Dari Mira, Seorang Perempuan 'Simpanan', untuk Para Istri di Rumah

Marriage

photo credit : pexels

222.3K
Bayangan saya tentang sosok seorang perempuan simpanan buyar seketika. Perempuan itu nampak rapi, wangi dan sopan sekali busana dan tutur katanya.

Suatu Sore di Jakarta

photo credit : pexels

Kami berjanji bertemu di suatu sore. Ia, perempuan itu, adalah pembaca beberapa tulisan saya di ributrukun.com.

“Saya mesti ketemu bapak. Harus! Saya pingin cerita. Tulis saja di ributrukun, ga apa-apa,” begitu bunyi pesannya di hp saya.

Saya tak punya bayangan sama sekali siapa yang akan saya temui. Sampai seorang perempuan muda dengan penampilan yang menarik, aroma parfum yang lembut menyapa,” Pak Wepe, ya?”

Saya hanya menjawab dengan anggukan, sembari mematikan notebook.

Kami pun berkenalan. Lebih tepatnya, ia yang memperkenalkan dirinya. “Saya juga baca cerita-cerita bapak di facebook. Anak-anak bapak lucu-lucu ya?” ujarnya.

Inilah kekuatan media sosial yang mengubah perjumpaan pertama serasa bertemu teman lama.

“Apa yang bisa saya bantu?” pertanyaan standar saya untuk membuka percakapan kami.

“Saya hanya mau cerita, pak. Bapak mau ya dengerin,” pintanya.

Sebuah permintaan sederhana yang barangkali menjadi kemewahan bagi sebagian orang : didengarkan.

Saya pun mempersiapkan diri untuk sebuah percakapan yang panjang dengan memesan segelas es kopi.


Mira dan Kisah Hidupnya yang Tak Terduga

“Bapak tahu kira-kira apa pekerjaan saya?” tanyanya

“Saya tidak bisa menebaknya. Tapi, dengan penampilan khas professional muda seperti ini, Anda pasti bekerja di salah satu kantor. Sekretaris, bagian marketing, atau apapun yang membutuhkan penampilan rapi dan menarik,” jawab saya.

”Bukan, pak. Saya ngga kerja seperti itu lagi. Sekarang ini saya jadi simpanan orang,” ia menjawab dengan rangkaian kalimat yang membuat keheningan sesaat.

”Simpanan?” Saya menatapnya untuk mencari tanda-tanda di wajahnya bahwa perempuan itu sedang bercanda. Saya tak mendapatkannya.

”Ya, pak. Simpanan suami orang,” jawabnya sambil menuangkan gula di teh pesanannya.

Percakapan kami berlanjut seiring tenggelamnya matahari.

Apa yang ada di benak Anda ketika mengetahui seorang adalah perempuan simpanan? Berpenampilan norak, mengumbar keseksian, dan glamour? Saya sama sekali tidak menjumpainya pada perempuan yang duduk di hadapan saya sore itu.

Mira, sebut saja namanya begitu, malah lebih memberikan kesan seorang ibu rumah tangga baik-baik, atau pegawai kantoran yang selalu rapi.

Mira sudah melewati perjalanan hidup yang panjang di usia nya yang ke 30-an. Jatuh cinta di usia belasan, mabuk asmara hingga diperkosa oleh pria yang menjadi pacarnya pada waktu itu. Pria yang mencintainya, tetapi juga memaksa Mira menyerahkan keperawanannya. Pria yang akhirnya juga membawa mira ke suatu tempat untuk menggugurkan kandungannya.

Cinta, atau tepatnya cinta dan nafsu, memang punya potensi luar biasa untuk mengubah manusia. Ia telah membawa Mira pada sebuah jalan kehidupan yang tak pernah ia bayangkan saat bertumbuh di usia remaja. Mira yang rajin ke tempat ibadah, telah berubah menjadi Mira yang bahkan tega mengakhiri hidup anaknya sendiri.

”Berhari-hari setelah peristiwa itu, saya sempat ngga bisa tidur. Saya seperti mendengar suara bayi yang menangis tiap kali saya memejamkan mata,” air matanya menetes ketika Mira menengok kembali perjalanan hidupnya.

Saya menyodorkan kotak tissue untuknya. Mira mengambil dua helai dan menyeka air matanya.

Pacar Mira meninggalkannya setelah pengguguran kandungan itu. Mira merasa ditinggalkan seperti sampah yang dicampakkan begitu saja. Tak berdaya. Tak berharga.

Walaupun hidup pribadinya berantakan, namun kuliah terselesaikan dengan hasil yang relatif baik. Mira mendapatkan sebuah pekerjaan dengan prospek masa depan yang sangat baik. Tak pernah berpikir untuk menjalin relasi dengan seorang pria, sampai akhirnya ia jatuh cinta dengan rekan kerjanya. Cinta yang tak pernah dapat ia miliki seterusnya, karena sebuah kecelakaan yang merenggut pria itu dari hidup Mira selama-lamanya.

”Saya ngga akan pernah jatuh cinta lagi. Hidup ini terasa ngga adil. Saya memang pernah berbuat salah, tapi mengapa Tuhan justru mengambil pria yang baik ketika saya sudah bermimpi untuk menikah?” dengan menahan tetesan air mata, Mira mengatakan kalimat-kalimat itu.

Mira merasa Tuhan telah menghukumnya dengan cara yang paling menyakitkan baginya.

Semenjak itu, ia meninggalkan kebiasaannya beribadah. Ia kecewa pada Tuhan. Mira pun menenggelamkan diri pada pergaulan bebas ibukota yang menjanjikan apa saja. Kekecewaan itu membuatnya berlari pada pengejaran kenikmatan, apa dan berapa pun harganya. Klasik, bukan?


Mira dan Keputusannya untuk Menjadi Istri 'Simpanan'

photo credit : pexels

”Lalu, mengapa memutuskan menjadi istri simpanan?” tanya saya setengah berbisik.

Mira terdiam sesaat, lalu menjawab,” Ini jalan termudah untuk hidup, Pak. Saya bisa mendapatkan apa yang saya mau. Tak perlu kerja keras. Cukup mengurus satu orang saja yang hanya datang sesekali.”

”Datang sesekali untuk seks?”

”Seks itu cuman salah satu. Bapak pasti tidak akan percaya kalau saya bahkan sampai melepas sepatu dan kaus kaki pria itu. Saya membuatkannya masakan. Saya sendiri yang menyetrika baju kerjanya. Saya bahkan kadangkala menemaninya memilih pakaian, mengusulkan agar ia berganti model potongan rambut dan kacamata. Saya yang mendandaninya sampai keren,” papar Mira bangga.

” Oh, mirip istri beneran ya?” jawab saya.

” Bapak salah. Justru hal-hal seperti itu sudah tak lagi dilakukan banyak istri di rumahnya. Kalau yang bersama saya mendapatkan itu di rumah, mengapa ia 'menyimpan' saya?”

Sekali lagi saya terkejut. Tadi saya terkejut dengan penampilan Mira yang tak seperti yang selama ini ada di bayangan saya. Sekarang saya terkejut karena yang terbayang di benak tentang pria yang ”menyimpan” perempuan juga tak sepenuhnya benar. Hidup ini memang menyimpan banyak kejutannya sendiri.

”Jadi, mohon maaf, kamu dibayar mahal untuk pelayanan seperti itu. Sama sekali tidak ada cinta?”

” Ya, Pak. Status boleh saja istri simpanan. Tapi saya dapat rumah, mobil, asuransi. Hanya saja ia sudah meminta saya agar jangan sampai punya anak, karena nanti jadi ribet urusannya. Cinta? Duh, saya sudah tidak mau bicara tentang itu lagi.”

"Oh ...," hanya itu jawaban yang keluar dari bibir saya.

Dua jam terlewati dengan cepat. Waktu itu memang relatif bukan?


Dari Mira, Istri Simpanan, untuk Setiap Istri

”Saya rasanya tidak bisa melanjutkan percakapan ini. Yang akan menjemput saya sudah datang. Boleh tidak, sebelum saya pergi, saya minta kamu menjawab satu pertanyaan ini,” kata saya sambil memasukkan notebook ke tas.

”Boleh, pak. Saya yang berterima kasih karena bapak sudah bersedia mendengarkan saya. Jangan lupa ditulis ya pak nanti. Apa yang ingin bapak tanyakan?”

Saya menatapnya dan bertanya,” Apa yang ingin kamu katakan pada para istri resmi yang ada di luar sana?”

Ia terdiam. Ia membalas tatapan itu sambil berkata,” Sayangi suami. Hargailah dan layanilah sepenuh hati, walau ia tak sempurna atau banyak kekurangan. Kalau tidak, suami yang baik-baik pun bisa jadi engga baik. Yang engga baik nanti nyari yang kayak saya.”

Saya terdiam, mencatat perkataan itu dengan HP.

“Eh, engga gitu juga kali. Ada juga pria yang istrinya baik-baik, tetap aja selingkuh. Pada dasarnya memang brengsek pria seperti itu,” perkataan ini dilanjutkan dengan tawa lepas Mira.

Mira memanggil pelayan sambil menyerahkan kartu kreditnya.

Di ibukota, malam itu gelap makin turun. Cahaya lampu di sekitar cafe memberikan keindahan di tengah kegelapan.

Hidup ini memang menyimpan banyak kisah di balik setiap keputusan. Tak perlu terlalu cepat mengambil kesimpulan, apalagi menyalahkan, bila kita belum mendengarkan kisah di baliknya. Tak melulu harus setuju dengan keputusan orang lain, namun kesediaan untuk mendengarkan alasan di baliknya adalah sebuah keharusan.


Kisah-kisah nyata lain dari penulis yang sama :

Sahabat Saya Mengaku Gay. Inilah Kisah Kehidupannya

Air Mata Perempuan

"Saya ingin Anak Saya Bangga pada Ayahnya" Sebuah Kisah Nyata tentang Ungkapan Cinta Ayah yang Tak Mewujud dalam Kata

Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Mira, Seorang Perempuan 'Simpanan', untuk Para Istri di Rumah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Yosua Agung | @yosuaagung

Wow..