Berpulang, Merry Menang Melawan Kanker dengan Senyum Ketabahan

Reflections & Inspirations

[image: Jamie Street]

12.7K
"Mark, kali ini dengarkan saya baik-baik. Siap sedialah dan kuatkan hatimu ... Jika hal yang terburuk terjadi, ini permintaan saya, menikahlah lagi karena anak-anak masih membutuhkan seorang mama.”

“Apa keluhan Ibu?” tanya dokter jaga IGD Rumah Sakit Siloam Manado saat Ibu Merry memeriksa keadaannya sambil ditemani sang suami.

“Begini, Dok. Belakangan ini saya sering pusing dan demam tanpa alasan. Namun, ketika saya minum obat generik pereda panas dan sakit kepala, gejalanya berhenti tak beberapa lama. Anehnya, saat sebelum dan setelah makan, perut saya sakit. Sariawan saya tidak sembuh-sembuh dan kedua kaki saya sering lebam-lebam. Saya juga jadi mudah lelah dan napas tersendat-sendat. Saya bahkan tidak mampu lagi memimpin puji-pujian Sekolah Minggu dengan menyanyi sambil menari,” jelasnya panjang lebar.

Dokter pun menyarankan untuk dilakukan tes darah lengkap. Dua jam kemudian hasil siap dibacakan. Dokternya menghampiri mereka berdua yang sedang menunggu. “Sebaiknya Ibu dirawat inap saja, Pak,” katanya datar dengan mimik wajah serius.

“Ada apa dengan hasilnya ya, Dok? Apakah istri saya sedang sakit typhus?” tanya sang suami memastikan.

“Bukan sakit typus, Pak. Melainkan kelainan dalam darahnya. Kami sudah menguji sampel darahnya dua kali dan hasilnya tetap sama. Sebaiknya segera rawat inap karena istri Bapak dicurigai mengarah ke leukemia. Namun, untuk jelasnya perlu ditangani lebih lanjut oleh dokter Hematologis, ahli darah,” tegasnya. [Iman di Atas Garis, ANDI, hal. 27-28]

[image: E-konomista]

Ketika menjadi host dalam acara talk show “Heart of Xavier” dengan Ibu Meriana Rungkat yang terkena kanker darah akut, saya mewawancarainya dan berkesempatan mendengar langsung kisahnya. Ibu Merry atau Ibu Riana—begitu dia biasa dipanggil—begitu tabah dengan penyakit ‘mematikan’ yang dia derita.

Saat mayoritas ibu-ibu yang hadir di acara talk show itu meneteskan air mata, air muka ibu muda ini justru bercahaya. Cahaya pengharapan yang sungguh membuat saya kagum. Dari bincang-bincang dengannya, saya pun belajar kekuatan iman yang luar biasa.

Meskipun Xavier, sang suami, dan keluarga berusaha keras untuk memberinya semangat hidup, Tuhan berkehendak lain. Awal November, tepatnya tanggal 2, Meriana Rungkat, menghadap Tuhan. Inilah tiga pelajaran berharga dari seorang ibu muda yang selama hidup bersama kanker darah akut tidak pernah menunjukkan sikap menyerah terhadap sakit-penyakit, melainkan melawannya dengan tindakan yang positif.



1. Tidak Mencari Kambing Hitam apalagi Menyalahkan Tuhan saat Badai Menerpa

“Apa kabar Ibu-Ibu?” salamnya kepada semua yang hadir siang itu.

“Luar biasa!” jawab sebagian mereka. Rupanya ungkapan yang sering diucapkan para motivator itu menular dan menyebar dengan cepat ke seluruh lapisan masyarakat.

“Apakah Ibu-Ibu tetap bisa berkata ‘Luar biasa!’ saat putus cinta, usaha bangkrut atau didiagnosis terkena kanker ganas?” lanjut Ibu Merry yang membuat ruangan tiba-tiba sunyi mencekam.

Saat saya minta Ibu Merry untuk menceritakan asal mula terkena leukemia akut, dengan lancar dan mata tetap bersinar, ibu dua orang anak ini bercerita dengan runtut. Meluncurlah penggalan ‘kisah kelam’ dalam lembaran-lembaran buku kehidupannya seperti yang saya kutip di awal tulisan ini. Baginya, di dalam menghadapi kehidupan ini, suka dan duka wajar jika berkelindan satu sama lain. Yang paling penting, menurutnya, adalah reaksi kita terhadap apa saja yang menimpa kita. Tuhan tetap baik apa pun yang terjadi!

Baca Juga: Tetap Bersukacita di Tengah Sakit? Mungkin! Inilah 5 Rahasianya!



2. Tidak ‘Denial’ dan Tabah Menjalani Kemoterapi yang Bisa Saja Menguras Mental dan Spiritual

Meski sempat shock dan sedih, Ibu Merry dengan tegar menjalani proses pengobatan yang menyakitkan.

Ada orang-orang yang tampak begitu rohani dan rajin beribadah, tetapi saat badai menerpa, mereka bisa meninggalkan Tuhan dan imannya.

Ibu Merry tidak.

[image: Beliefnet]

Dia tetap melekat kepada Pribadi yang diyakininya tidak pernah meninggalkannya seorang diri, bahkan saat berbaring lemah di kamar isolasi di National University Hospital, Singapura.

“Sebelah saya dinding putih, sedangkan sebelah saya lagi pintu ganda untuk menjaga agar ruangan tetap steril dari bakteri dan kuman,” ujarnya.

Meskipun dia tahu ada keluarga dan orang-orang dekatnya di rumah sakit itu, tetapi dia tidak bisa berjumpa dengan orang-orang yang dikasihinya dengan leluasa. Disiplin dan peraturan rumah sakit yang ketat membuatnya benar-benar merasa sendiri. Namun, di tengah kesendirian itu, keyakinannya bahwa Tuhan senantiasa hadir membuatnya tidak khawatir.

Baca Juga: Dari Lumpuh, Pneumonia, ke Kanker Stadium 4. Ini tentang Yo dan 3 Sakitnya



3. Masih Memikirkan dan Menolong Orang Lain Justru Ketika Dia Sendiri pun Patut Ditolong

Dalam kondisi kepala—maaf—botak karena rambut rontok, Ibu Merry justru turun dari ranjangnya dan berkeliling untuk mengunjungi pasien kanker lainnya.

Kehadirannya yang menyapa, menghibur, menguatkan, dan mendoakan para pasien itulah yang membuatnya dipercaya rumah sakit untuk menjadi pendamping dan konselor bagi mereka yang sedang menderita.

Yang membuat saya tidak kuasa menahan air mata adalah saat Ibu Merry bercerita bahwa ia menelepon suami tercinta dan berkata,

“Mark, kali ini dengarkan saya baik-baik. Siap sedialah dan kuatkan hatimu. Dokter Hematologis di Surabaya menguatkan hasil diagnosis dokter kita di Manado. Siapkan anak-anak. Bawa mereka ke Surabaya. Jangan lupa bawa paspor. Hari ini juga saya akan diberangkatkan ke Singapura. Jika hal yang terburuk terjadi, ini permintaan saya, menikahlah lagi karena anak-anak masih membutuhkan seorang mama.”

Dari panggung saya melihat sebagian besar ibu-ibu yang hadir menangis. Isak tangis memenuhi ruangan. Saya lirik cameraman. Sekilas dia mengusap matanya.

Baca Juga:Bukan Sekadar Hidup! Inilah Cara Memberikan Dampak Positif bagi Orang Lain



Semangatnya Selalu Tertanam di Hati

Sehari sebelum Merry dipanggil Tuhan, saya sempat mengunjunginya ke rumah sakit. Di pintu ada tanda larangan berkunjung. Saya bisa masuk karena bersama suami Merry yang namanya persis dengan nama saya. Dengan didampingi Xavier dan keluarga besar saya mendoakannya. Saat saya hendak beranjak keluar kamar, tangan kanan ibu dari Agra dan Nina yang masih dipasangi selang rumah sakit itu menggapai lengan saya. Merry menahan saya untuk tidak pulang dulu. Dia mengajak saya berfoto berdua.

[Dokumentasi penulis]

"Biarpun sakit, tetap victory," ujarnya sambil menunjukkan dua jari ketika Xavier mengambil gambar kami.

Mata saya membasah lagi. Saya kuatkan hati agar air mata saya tidak menetes di hadapan ibu muda yang begitu perkasa. Itulah pertemuan saya yang terakhir dengan ciptaan Tuhan yang luar biasa ini!


Selamat jalan, Merry!

Imanmu yang luar biasa mengantarmu ke surga dan membuat kami semakin yakin, Tuhan itu ada dan selalu bersama umat-Nya.

[Dokumentasi penulis]



Baca Juga:

Kanker Payudara Memulihkan Keluarga Saya. Sebuah Kisah Nyata tentang Kepahitan dengan Akhir yang Indah

Jangan Biarkan Sakit Meruntuhkan Semangat Hidupmu. Dua Hal ini Memberi Kekuatan untuk Bertahan





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berpulang, Merry Menang Melawan Kanker dengan Senyum Ketabahan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar