Dokter Selingkuhi Pasien, Kepsek 'Main' Sama Guru, Rohaniawati Affair dengan Aktivisnya. Ada Apa dengan Zaman Now?

Reflections & Inspirations

[image: ASTEC Ondara]

1.8K
Ketimbang menyebarkan aib, jauh lebih baik jika kita melakukan introspeksi sekaligus membangun pagar, agar kita sendiri tidak terinfeksi.

“Pak Xavier, sudah dengar berita heboh minggu ini?” tanya seorang mamud kepada saya via WA.

Saat saya jawab pendek, “Belum,” dia menemabahkan, “Sudah heboh di grup mama-mama, Pak Xavier.”

Untuk chat terakhir, saya balas dengan ikon senyuman. Mengapa? Pertama, saya tidak ikut grup mama-mama. Apalagi mama-mama muda. Kalau ikut malah aneh. Wkwkwk. Kedua, saya tidak kepo mengikuti gosip semacam ini.

Namun, tantangan berikutnya dari ibu itulah yang membuat saya tergelitik untuk mengetik:

“Bisa jadi bahan menulis lho, Pak.”

Iya juga sih. Namun, saya lebih senang memikirkan PENYEBAB dan PENANGKAL ketimbang SOLUSI yang pasti jauh lebih kompleks dan bersifat pribadi.

Dokter yang selingkuh dengan pasiennya, kepsek yang main sama guru, dan rohaniwati yang affair dengan aktivisnya sebenarnya ‘cerita biasa’. Namun semua itu merupakan puncak gunung es yang di bawahnya luar biasa besarnya. Justru yang di bawah ini yang sering kali tidak diekspos karena berbagai alasan. Salah satu yang utama: Aib kok disebarkan.

Nah, ketimbang menyebarkan aib, jauh lebih baik jika kita melakukan introspeksi sekaligus membangun pagar, agar kita sendiri tidak terinfeksi.


PENYEBAB

Apa yang dokter itu lakukan terhadap pasiennya, kepsek terhadap gurunya, dan rohaniwati terhadap aktivisnya bisa kita masukkan dalam terminologi ‘abuse of power’ yang setali tiga uang dengan ‘malfeasance in office’ dan ‘official misconduct’. Bahasa sederhananya, penyalahgunaan wewenang atau penyelewengan kekuasaan.

Baca Juga: Istri Saya Hamil, Ia Diperkosa Rohaniwan Kepercayaan Keluarga

BusinessDictionary menerjemahkannya begini: “The act of using one's position of power in an abusive way. This can take many forms, such as taking advantage of someone, gaining access to information that shouldn't be accessible to the public, or just manipulating someone with the ability to punish them if they don't comply.”

[image: langvara]

Intinya, seseorang karena kekuasaan yang disandangnya menyalahgunakan wewenang untuk keuntungan pribadi—misalnya pelecehan seksual—yang jika tidak dipenuhi akan memberikan konsekuensi buruk bagi karier seseorang atau sekelompok orang yang berada di bawah ‘ketiak’ kekuasaannya.

Mengapa begini? Mengapa begitu?

Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu?


Pertama; pada dasarnya, memang ada pemimpin yang ‘nakal’.

Pemimpin yang seperti itu memanfaatkan jabatannya untuk memuaskan ego atau hawa nafsunya sendiri. Dia merasa bahwa yang diperlakukan tidak bisa apa-apa karena mengalami intimidasi atau terdesak faktor ekonomi, misalnya bisa mengalami PHK sepihak. Ada seorang janda yang konseling dan mengatakan bahwa dia ditawari proyek dengan keuntungan yang menggiurkan, asal dia mau dijadikan istri muda pimpinan sebuah institusi.


Kedua, sikonnya memungkinkan.

[image: bizhint]

Di dalam kondisi tertentu, bukan hanya pimpinan yang ‘jahil’, tetapi juga bawahannya yang ‘menawarkan diri’ untuk memperoleh keuntungan tertentu. Sudah menjadi rahasia umum ada agen penjualan yang menawarkan tubuhnya kepada klien atau calon nasabah yang mau mengambil barang, jasa, atau investasi dalam jumlah tertentu pula.


Ketiga, mau sama mau.

Entah karena kesepian atau karena memang sama-sama butuh, atau lebih terus terang lagi, sama-sama ‘mbeling’. Inisiatifnya datang dari dua belah pihak. Bahasa Jawa mendefinisikan dengan cerdas sekali, “Tumbu oleh tutup.” Yang artinya: Wadah ketemu tutupnya.

Baca Juga: Perselingkuhan: 3 Mitos Keliru yang Dipercaya Mereka yang Tergoda untuk Berselingkuh



PENANGKAL

Saya katakan di awal. Saya bukan pakar di bidang ini. Namun, dari hasil konseling dan cerita banyak orang, saya bisa menarik benang merah yang sekiranya bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama.



Pertama, penyalahgunaan wewenang bisa terjadi jika ada kesempatan.

Meskipun seseorang penuh kuasa, kalau ada sistem yang jelas dan pengawasan yang baik, maka jatuhnya korban bisa dicegah, paling tidak diminimalisir.


Kedua, sebagus-bagusnya pengawasan dari manajemen atau atasan, tetap tidak bisa mengalahkan waskat.

Pengawasan melekat bisa terjadi jika sejak dini sudah ditanamkan oleh lingkungan sekitar, khususnya keluarga. Penanaman nilai-nilai luhur—baca hubungan anak dengan Tuhan—sudah selayaknya dikerjakan sejak dini.

[image: EBI Honduras]

Itulah sebabnya setiap kali mendoakan bayi yang baru dilahirkan, saya selalu menekankan campur tangan ilahi dalam hidup anak tersebut.

Mengapa? Karena anak itu lahir atas perkenan Tuhan. Tanpa izin-Nya, anak itu tidak pernah melihat dunia. Penebaran benih dan perawatan tumbuh kembangnya perlu dilakukan secara sungguh-sungguh oleh orangtua masing-masing.

“Saya tidak terlalu kuatir mengirimkan anak saya sekolah di luar negeri dan jauh dari saya. Karena sejak kecil, saya sudah mengarahkan anak saya untuk dekat dan melekat kepada Tuhan,” ujar seorang ibu yang mengirim anak perempuannya sekolah di Jepang.

Berkat doa dan restu orangtuanya, anak gadis itu pulang dengan selamat, bahkan bisa bekerja di perusahaan bergengsi. Sungguh membanggakan.

Baca Juga: Inilah 4 Bentuk Warisan Berharga, Namun Tak Pernah Diperebutkan. Orangtua, Siapkan Hal-hal Ini demi Masa Depan Anak-anak


Ketiga, daya tahan dan daya juang ‘korban’.

Mengapa kata ‘korban’ saya beri tanda kutip? Soalnya dalam berbagai kasus, penyalahgunaan kekuasaan bisa terjadi lebih mudah saat ‘korban’ juga membuka diri. Ada yang karena kebutuhan—baik batin maupun ekonomi—‘korban’ pun bisa jadi pelaku.

“Saya memilih untuk tetap menjanda daripada mengorbankan harga diri saya. Masa diri saya ditukar dengan proyek,” ujar janda yang saya ceritakan di atas.


Sebuah kasus: Mau melakukan apa saja demi kelulusan

Ketika kasus perselingkuhan marak kembali, saya ingat kisah seorang mahasiswi yang saat kuliah malam mendekati dosennya sambil berkata, “Pak, nanti saya ingin ketemu empat mata.”

Mahasiswi itu meminta ketemu dengan dosennya di ruang tertutup. Namun, dosen itu memilih tetap di kelas.

“Toh semua mahasiswa sudah pulang, jadi di sini saja,” ujarnya membeli alasan yang tidak bisa dibantah sang mahasiswi.

Setelah ruangan sepi, mahasiswi itu mendatangi dosen, memepetkan tubuhnya dan berkata, “Pak, Bapak tahu saya tidak pandai dalam mata kuliah Bapak. Saya bersedia melakukan APA SAJA bagi Bapak, asal Bapak meluluskan saya. Please!”

Saat berkata ‘please’, mahasiswi itu sengaja membuka kancing bajunya yang sebelah atas. Dosen itu melirik sekilas tindakan mahasiswinya dan segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tepatnya ke mata mahasiswinya.

“Benar, kamu mau melakukan APA SAJA untukku kalau aku meluluskan kamu?” tanya dosen itu.

Mahasiswi itu mengangguk dengan senyuman menggoda.

“Baik, dekatkan wajahmu ke sini,” ujar dosen itu yang segera disambut mahasiswi itu dengan mencondongkan wajahnya ke muka dosen itu.

Sambil mendekatkan mulutnya ke telinga mahasiswinya, dosen itu berkata tegas, “Jika kamu mau lulus. PULANG DAN BELAJAR KERAS!”

Dosen itu meninggalkan ruangan. Mahasiswi itu melongo!


***


Saya akan mengakhiri tulisan saya dengan satu kutipan. Kutipan yang perlu kita renungkan sungguh-sungguh sebelum membicarakan banyak hal yang kerap membuat kita geleng-geleng kepala pada zaman now ini.

[image: Univision]

“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”

—St. Paul


Baca juga artikel-artikel inspiratif di bawah ini:

9 Permohonan Kids Zaman Now. Papa dan Mama, Dengarkanlah!

Membagikan Berita Kriminal lewat Media Sosial? Hati-Hati, Ungkapan Keprihatinan Anda Malah Bisa Menjadi Inspirasi bagi Para Pelaku Kejahatan!






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dokter Selingkuhi Pasien, Kepsek 'Main' Sama Guru, Rohaniawati Affair dengan Aktivisnya. Ada Apa dengan Zaman Now?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar