita Kelainan Tulang Belakang Menahun, Inilah 7 Hal yang Membuat Saya Mampu Berdiri Tegak, Menghadapi, dan Melaluinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Lifin Ervika | @lifinervika

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar