Dicap Nakal, Dipanggil Wewe. Tak Seorang pun Tahu Saya Mengidap ADHD, 27 Tahun Lamanya

Reflections & Inspirations

[Image: NoStigmas Project]

8.2K
Saya sampai mendapatkan panggilan khusus dari keluarga besar: Wewe. Katanya karena saya nakal, seperti Wewe Gombel.

"Bisa diam gak sih?"

"Jangan nakal!"

"Jangan ngomong terus di kelas! Jangan ganggu temanmu!"

Kalimat-kalimat demikian sangat sering saya dengar pada waktu kecil. Teguran yang biasanya dilanjutkan dengan datangnya hukuman. Karena itu, saya pun sampai mendapatkan panggilan khusus dari keluarga besar: Wewe. Katanya karena saya nakal, seperti Wewe Gombel.

Saya sempat bingung. Sebetulnya saya bukanlah anak yang suka membuat masalah di sekolah. Saya tidak pernah berkelahi, juga tidak pernah membolos. Saya hanya tidak bisa diam dan mudah sekali bosan, sehingga paling-paling teman sebangku saja yang saya ganggu.

Sampai akhirnya di usia dua puluh tujuh tahun barulah saya paham, ternyata saya memiliki kecenderungan ADHD, Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Dari hasil interview dan test yang dilakukan oleh seorang dosen, saya dinyatakan memenuhi kriteria ADHD.

Di satu sisi, saya sedih. Ternyata saya 'aneh'. Akan tetapi di sisi lain saya justru merasa senang. Akhirnya saya tahu mengapa selama ini saya selalu dicap 'nakal'.

Tulisan ini tentu bukanlah tulisan kesehatan, bukan juga naskah akademik. Sekadar ingin berbagi, saya tuliskan ini berdasarkan pengalaman dan informasi yang saya pernah baca. Harapan saya, pengalaman ini bisa menguatkan setiap orang, baik yang hidup dengan ADHD ataupun 'kekhususan' lain untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Kamu tidak sendiri, Kawan.



Kita Semua Berharga, Tuhan Pasti Punya Rencana

Karena sulit berkonsentrasi, anak ADHD biasanya sulit bersosialisasi di sekolah, mengalami gangguan belajar, dan juga selalu gelisah. Orang boleh bilang, "Masa depannya tampaknya begitu suram." Ternyata tidak juga. Kami hanya tidak akan pernah bisa menjadi anak manis di kelas.

Ketika duduk di bangku sekolah dasar, dari kelas 1 sampai dengan 6, di setiap pengambilan hasil belajar caturwulan [sistem yang digunakan kala itu, bukan sistem semester seperti sekarang], akan tertulis di rapor “Prestasimu sudah baik, hanya jangan banyak bicara di kelas.” Meskipun nilai pelajaran saya tidak sampai jelek, tetapi juga tidak bisa maksimal karena saya sering tidak teliti dan kurang tekun belajar.

Konon, mereka yang hidup dengan ADHD akan mengalami kesulitan dalam mencari pasangan hidup. Ini masuk akal juga. Bagaimana bisa mendapatkan pasangan kalau tidak bisa tenang dan juga mudah bosan? Bukan hanya teman hidup, pasti tidak mudah juga mencari sahabat. Untuk mengatasi rasa bosan, kami cenderung terus berbicara. Akibatnya, kami sering kali gagal menjadi pendengar yang baik.

Memiliki segala keistimewaan itu, saya amat bersyukur. Meskipun tidak lulus kuliah dengan nilai tertinggi, saya berhasil menyelesaikan pendidikan, bahkan sampai jenjang yang cukup memadai. Saya pun bergaul dengan banyak orang, bahkan memiliki beberapa orang sahabat. Dan, ini yang paling luar biasa, saya menikah. Ada wanita yang mau menerima saya apa adanya.

Tentu semua itu bukan karena kekuatan saya, tetapi anugerah dari Sang Pencipta semata. Dari pengalaman, saya berani mengatakan,

Setiap kita berharga. Segala yang diciptakan oleh-Nya sungguh amat baik adanya.
[Image: pixabay]
Bukan kebetulan kita boleh hidup di dunia. Di dalam segala kelemahan dan keterbatasan, selalu ada yang bisa kita kerjakan. Rencana-Nya, yang terbaik bagi kita.

Baca Juga: Kamu Berharga, Apa pun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apa pun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal Inilah Buktinya



Jangan Kalah oleh Kelemahan, Jadikan Itu sebagai Kekuatan

Anak-anak yang lahir di zaman ini, harus diakui, hidup dengan 'keuntungan' dan 'kemudahan'. Kini, sekolah mulai memahami keunikan setiap anak. Banyak juga sekolah yang menyesuaikan metode pengajaran mereka dengan kebutuhan anak. Berbeda dengan era saya bersekolah dahulu, di mana setiap murid mendapat perlakuan sama. Jika ada anak yang kesulitan menyesuaikan diri, tidak sama dengan apa yang dianggap 'normal', segera akan dicap 'bodoh', 'aneh', atau 'nakal'.

Akan tetapi, apakah anak-anak berkebutuhan khusus produk sistem pendidikan kuno semua berakhir dengan kegagalan? Tentu tidak. Banyak juga yang berhasil meraih mimpi, meski dengan perjuangan yang jauh lebih berat.

Selepas sekolah, apakah anak ADHD bisa bekerja? Tentu. Ada banyak lapangan pekerjaan yang membutuhkan keistimewaan dan keahlian mereka. Seseorang yang tidak bisa diam, akan amat cocok untuk pekerjaan yang mengharuskan untuk sering berpindah tempat, atau pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berbicara.

[Image: unsplash]
Saya meyakini,
ada kekuatan tersembunyi di balik apa pun yang kita anggap sebagai kelemahan.

Tentu diperlukan keberanian untuk tampil beda, dibutuhkan kesediaan untuk menjadi kurang populer. Tetapi apa pun yang kita kerjakan dengan tekun, bukan tidak mungkin akan menjadi besar dan bahkan menginspirasi banyak orang.

Baca Juga: 5 Jalan Mengubah Kekurangan Menjadi Bekal Kesuksesan



Bukan Hanya Kita Sendiri yang Lemah, Hendaklah Saling Mendukung dan Menguatkan

Sebenarnya artikel ini sudah lama ingin saya tuliskan, tetapi bisa jadi karena ADHD, saya selalu gagal fokus. Akhirnya tulisan ini sempat lama terendap. Akan tetapi pertemuan dengan 2 orang teman membuat saya kembali menulis dan menyelesaikan naskah ini.

Teman ini sebenarnya sudah saya kenal cukup lama. Namun tak pernah saya duga, ternyata kami 'senasib'. Dari pertemuan itu kami baru saling tahu, ternyata kami sama-sama tidak bisa diam. Akhirnya kami saling mendiagnosa: kami ADHD.

Inilah realita: Bukan hanya kita sendiri yang memiliki kelemahan.

Baca Juga: Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang


Tidak ada manusia yang sempurna. Masing-masing kita memiliki kelebihan dan kekurangan, yang unik, berbeda untuk tiap pribadi. Tidak pernah ditemukan dua orang yang sama segala-galanya, bukan? Karena itulah Tuhan menciptakan kita dengan kebutuhan untuk hidup bersama, agar bisa saling mendukung dan menguatkan satu dengan yang lain.

Seseorang yang tidak bisa diam, tentu memerlukan pasangan yang lebih tenang. Seseorang yang selalu berbicara, memerlukan orang lain yang mau dengan sabar mendengarkan. Saya, yang sangat sering melakukan salah ketik karena tidak teliti, memerlukan editor andal untuk bisa merapikan tulisan ini. -- Dengan senang hati, Davy! [ed] --

Lewat pengalaman juga saya belajar, setiap kelemahan perlu diterima dan disyukuri. Pada akhirnya, kita pasti membutuhkan bantuan dari orang lain juga. Sebaliknya, kita juga perlu meyakini, ada sesuatu dalam diri kita yang pasti dibutuhkan oleh orang lain.

Kalaupun kita harus menerima bantuan, bukan karena kita kurang baik atau lebih jelek, tetapi supaya kehidupan berjalan dengan seimbang.
[Image: Andrik Langfield Petrides]

Saling membantu memampukan setiap kita menjalani hidup dengan lebih ringan. Lebih jauh perjalanan dapat kita tempuh, dengan berjalan bersama.

Baca Juga: Tak Perlu Sempurna untuk Bisa Bahagia. Hidup Bahagia, Satu Ini Saja Rahasianya



Baca Juga:

Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami

Menderita Kelainan Tulang Belakang Menahun, Inilah 7 Hal yang Membuat Saya Mampu Berdiri Tegak, Menghadapi dan Melaluinya

Tak Diharapkan Lahir oleh Ibu, Tak Dicintai Bahkan oleh Diri Sendiri. Saya Pulih, Bangkit dan Menata Masa Depan karena 5 Hal Ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dicap Nakal, Dipanggil Wewe. Tak Seorang pun Tahu Saya Mengidap ADHD, 27 Tahun Lamanya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Davy Hartanto | @davyedwin

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar