Dari Mereka yang Telah Mengadopsi Anak: Hal-Hal Penting yang Harus Diketahui Orangtua sebelum Memutuskan Adopsi

Parenting

[Image: Huffington Post]

3.8K
Saat anak sedang nakal-nakalnya, tergodakah orangtua adopsi bertanya, "Ini menurun sifat siapa?" Jika itu anak kandung, kebanyakan orangtua pasrah. Bagaimana jika anak adopsi? Apakah tidak akan menyesal memilih anak yang ini dan bukan yang satunya lagi?

“Perjuangan paling melelahkan saat Andri memasuki usia remaja,” ujar Susi ketika saya menanyakan suka duka memiliki anak adopsi kepadanya.

Sepupu saya ingin mengadopsi anak. Pernikahannya sudah memasuki usia 8 tahun dan masih belum ada tanda-tanda akan memperoleh momongan.

Memahami permasalahan sebelum mengambil keputusan itu penting, agar sepupu saya dapat mempersiapkan diri dengan bijak.



Pilihan Papa dan Mama

Susi sudah memiliki dua anak perempuan ketika mengadopsi Andri. Menurut tradisi keluarga suaminya, anak laki-laki itu wajib ada untuk meneruskan marga keluarga. Putri bungsunya sudah berusia 10 tahun sementara anak laki-laki idaman belum juga menampakkan tanda-tanda hadir. Akhirnya Susi dan suaminya memutuskan untuk adopsi.

Semua berjalan mulus dan lancar hingga Andri memasuki usia 11 tahun. Andri mendengar bisik-bisik bahwa sesungguhnya dia bukan anak kandung. Hal ini membuatnya merasa tertolak dan memberontak sebagai pelampiasan rasa kecewa.

[Image: Rambling Rabbit]

Selama beberapa tahun Susi dan suaminya bergumul dan berdoa untuk menyelesaikan masalah ini, bagaimana caranya mengobati luka akibat perasaan tertolak. Hingga suatu saat Tuhan memberi hikmat kepada pasangan ini. Mereka mengajak Andri berbicara dari hati ke hati.

“Andri, Tuhan memberi Papa dan Mama dua putri, yaitu kedua kakakmu. Mereka memang lahir dari rahim Mama, tetapi Papa dan Mama tidak bisa memilih. Jenis kelamin, warna kulit, rambut lurus atau keriting, semua tidak bisa kami pilih. Mereka betul-betul pilihan Tuhan yang dianugerahkan melalui Mama,” ujar Susi menjelaskan dengan penuh kasih.

“Mama dan Papa paham kekecewaan Andri setelah menyadari tidak lahir dari rahim Mama langsung.

Tetapi tahukah Andri, bahwa Andri betul-betul PILIHAN PAPA dan MAMA?” demikian ia melanjutkan, ”Di antara puluhan bahkan ratusan anak yang siap diadopsi, Papa dan Mama MEMILIH ANDRI.

Kami jatuh cinta saat pertama kali melihatmu. Andri pilihan yang sesuai dengan impian Papa Mama. Tuhan sudah memberikan peneguhan dalam hati kami, Andri adalah anugerah Tuhan bagi Papa Mama, yang lahir melalui rahim ibu lain. Itu saja bedanya.”

Andri nampak terkejut mendengar pemaparan ini. Ia langsung menangis memeluk Mama dan Papanya. Dia merasa terhibur dan bersyukur sekali, menyadari bahwa dialah pilihan, idaman Papa dan Mamanya. Andri sempat menanyakan siapa orangtua kandungnya. Ibunya seorang mahasiswi yang hamil di luar nikah. Setelah melahirkan, ia menyerahkan bayinya ke panti asuhan dan menghilang tanpa jejak.

“Maafkan Andri, Pa, Ma ... sudah membuat Papa Mama sedih dan galau selama ini.”

[Image: gooddaynow.com]

Sejak itu Andri berubah, kembali menjadi anak yang manis dan rajin. Susi sempat mengajak Andri mengunjungi panti asuhan tempatnya diadopsi. Memang tidak ada data jelas siapa nama dan di mana alamat ibu kandungnya di sana. Melihat keadaan anak-anak di panti asuhan, Andri bersyukur memiliki papa mama yang mengasuh dan mengasihinya dengan tulus.

Baca Juga: 'Benarkah Saya Anak Papa Mama?' Mengungkap Jati Diri Anak Adopsi: Kapan dan Bagaimana?



Dititipkan Tuhan di Perut Teman Mama

Sahabat saya yang lain, Sonya, yang mengadopsi seorang bayi perempuan bercerita, dia mulai memberikan pengertian kepada putrinya sejak kecil. Mula-mula dia mengajarkan perbedaan pria dan wanita saat putri adopsinya dimandikan bersama dengan putra kecilnya. Sonya memiliki seorang putra kandung.

Kemudian pada kesempatan lain, ia mengisahkan keindahan bunga yang berwarna warni. "Tuhan menciptakan keragaman agar dunia makin indah," tuturnya. Setelah itu Sonya menunjukkan kulitnya yang berwarna kuning, sementara sang kakak berwarna putih dan Putri berkulit sawo matang. Bak pelangi yang beraneka warna, ketika menjadi satu menjadi sangat indah. Demikian ia memberikan pelajarannya.

Pada suatu hari, Putri bertanya kepada Sonya, ”Dulu Putri di perut mama seperti Tante Ani yang sedang hamil?”

“Tidak, Putri. Dulu Tuhan menitipkan Putri di perut teman Mama. Lalu setelah lahir, Putri jadi anak Mama,” Sonya menjelaskan dengan arif.
[Image: Onmed.gr]

“Putri dititipkan Tuhan di perut teman Mama”, demikian Putri bercerita dengan polos pada teman-temannya. Karena sejak kecil Putri memang sudah tahu dia diadopsi, maka tidak mengalami masalah pencarian kebenaran, siapa orangtua kandungnya.



Mengasihi Tanpa Syarat Butuh Keberanian

Gary Chapman berkata, orangtua yang memutuskan untuk memiliki anak - baik itu anak kandung maupun anak adopsi - harus mempersiapkan diri untuk menyingkirkan kepentingan pribadi selama 20 tahun ke depan. Memiliki anak berarti harus siap berkorban. Jangan hanya berpikir manisnya saja.

Baik memiliki anak kandung maupun adopsi, tidak ada jaminan bahwa anak itu sehat. Jika cacat atau berpenyakit, membutuhkan pengorbanan dan biaya yang besar, siapkah?

Beranikah tetap mengasihi anak ini tanpa syarat?
[Image: wovenbylove.org]

Jika itu anak kandung, kebanyakan orangtua pasrah. Bagaimana jika anak adopsi?

Apakah tidak akan menyesal memilih anak yang ini dan bukan yang satunya lagi?

Mungkin berbagai pengorbanan termasuk uang sudah dilakukan, lalu anak gagal. Dapatkah menerimanya?

Saat anak sedang nakal-nakalnya, lalu orangtua adopsi tergoda bertanya-tanya, "Ini menurun sifat siapa?"

Sedikit banyak tentu ada karakter bawaan dari orangtua kandung anak adopsi, yang mungkin tidak kita mengerti.

Mengambil anak adopsi membutuhkan persiapan mental lebih besar. Pertimbangkan dan persiapkan diri dengan matang jika memang hendak mengambil anak adopsi.

Sekali mengambil keputusan, harus berani menerima segala tanggung jawab dan risikonya.

Selamat berjuang!



Baca Juga:

Perlukah Tes DNA? Hikmah di Balik Perseteruan Mario Teguh dan Ario Kiswinar

Memilih Mempertahankan Kandungan Meski Janin Tak Berkembang Baik. Sebuah Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Diperoleh dari Mengalami Kehilangan

Tak Diharapkan Lahir oleh Ibu, Tak Dicintai Bahkan oleh Diri Sendiri. Saya Pulih, Bangkit dan Menata Masa Depan karena 5 Hal ini

Aborsi dan Bunuh Diri Bukan Solusi. Kisah Nyata Sarni ini Membuktikan Rencana Tuhan Jauh Lebih Indah





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Mereka yang Telah Mengadopsi Anak: Hal-Hal Penting yang Harus Diketahui Orangtua sebelum Memutuskan Adopsi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar