Dari Pendakian Gunung, Inilah Tiga Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Saya Dapatkan

Reflections & Inspirations

puncak b29

2.2K
Mendaki gunung tak selalu menyenangkan, namun mengajarbanyak tentang kehidupan ini. Inilah pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan lewat pendakian gunung.

Naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali

Kiri, kanan, kulihat saja, banyak pohon cemara


Waktu kecil, sungguh senang kita menyanyikan lagu tersebut, tanpa pernah tahu bagaimana rasanya naik ke puncak sebuah gunung. Dulu, dalam bayangan kita, mendaki gunung sungguh menyenangkan karena banyak pohon cemara. Betul memang di gunung banyak pohon cemara dan pemandangannya sangat indah. Tapi, dari pengalaman saya melakukan pendakian gunung, prosesnya tidak pernah seceria lagu itu.

Namun, walau sulit dan harus menghadapi beberapa kendala, mendaki gunung mengajarkan banyak hal, yang ternyata sangat relevan dengan kehidupan.


Sebentar lagi sampai

photo credit: Snow King Mountai

Akhir tahun 2012 lalu, saya melakukan perjalanan pertama saya ke Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.443 Mdpl. Saya yang tidak pernah tertarik pada gunung, tiba-tiba memiliki keinginan yang begitu besar untuk dapat mencapai puncak gunung. Saya tidak pernah membayangkan betapa capeknya mendaki gunung, padahal Gunung Ijen termasuk gunung yang mudah untuk didaki karena jalur pendakiannya sudah bagus.

Saya tidak ingat berapa kali saya mengeluh capek dan ingin duduk saja karena tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Tetapi guide yang saat itu bersama kami terus berkata, “Ayo Mbak, sedikit lagi sampe loh. Itu di depan tinggal belok kiri.” Oke, saya percaya saja. Tapi setelah sekian lama berjalan, saya kembali protes “Mana belokannya? Perasaan sudah belok kanan kiri kok gak nyampe-nyampe?”. Tapi guide dengan santai berkata bahwa sedikit lagi, setelah lewat ini dan itu maka akan sampai. Percakapan seperti itu diulang-ulang sampai akhirnya saya dan teman-teman tiba di puncak. Luar biasa perasaan saya, antara merasa tertipu oleh ucapan guide dan tidak menyangka saya akhirnya sampai.

Ketika kita ingin mencapai sebuah target, akal sehat kita sering berkata target itu sungguh jauh dan kita pasti tidak sanggup mencapainya. Tapi teruslah berjalan melewati setiap belokan itu. Jangan menyerah, karena yakinlah bahwa sebentar lagi akan sampai.

Baca juga: Sadarilah! Masa Depanmu Dibentuk oleh 3 Hal yang Terlihat Sepele tapi Berdampak Besar Ini


Setiap orang punya 'super power'

photo credit: The Odyssey Online

Setelah sanggup mendaki Gunung Ijen, tentu saya tertantang untuk naik ke gunung yang lain. Kali ini cerita perjalanan saya ke Ranu Kumbolo, sebuah danau yang terletak di kaki Gunung Semeru. Medan yang dihadapi tentu berbeda dengan Gunung Ijen. Jalan setapak, meliuk-liuk, naik dan turun. Tidak hanya menguras keringat, untuk dapat sampai ke Ranu Kumbolo juga menguras air mata saya. Di Pos 4, pos terakhir sebelum sampai ke Ranu Kumbolo, untuk pertama kalinya saya merasa sungguh tak berdaya. Beban di tas berat, keringat dingin, kaki gemetar. Oh Tuhan, kenapa saya kok mau ke sini.

Tapi hasrat untuk segera sampai ke Ranu Kumbolo sanggup membuat saya bangun kembali, mengangkat tas, dan lanjut berjalan. Persis dengan cerita di atas, teman saya dengan setia mengatakan setelah belokan itu kita akan sampai. Saya tahu dia bohong, tapi tiap kali saya terduduk lemah, saya memiliki kekuatan lagi untuk bangkit. Karena saya ingin sampai ke tujuan saya.

Push yourself a little harder. Ingat tujuan kita dan ketahuilah bahwa kita punya kekuatan yang tidak terduga akan bangkit saat kita lemah dan membuat kita sanggup berjalan lagi. Terkadang butuh tekanan besar untuk membangkitkan super power kita.

Baca juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini


Ekspektasi tidak selalu sama dengan kenyataan

photo credit: The Odyssey Online

Gunung yang baru saja saya datangi adalah Puncak B29, yang masih termasuk bagian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Wisata puncak B29 ini terkenal dengan sebutan Negeri di Atas Awan. Wow sungguh indah pemandangan dari atas puncak. Ada lautan awan di bawahnya dengan latar belakang Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Itu yang saya lihat di internet.

Kenyataannya, saya salah memilih waktu terbaik untuk ke puncak B29 ini. Saya pergi di saat musim hujan. Angin sungguh kencang dan kabut tebal. Saya berada di puncak B29 menanti matahari terbit yang tak kunjung kelihatan. Sejauh mata memandang hanya warna putih kabut. Pemandangan yang dijual di internet tidak dapat saya saksikan dengan mata saya. Apa boleh buat, lain kali mungkin saya akan kembali lagi.

Tapi jangan pernah kecewa dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Nikmati kenyataan itu, karena bisa saja kita mendapatkan kejutan lainnya.

Di perjalanan turun dari puncak, saya mendapatkan hadiah terindah. Ada pelangi yang melengkung dengan indahnya menyampaikan sampai jumpa pada saya. Kini saatnya saya menyanyikan lagu “Pelangi, pelangi, alangkah indahmu”


Tulisan-tulisan ini akan memberikanmu inspirasi untuk meraih yang terbaik dalam hidup ini :

Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini

Kaya : Tak Sekadar Meraih Banyak Uang, namun juga Hidup Penuh Berkat. Inilah 5 Caranya

Biarkan Anak Anda Menangis : 5 Rahasia Kehidupan yang Terungkap lewat Air Mata


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Pendakian Gunung, Inilah Tiga Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Saya Dapatkan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nyssa Chandra | @nyssachandra

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar