Demi Bergelimang Harta, Patutkah Mengorbankan Keluarga? Sebuah Kisah Nyata

Marriage

[image: SovJen]

832
Ibarat membangun rumah di atas pasir, demikianlah orang yang membangun harapan masa depannya di atas harta.

Hari itu, di rumah duka, seorang pria yang mengenakan pakaian berkabung berdiri sendiri tanpa ditemani satu pun dari anggota keluarganya. Ia mendengarkan ceramah ibadah penutupan peti. Tepat menjelang peti ditutup, pria tersebut menjerit histeris sambil berseru,

“Anakkku, kenapa tega tinggalkan papa sendirian!

Jeritannya amat menusuk hati. Ya, hari itu adalah ibadah penutupan peti dan penguburan anak tunggalnya. Yang lebih memedihkan hati, baru beberapa bulan sebelumnya, saya juga menghadiri ibadah peguburan istrinya yang meninggal karena sakit parah.

Beberapa orang mendekati pria tersebut, memeluknya, dan berusaha menenangkannya. Namun mereka bukan keluarganya. Mereka adalah pemuka agama dan teman-temannya. Di sudut lain ruangan tersebut, sekelompok orang berdiri memandang dari jauh. Tampak seorang wanita yang sebaya dengan bapak itu, disertai empat anak yang sudah dewasa, yang lebih tua umurnya dari anak remaja yang di peti mati. Mereka adalah istri pertama dan anak-anak bapak ini dari istri pertama tersebut. Beberapa orang yang sangat mengenal mereka mulai membuka kisah lama.

Rupanya ada kisah sedih yang dimulai jauh lebih dahulu belasan tahun yang lalu…


Mengorbankan Keluarga Demi Ambisi, Sebuah Langkah Awal yang Salah

Lebih dari delapan belas tahun sebelumnya, pria ini mengalami kesulitan ekonomi bersama mantan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Selama beberapa tahun, ia berjuang untuk sukses. Namun keberhasilan tak kunjung tiba. Sedangkan ia sangat berambisi untuk cepat kaya. Ketika menemui gadis cantik, anak tunggal dari keluarga yang kaya raya dan memiliki beberapa toko di kota itu, yang juga jatuh cinta padanya, ia segera menceraikan istri pertamanya. Kemudian ia pun menikahi gadis tersebut. Semua itu ia lakukan demi keinginannya menjadi pria sukses dengan cepat.

[image: Saga]

Tak hanya kisah di atas, beberapa kejadian serupa terpapar di hadapan saya. Ada suami-suami dan istri-istri yang menceraikan atau meninggalkan begitu saja pasangan sahnya beserta anak-anak mereka karena menganggap pasangan mereka sebagai penghambat jalan kesuksesan. Mereka memilih hidup bersama pasangan baru yang mereka anggap dapat melejitkan karier dan menjadikan mereka orang beruang.

Tindakan “membuang” keluarga demi kesuksesan tentunya memiliki latar belakang yang memengaruhi keputusan tersebut. Pada masa ini, kita dididik untuk memiliki target tertentu untuk mencapai kesuksesan. Tak jarang, kita juga diajarkan untuk merencanakan pada umur berapa target tersebut harus tercapai. Didikan seperti ini baik untuk membuat hidup kita terarah dan terencana. Namun, faktor penentu sebuah kesuksesan tidak hanya terletak pada target belaka, tetapi juga pada daya juang kita.

Kalaupun kita sudah memiliki keduanya, target dan daya juang, ada satu faktor penentu kesuksesan lain yang tidak dapat kita lawan, yaitu kehendak dan waktu Tuhan.

Seperti dalam kisah bapak yang disebutkan di atas dan mantan istrinya. Setelah perceraian, sang mantan istri akhirnya berhasil memantapkan kondisi ekonomi keluarganya. Hal ini hanya salah satu bukti bahwa istri pertama tersebut bukanlah penyebab keterpurukan ekonomi mereka. Hanya saja, waktu untuk berkat itu belum tiba.

Baca Juga: Banyak Orang Berpikir Seperti Saya : Uang, Rumah dan Mobil adalah Syarat Terciptanya Keluarga Bahagia. Ternyata Saya Salah!


Harta di Bumi Tidak Bersifat Kekal

Tujuh belas tahun berjalan indah bagi pria tersebut. Ia dikaruniai anak tunggal yang cerdas dan taat. Toko mereka berkembang pesat. Terutama oleh kecakapan dan kecerdasan sang istri dalam berbisnis. Pria ini sendiri hanya membantu saja. Bagi mantan istri dan anak-anaknya, tentu realita tersebut seperti sebuah ketidakadilan. Mengapa orang yang tamak dan tega membuang keluarga sendiri demi harta, dapat menjadi begitu bahagia?

Namun, hidup sungguh tak dapat diduga. Delapan belas tahun kemudian, semua berubah drastis. Istri keduanya mengalami sakit. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menyembuhkan sang istri, termasuk bolak-balik membawanya ke rumah sakit di dalam negeri dan di Singapura. Pengobatan ini memakan uang yang luar biasa besarnya. Dalam kurun enam bulan, harta mereka mulai habis, hanya menyisakan satu toko kecil dan rumah mungil untuk mereka bertahan hidup.

Melihat dan mendengar kisah ini, saya teringat pada sebuah nasihat,

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi;

di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.”

[image:qz]

Sungguh, harta di bumi begitu cepat lenyap. Penyakit, bencana alam, dan bencana lainnya dapat dengan cepat merengut harta.

Ibarat membangun rumah di atas pasir, demikianlah orang yang membangun harapan masa depannya di atas harta.

Baca Juga: Kaya : Tak Sekadar Meraih Banyak Uang, namun juga Hidup Penuh Berkat. Inilah 5 Caranya


Hukum Tabur Tuai itu Sungguh Nyata

Dalam bulan keenam, sang istri pun meninggal dunia. Disusul dengan kematian mendadak anak tunggal mereka tiga bulan kemudian. Kini, tinggallah pria ini sendiran, tanpa istri, tanpa anak, dan kehabisan harta.

Bagi pria yang dikisahkan di sini, keberadaannya adalah sebuah bencana beruntun. Ibarat sudah jatuh lalu ditimpa tangga pula. Bagi keluarga mantan istrinya, hal tersebut merupakan keadilan yang dinyatakan Tuhan. Bagi saya, ini adalah sebuah pelajaran berharga, bahwa kita harus hidup berhati-hati dan menghargai keluarga yang sudah Tuhan anugerahkan pada kita. Karena hukum tabur tuai itu sungguh nyata.

Bagi Anda?


Baca juga artikel-artikel inspiratif tentang harta ini:

Karena Warisan, Anak Tega Gugat Ayah yang Berusia Senja. Jangan Harta Memecah Keluarga, Bijak Mewaris, Ini Kiat Orangtua Saya

Mereka Rela Menjual Nyawa demi Menjadi Kaya. Pesugihan, dari Tuyul sampai Nyi Blorong: Hanya Takhayul dan Cerita Bohong?






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Demi Bergelimang Harta, Patutkah Mengorbankan Keluarga? Sebuah Kisah Nyata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar