Dunia Semakin Beringas! Mesum di Mal, Ngebut di Jalan, dan Main Hakim Sendiri. Apa yang Perlu Kita Perbaiki?

Reflections & Inspirations

[Image: pexels]

7.5K
Berpikir sebelum bertindak tetap merupakan langkah bijak. Bukankah begitu?

Ketika menghadiri resepsi pernikahan, seorang sahabat menunjukkan video seorang yang sedang dipukuli massa. Tampaknya dia habis ngebut di jalanan atau melakukan pelanggaran lalu lintas. Yang menyedihkan, aparat yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat, ikut melayangkan pukulan, padahal pengemudi itu sudah pasrah dan berserah sampai jongkok di jalan.

Keesokan harinya sahabat saya yang lain mengirimkan foto dan video sepasang remaja yang berbuat mesum di ruang ganti sebuah pusat perbelanjaan. Kali ini pun petugas keamanan di mal tersebut meminta kedua sejoli itu untuk meninggalkan fitting room tanpa sempat membereskan pakaian mereka.

Spontan kedua kasus yang di-upload di media sosial itu menjadi viral. Tanggapan netizen terbelah. Ada yang menulis mereka layak mendapat perlakuan semacam itu, biar kapok. Kelompok yang lain menganggap main hakim sendiri tidak layak dipertontonkan. Koran nasional bahkan menulisnya ‘tidak etis’.

Nah, ketika remaja kita mesum di mal, ngebut di jalan dan massa maupun aparat main hakim sendiri, apa yang perlu kita perbaiki?

Paling tidak ada 3 hal yang perlu kita jadikan introspeksi:



1. Remaja Kita Semakin Berani

Gambar diri yang terkorosif, pengaruh lingkungan yang begitu masif, keluarga yang permisif, atau gabungan ketiganya, membuat remaja kita melakukan tindakan-tindakan yang destruktif.

“Pergaulan yang buruk,” kata St. Paul, “merusak kebiasaan yang baik.” Hal-hal yang dulu dianggap tabu kini dengan berani dilakukan di tempat-tempat terbuka.

Baca Juga: Apakah Persahabatan Anda Membangun atau Menghancurkan? Periksalah 7 Hal Ini



2. Dunia Semakin Beringas

Perbuatan mesum di mal, ngebut di jalan dan pelanggaran lainnya, memang tidak seharusnya dilakukan. Namun, penanganan terhadap kasus itu tidak boleh dengan cara kekerasan.

Negara kita memiliki hukum. Biarlah hukum yang menjadi panglima. Seberapa sering kita membaca maling - ternak dan kendaraan bermotor - yang dihakimi massa, bahkan ada yang dibakar hidup-hidup.

Baca Juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini



3. Penguasa Dianggap Melakukan Pembiaran

Karena disodori berita atau menyaksikan sendiri orang-orang tertentu yang melakukan pelanggaran hukum - biasanya yang kelas kakap - dihukum ringan atau bahkan dibebaskan, muncullah ‘hakim jalanan’.

Mereka antipati terhadap pranata hukum sehingga skeptis dan akhirnya agresif.

Jika hal ini dibiarkan, main hakim sendiri akan terus berlangsung. Sikap dan tindakan kapolri yang responsif patut diacungi jempol. Orang yang ugal-ugalan di jalan - seperti yang biasa dilakukan di negara maju - dibuat kapok bukan dengan dipukuli, tetapi dicabut SIM-nya dan tidak boleh mengendari mobil dalam jangka waktu yang cukup lama.

Baca Juga: Tragis! Teman Saya Harus Menerima Penghakiman akibat Kesalahan Orangtuanya. Inilah 3 Pelajaran Berharga dari Peristiwa itu


Apa yang perlu kita lakukan?



1. Introspeksi

Siapa yang perlu melakukan introspeksi? Kita semua.

Kejahatan atau pelanggaran muncul bukan hanya karena satu faktor saja tetapi perlu kita lihat dari multifacet.

Remaja yang dibiarkan pacaran terlalu dini jelas merupakan tanggung jawab orangtua. Perilaku yang mengumbar nafsu sebelum waktunya, jelas tanggung jawab remaja yang bersangkutan.

[Image: Passion Connect]

Peran diri sendiri, orangtua, dan lingkungan - termasuk sekolah - perlu ditingkatkan. Waskat - pengawasan melekat - perlu dijadikan gaya hidup. CCTV pribadi - yang melekat pada setiap orang - jelas yang terbaik. Untuk itu, nilai-nilai ilahi perlu ditanamkan sejak usia dini.

Baca Juga: Awas! 9 Perilaku Orangtua yang Terlihat Sepele ini Ternyata dapat Memicu Kenakalan dan Bahkan Kejahatan Anak



2. Koreksi

Pencegahan selalu lebih baik ketimbang pengobatan. Hal ini berlaku juga untuk ‘sakit rohani’. Saya membaca tulisan yang dikirimkan via WhatsApp kepada saya,

bahwa orang yang melekat kepada Sang Pemberi Hayat, memiliki hidup yang lebih sehat. Bukan saja sehat jasmani, tetapi juga mental dan spiritual.

Jika kesehatan fisik, mental, dan spiritual terjaga, mereka diharapkan tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Peran orangtua sangat penting di sini. Membiasakan anak untuk takut Tuhan sejak kecil membuat mereka punya kontrol diri yang built up dan built in.

Baca Juga: Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji Ini!



3. Rehabilitasi

Tengah malam saya dibangunkan oleh handphone saya. Meskipun sudah saya silent, tetapi karena saya memakai moda getar, suara getarannya yang terus-menerus membuat saya terjaga.

Seorang ibu bertanya,

apakah dosa jika ada orang yang membunuh anaknya yang menyimpang orientasi seksualnya?

Tentu saja saya kaget. Saya katakan, jika kita membunuh orang yang kita anggap ‘liyan’ kita pun berdosa di mata Tuhan. Demikian juga dengan seorang ibu yang berniat menggugurkan kandungan anak gadisnya yang hamil di luar nikah. Mereka akhirnya sadar,

kita tidak boleh melakukan tindakan dosa terhadap siapa pun yang kita anggap berdosa.

Orangtua yang anaknya LGBT, atas saran saya, memilih untuk melakukan konseling. Sedangkan ibu yang anak gadisnya hamil di luar nikah, mengirim anaknya keluar negeri untuk melahirkan di sana. Saat ini mereka bukan hanya lega atas keputusan yang mereka ambil, tetapi juga bersyukur kepada Tuhan karena tidak jadi melakukan tindakan dosa karena emosi sesaat.

Baca Juga: Di Ruang Antara Kesalahan Anak dan Respons yang Kita Berikan, Tanyakan 3 Hal ini kepada Diri Sendiri


[Image: RibutRukun.com]

Berpikir sebelum bertindak tetap merupakan langkah bijak.

Bukankah begitu?



Baca Juga:

Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu dan Keengganan untuk Bertumbuh

5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita

Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dunia Semakin Beringas! Mesum di Mal, Ngebut di Jalan, dan Main Hakim Sendiri. Apa yang Perlu Kita Perbaiki?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar