Endorse Anak: Eksplorasi atau Eksploitasi? Pertimbangkan 2 Hal Ini Sebelum Memutuskan

Parenting

[Image: amybuelow.com]

2K
Dengan usianya yang masih begitu kecil, ketika saya mengambil keputusan untuk dirinya, motivasi untuk mengeksplorasi kemampuannya atau mengeksploitasinya demi keuntungan diri sangat tipis bedanya.

Suatu hari, seorang teman bermain dengan Pearl, anak saya, yang waktu itu masih berusia 8 bulan. "Iiihhh ... lucu banget sih kamu," begitu katanya sambil mencolek pipi Pearl. Kemudian dia melanjutkan, "Kayaknya Pearl cocok buat endorse produk bayi, dia lucu banget. Ga mau coba?" tanyanya pada saya. Saya hanya tersenyum menjawabnya.

Di kesempatan berbeda, seorang saudara bertanya, "Kok Pearl ngga pernah ikut kompetisi foto bayi? Lumayan loh [hadiahnya] kalau menang. [Uang] daftarnya pun nggak mahal."

Baca Juga: Bayi Bukan Boneka, Anak Bukan Mainan: 5 Etika Penting tentang Menjenguk Bayi dan Balita

Ketika Pearl lahir, tak pernah terlintas dalam benak saya tentang endorsement produk ataupun mengikutsertakannya dalam kompetisi foto bayi. Selain kami memang berfokus pada kesehatan Pearl, yang lahir prematur, saya pun tak pernah terpikir untuk memperkenalkan Pearl pada "karier" seperti itu. Sampai suatu kali saya menemukan akun dari seorang bayi lucu yang lahir di tanggal yang sama dengan Pearl. Dalam satu hari, akun tersebut mengunggah belasan foto si bayi dengan berbagai pose fotogenik, dengan latar belakang dan setting profesional. Berbagai produk dan toko online diperkenalkan di sana. Si bayi, bagai artis cilik, bergaya dengan pakaian yang trendi dan aksesoris senada.

Saya kemudian berpikir, akankah saya memperkenalkan Pearl pada dunia serupa?

Akhirnya saya mantap untuk memilih TIDAK. Bukan karena terlalu protektif terhadap anak. Juga bukan karena saya anti terhadap dunia fashion, saya juga suka mendandani Pearl. Namun ada beberapa pertimbangan yang menolong saya membuat keputusan tersebut.



Eksplorasi atau Eksploitasi

Bila suatu saat Pearl memilih dunia fashion karena dia memiliki ketertarikan dan dapat mengembangkan diri melaluinya, saya tidak akan melarangnya; saya akan mendukungnya sepenuh hati.

Akan tetapi dengan usianya yang masih begitu kecil, ketika saya mengambil keputusan untuk dirinya, motivasi untuk mengeksplorasi kemampuannya atau mengeksploitasinya demi keuntungan diri sangat tipis bedanya.

Saya tak ingin mengambil keputusan atas dasar ambisi sebagai orang tua. Tapi menjaga diri atas nama eksplorasi bakatnya tak mudah dilakukan.

[Image: Huffington Post]

Saya juga membayangkan, bila dia besar nanti, profesi atau bidang apa yang akan dia pilih? Saya membayangkan bila suatu saat nanti dia memilih untuk menjadi relawan sosial di Afrika dan saya memaksanya untuk menjadi model semenjak usia sekecil ini, akankah pilihan saya baginya menjadi sesuatu yang mubazir? Tentu pilihan untuk memasukkannya dalam dunia model sejak dini tak akan sia-sia bila kelak dia memilih berkarier di bidang serupa.

Tapi siapa yang tahu pasti masa depannya?

Saya tidak mengecam orangtua yang mendorong anaknya menjadi model atau bintang iklan sejak kecil. Saya pun angkat dua jempol kepada seorang ibu yang berhasil menjadikan anaknya model kecil yang luar biasa. Seorang ibu yang mendorong dan mendukung anak perempuannya yang masih balita karena memang si anak suka melakukannya, bukan karena paksaan.

Selama si anak belajar mengeksplorasi kapasitas dan kualitas diri, maka orang tua telah berhasil untuk menjadi fasilitator yang baik.

Sementara ini, saya amati Pearl lebih cocok menjadi penyanyi, mengikuti jejak papanya, ketimbang menjadi model cilik. #eh

Baca Juga: Setiap Anak Istimewa. Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri



Memori atau Materi

Ada dua kisah sukses dari dua anak berbeda yang masih lekat di ingatan saya. Yang satu, sebelum lulus SD telah menguasai empat alat musik dan telah melewati ujian bersertifikasi internasional pada tingkatan tertentu untuk masing-masing alat musik tersebut. Bahkan, dia sering mengikuti kompetisi tingkat nasional dan internasional, dan menjadi juara pertama pada hampir semua kompetisi yang dia ikuti. Kisah yang lain adalah tentang seorang balita yang menjadi model andal. Tak kalah dengan model dewasa, ia mampu berpose dan bekerja secara profesional, bahkan mengatur sendiri kombinasi dan tema pakaian serta aksesoris untuk setiap sesi pemotretan. Modalnya ... empat lemari penuh dengan pakaian dan aksesoris, kebanyakan adalah produk dari klien.

Baca Juga: Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal Ini

Yang satu bermodalkan alat musik yang tak murah harganya namun mampu meraih hadiah kompetisi yang juga tak sedikit jumlahnya. Yang satu juga mendapat banyak barang berkualitas secara cuma-cuma yang kemudian digunakan untuk berkarya untuk memperoleh keuntungan yang lebih. Membaca ini mungkin kita berpikir bahwa materi adalah fokus dari segala kegiatan kedua anak ini. Terlepas benar atau tidak, begitulah pendapat beberapa teman yang pernah saya dengar.

Bila saya berhasil meng-endorse Pearl, saya yakin pasti kami akan mendapat keuntungan material.

Tetapi lebih dari sekadar materi, saya ingin mendorong Pearl melakukan sesuatu untuk membuat memori yang indah.

Saya rindu Pearl belajar untuk melihat setiap yang dia alami dalam proses hidupnya sebagai memori yang membangun dirinya untuk masa depan.

Saya tidak ingin Pearl belajar hanya untuk prinsip yang transaksional, memberi untuk mendapat.

Bila Pearl ingin belajar berbagai alat musik dan mengikuti berbagai kompetisi, saya ingin dia menikmati prosesnya dan mendapatkan pembelajaran yang penuh makna. Saya tidak ingin dia memainkan musik dengan hati yang jengkel karena mamanya memaksa.

Bila Pearl ingin belajar menjadi seorang model, saya ingin dia belajar menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. Saya tidak ingin dia berpose karena fee yang besar yang kemudian berpotensi menjadikannya tinggi hati.

Saya rindu Pearl belajar untuk bekerja keras dan mengasah diri, menciptakan memori positif yang membangun dirinya untuk masa depan.

Saya ingin dia menjadi insan yang tahu diri, bukan manusia yang serakah materi. Saya ingin dia mensyukuri keunikan diri, bukan mencari kepuasan dari trofi.
[Image: MactoPhotoz.com]

Tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Setiap orangtua pasti mengharapkan anaknya berhasil, menjadi orang yang berguna.

Baca Juga: Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak

Tak mudah, tapi mari berjuang, menjadi orangtua yang selalu mengingatkan diri untuk mendorong anak mengeksplorasi potensi diri dan menciptakan memori yang menolong mereka berbesar hati.



Baca Juga:

Bangga dan Cintalah pada Anak, Bukan Karena Medali atau Piala yang Berhasil Mereka Raih, tetapi karena Diri Mereka - Apa Adanya

Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya

Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Endorse Anak: Eksplorasi atau Eksploitasi? Pertimbangkan 2 Hal Ini Sebelum Memutuskan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar