Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak

Parenting

[Image: "Grown Ups" Paul Ripke]

7.2K
Banyak orangtua atau pasangan muda berpikir bahwa peran mereka sebagai orangtua adalah tetap, sama, sejak anak mereka bayi hingga menjadi dewasa nanti. Mereka tidak sadar bahwa peran mereka perlu berubah sesuai dengan perkembangan usia anak.

Suatu kali, terdengar perdebatan yang sangat keras antara seorang ibu dengan anak perempuannya yang berusia sekitar 25 tahun. Menjadi mengagetkan karena perbantahan tersebut berlangsung di tengah kerumunan banyak orang. Mereka sedang berada di tengah pasar, namun ibu dan pemudi ini bertengkar seakan mereka berada di dalam kamar, tanpa ada orang lain yang dapat mendengar dan memerhatikan mereka.

Sang ibu kelihatannya memberikan sebuah usulan yang kemudian ditolak oleh si anak. Tak lama kemudian, sang ibu mulai menghujani si anak dengan berbagai ancaman dan hinaan. Perlahan namun pasti, teguran dan kata-kata yang keluar dari mulut ibu itu semakin meluas dari topik awal pembicaran mereka. Kini, sang ibu memarahi si anak sehubungan dengan perilaku, kebiasaan, teman jalan, hingga tentang pasangan hidup. Kesalahan-kesalahan si anak sejak kecil satu per satu diungkap kembali. Tanpa sadar, ibu itu sedang menelanjangi anak perempuannya di depan umum.

Berbagai pertanyaan muncul di pikiran saya: Apa alasan sang ibu melakukan hal itu? Mengapa urusan yang sebenarnya sepele harus menjadi hal yang sedemikian besar? Tahukah ia bahwa anaknya itu sudah dewasa dan cara untuk mendidiknya berbeda dengan ketika anak itu berusia 5 tahun? Apakah ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya kepada anaknya itu? Tidakkah ia tahu bahwa masa mendisiplin anak sudah lewat baginya?

Kemungkinan besar, sang ibu tidak tahu bahwa masa-masa untuk mendisiplin anaknya sudah lewat. Dan, sama seperti ibu ini, banyak orangtua atau pasangan muda berpikir bahwa peran mereka sebagai orangtua adalah tetap, sama, sejak anak mereka bayi hingga menjadi dewasa nanti.

Baca Juga: Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya


Saya pun tidak pernah secara spesifik memikirkan hal ini hingga saya menghadiri sebuah seminar keluarga yang mengangkat sebuah topik: disiplin. Disiplin, bagi kebanyakan kita, adalah sebuah topik yang rumit dan sensitif. Dan karenanya, saya dan istri selalu terbuka terhadap masukan dan ide-ide tentang bagaimana cara menerapkan disiplin yang efektif.

Pasangan suami istri yang menjadi pembicara di seminar tersebut menyampaikan, banyak keluarga harus membayar harga yang sangat mahal karena salah mendisiplin anak. Dalam pelayanan mereka terhadap anak-anak SMA selama lebih dari sepuluh tahun, mereka berdua menyaksikan dengan getir, betapa banyaknya anak-anak muda yang memutuskan hubungan dengan orangtua mereka karena masalah disiplin. Mereka mendengarkan kisah demi kisah tentang bagaimana orangtua menegur anak-anak mereka dengan maksud dan kalimat yang secara harafiah benar, tetapi karena sikap yang salah, tindakan itu akhirnya hanya membuat jurang pemisah antara orangtua dan anak melebar dan semakin melebar.

Baca Juga: 4 Perkataan Orangtua yang Ternyata Malah Membuat Anak Semakin Menjauh


Ketika mendengarkan cerita mereka, ketakutan bahwa saya juga akan melakukan hal yang salah muncul dalam diri saya. Dan oleh sebab itu, poin berikut yang mereka bagikan menjadi begitu penting dan bermanfaat untuk saya sebagai orangtua. Sandra, sang istri, berkata bahwa sekitar dua puluh tahun lalu, ketika ketiga anak-anak mereka masih berusia di bawah lima tahun, sepasang suami istri membagikan sebuah pedoman yang mengubah cara pandang mereka terhadap parenting.

Suami istri tersebut mengajak mereka melihat parenting sebagai sebuah perjalanan dengan empat titik pedoman yang perlu diperhatikan. Dengan menjadikan usia anak sebagai patokan, demikian mereka membagi peran orangtua dalam hidup seorang anak:

Tahun-Tahun Disiplin: usia 1 – 5 tahun

Tahun-Tahun Pelatihan: usia 5 – 12 tahun

Tahun-Tahun Pembimbingan: usia 12 – 18 tahun

Tahun-Tahun Persahabatan: usia 18 tahun ke atas

[Image: www.npr.com]

Mendengarkan penjelasan tersebut, pikiran saya seakan terbuka. Saya seketika bisa mengerti dilema dan tantangan yang dihadapi oleh para orangtua, termasuk saya dan istri. Informasi ini bagaikan secercah cahaya yang menerangi sudut gelap dalam pikiran dan memampukan saya untuk mengurai kesemrawutan dalam cara pandang dan permasalahan yang dihadapi oleh kebanyakan orangtua.

Saya jadi mengerti mengapa ketika anak-anak masih kecil, sering sekali muncul waktu-waktu di mana semua yang kami lakukan hanyalah mendisiplin, mengoreksi, dan memberitahu mereka tentang apa yang bisa dan yang tidak bisa mereka lakukan. Hal-hal tersebut kami lakukan berulang-ulang, seakan tanpa henti. Dan itu masih berlangsung hingga sekarang, karena mereka masih berusia 3 dan 6 tahun.

Saya juga kemudian mengerti bahaya yang timbul bila orangtua salah memainkan peran mereka. Seperti kejadian di atas, banyak orangtua melalaikan peran untuk mendisiplin anak-anak mereka ketika anak-anak itu masih kecil. Mereka tidak sadar bahwa peran mereka sebagai orangtua perlu berubah sesuai dengan perkembangan usia anak.

Seperti yang terkadang masih saya lakukan, mudah bagi orangtua untuk memaksakan kehendak kepada anak-anak ketika mereka masih kecil. Kita bahkan bisa mengurung mereka kalau diperlukan. Kita tinggal menggendong anak kita dan menempatkan mereka di tempat yang kita inginkan. Akan tetapi, bila para orangtua ingin mendisiplin anak-anak setelah mereka beranjak remaja, setelah mereka memasuki usia SMP dan SMA, maka para orangtua itu hanya akan menyadari bahwa mereka sudah terlambat. Di masa itu, peran dan kesempatan orangtua untuk mendisiplin sudah lewat. Dan, semakin orangtua memaksakan keinginan untuk mendisiplin anak-anak mereka, semakin besar penolakan yang muncul dari dalam diri anak-anak tersebut.

Saya juga akhirnya mengerti, adalah berbahaya jika kita - sebagai orangtua - terlalu dini memainkan peran sebagai teman untuk anak-anak kita. Bila kita mencoba menjadi teman mereka dan berusaha untuk membuat mereka selalu merasa senang ketika mereka masih kecil, maka kita sedang merusak masa depan mereka. Bila kita ingin menjadi teman mereka ketika mereka berada dalam usia remaja, padahal di masa itu yang mereka butuhkan adalah nasihat dan bimbingan dari kita, maka kita sedang menjerumuskan mereka ke lubang bahaya.

Salah satu ketakutan yang menahan orangtua untuk mendisiplin anak-anak mereka ialah ketakutan bahwa anak-anak akan menjadi tidak sayang lagi kepada mereka. Ketika melihat pemberontakan remaja dan kekeraskepalaan mereka untuk melawan otoritas orangtua, tidak sedikit orangtua yang melunak dan menoleransikan prinsip dan pendirian mereka. Mereka menjadi takut kepada anak-anak mereka.

Sehubungan dengan disiplin, banyak orangtua yang tidak mau menerapkan disiplin kepada anak-anak mereka karena takut anak-anak itu tidak akan menyayangi mereka lagi. Tetapi mari pikirkan hal ini, mereka mungkin tidak sayang kepadamu saat ini, tetapi mereka akan menyayangimu nanti, ketika mereka dewasa. Dan nanti, adalah waktu yang lebih panjang dari saat ini.

[Image: deviantart.net]
"Sebagai orangtua, kita mendisiplin anak-anak karena kita lebih memilih mereka untuk menyayangi kita nanti, ketika mereka dewasa, daripada sekadar untuk saat ini saja." - Andy Stanley

Di masa remaja, anak-anak membutuhkan figur pribadi yang kuat, yang kokoh menghadapi segala penolakan dan pemberontakan yang mereka lakukan. Di masa remaja, anak-anak membutuhkan figur ayah ibu yang selalu menerima mereka, selalu mengasihi mereka. Di masa remaja, anak-anak ingin melihat bilamana mereka itu worth it untuk dikasihi, untuk diselamatkan. Lewat pemberontakan yang mereka lakukan, anak-anak remaja ingin melihat sejauh mana orangtua mereka akan berjuang untuk mempertahankan relasi yang ada. Dalam teriakan dan penolakan mereka, mampukah kita sebagai orangtua mendengar siratan pertanyaan mereka, "Dear Dad and Mom, am I worth fighting for?"

Baca Juga: 3 Langkah Efektif yang Harus Dilakukan oleh Orangtua yang Rindu Menjadi Sahabat bagi Anak Remajanya


Kerangka berpikir seperti ini memberikan saya panduan yang lebih jelas ketika saya melewati satu musim dan masuk ke musim kehidupan berikutnya. Tentu saja panduan di atas memiliki kemungkinan untuk tumpang tindih dalam hal usia, tergantung perkembangan tiap-tiap pribadi anak. Tetapi paling tidak, saya sekarang mengerti peran apa yang perlu saya jalankan saat ini, dan bahwa saya tidak perlu berputus asa bila waktu-waktu ini dipenuhi dengan usaha keras untuk memikirkan disiplin yang tepat untuk anak-anak saya. Pedoman di atas juga mengingatkan saya bahwa tidak lama lagi, kesempatan untuk menerapkan disiplin itu akan lewat. Dan saat itu, saya berharap agar anak-anak saya sudah mendapatkan disiplin yang cukup kuat untuk membantu mereka memasuki tantangan baru dalam hidup mereka.

Selamat berjuang, rekan-rekanku! Kamu tidak sendirian!


* Artikel ini merupakan bagian kedua dari rangkaian 6 tulisan tentang menerapkan disiplin pada anak. Artikel pertama dapat Anda baca di tautan ini.


Baca Juga:

Anak Bermasalah? Jangan-Jangan Akibat 5 Gaya Pengasuhan Anak yang Keliru Ini

Dari Saya, Tentang Menjadi Ayah: Membangun Kedekatan Emosional dengan Anak Lewat Hal-Hal Sederhana Setiap Hari

Para Penggemar Star Wars, Inilah 3 Warisan Berharga dari Darth Vader yang Harus Anda Ketahui agar Andar Dapat Menjadi Ayah yang Lebih Baik



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami dengan dua anak yang masih terus belajar untuk menjaga keseimbangan antara keluarga dan karir, antara hidup dengan fokus dan hasrat untuk mengambil setiap kesempatan yang ada.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar