Dari Pahitnya Sebuah Perpisahan, Saya Mendapatkan Tiga Pelajaran

Ex & Broken Hearts

[image: Rozwodka]

18.8K
Di balik derai air mata, ada segudang pelajaran berharga.

Salah satu hal yang tidak menyenangkan, tetapi pasti dijumpai setiap orang adalah “PERPISAHAN”. Banyak orang yang tidak menyukainya. Namun, siapakah yang dapat menghindari pertemuan dengannya? Bagaimanapun juga, dalam setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Baik cepat maupun lambat, perpisahan adalah realita yang harus dihadapi.

Perpisahan selalu terkait erat dengan derai air mata, hati yang pedih, dan kenangan-kenangan yang menyedihkan. Semua inilah yang membuat banyak orang tidak menyukainya.

Saya masih ingat betapa pedihnya hati ibu saya ketika harus menghadapi kepergian orangtuanya di tahun yang lalu. Dia menangis tanpa henti. Baik di waktu pemakaman hingga beberapa bulan setelah kepergian ibu terkasihnya. Ia teringat pada kenangan-kenangan dan penyesalan akan keinginan-keinginan yang belum sempat ia capai bersama almarhumah.

Tidak hanya itu, perpisahan dengan kerabat baik pun terkadang memberikan kesedihan yang mendalam. Ketika seseorang harus meninggalkan kota tempatnya tinggal untuk pergi ke tempat lain, hal itu juga memberikan kesedihan pada kerabat dekat. Pasalnya, telah ada jarak besar yang tak lagi terjembatani dengan mudah.

Apakah dalam waktu dekat ini ada perpisahan yang juga Anda alami?

Terlepas dari betapa pahitnya sebuah perpisahan, ternyata ia menyimpan sebuah makna hidup yang kaya.

Merenungkan hal itu membuat saya menyadari tidak setiap derai air mata berarti keburukan. Perpisahan mengajari saya tiga hal ini:



1. Tidak ada yang abadi dalam genggaman

Perpisahan mengajarkan tentang kedewasaan berpikir. Usaha untuk keluar dari sifat egois, tinggi hati, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini harus terjadi seturut dengan keinginan kita. Sebab manusia bukanlah penguasa atas alam semesta.

Kita tidak dapat menjaga sesuatu abadi dalam genggaman kita. Hal itu termasuk harta, jabatan, kekuasaan, dan orang-orang yang dikasihi.

[image: Kërkim]

Perpisahan mengatakan kepada manusia bahwa sehebat apa pun kita, ada kuasa yang lebih besar. Dia bersemayam tidak hanya di dalam, tetapi juga di luar ruang dan waktu. Dia mengontrol segala sesuatu. Dia merencanakan segala sesuatu.

Maka, jangan pernah menggengam sesuatu terlalu kuat di tangan. Agar apabila Yang Maha Kuasa ingin mengambil kembali, hal tersebut tidak akan meninggalkan kesakitan yang berlebih.

Baca Juga: Kala Badai Menerpa dan Kamu Merasa Telah Kehilangan Segalanya, Ingatlah Ini Saja



2. Lakukan yang terbaik di dalam waktu yang singkat

Hidup berjalan secara misterius. Apa yang ada hari ini, besok mungkin tiada. Ada yang hidupnya cepat, ada yang hidupnya lama. Akan tetapi, apa pun itu, lambat laun semua akan sampai di garis akhir hidupnya. Maka dari itu, jikalau kita tahu bahwa hidup ini sungguh sementara, perlakukanlah waktu yang kita punya hari ini dengan bijak. Perlakukanlah orang-orang di sekitar kita dengan baik. Perlakukanlah mereka yang mengasihi kita dengan penuh kasih. Jangan akhiri waktu dengan penyesalan tiada akhir. Tidak akan ada waktu kembali.

Kata orang bijak, “Penyesalan datang di waktu-waktu akhir. Jika datangnya di awal, itu namanya pendaftaran.”

Ketahuilah bahwa tidak ada pintu ruang dan waktu yang dapat membawamu kembali ke masa lalu. Laci ajaib Doraemon hanya ada di dalam khayalan anak kecil. Yes, “Welcome to reality”.

Baca Juga : Depresi hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal ini yang Menyadarkan Bahwa Hidup ini Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan



3. Life is about making unforgettable moments

Beberapa waktu yang lalu, sebuah surat kabar di Kupang memberitakan tentang seorang pensiunan guru yang ditemukan meninggal di sebuah tempat lokalisasi di Kupang. Dalam waktu singkat, berita itu menjadi viral di kota Kupang. Ada yang mencibir, ada yang ikut menyesali, dan ada yang tidak ingin berkomentar apa-apa karena merasa bahwa kehidupan orang tersebut telah sungguh gagal.

Dia tidak hanya mencemarkan nama baiknya, tetapi juga turut mempermalukan nama baik seluruh isi keluarganya. Dia tidak akan lagi diingat sebagai guru teladan yang berbakti kepada negaranya, tetapi seorang “pensiunan yang hangus dilahap nafsunya sendiri”. Kira-kira begitulah isi dari berita-berita yang beredar.

Rentang hidup yang hanya berkisar antara 70-80 tahun seharusnya menyadarkan kita untuk digunakan dengan baik. Kesadaran ini akan mendorong seseorang untuk menggunakan waktu-waktu yang ada untuk berkreasi dan menjadi dampak yang baik bagi orang lain.

H. G. Greel pernah berkata, “Tolok ukur bagi hidup manusia bukanlah ‘berapa lama?’, melainkan ‘berapa baik?’” (Alam Pikiran Cina, 1989).


“Hiduplah seolah hari ini adalah hari terakhirmu.”

[image: Crowdfunder]

Seperti apakah kita akan dikenang pada akhir hidup kita bertumpu pada apa yang kita perbuat hari ini. Sadarlah bahwa hidup yang singkat ini amat disayangkan jika dipakai untuk melakukan hal-hal yang sia-sia.

Baca Juga: Hidup ini Singkat. Inilah 3 Bekal Kehidupan dari Kematian Seorang Ibu Usai Melahirkan Anak






Baca juga artikel-artikel inspiratif tentang melalui kehilangan ini:

Hidup setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan Kala Gelombang Duka Kematian Menerjang

Memilih Mempertahankan Kandungan meski Janin Tak Berkembang Baik. Sebuah Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Diperoleh dari Mengalami Kehilangan




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Pahitnya Sebuah Perpisahan, Saya Mendapatkan Tiga Pelajaran". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar