Dari Lumpuh, Pneumonia, ke Kanker Stadium 4. Ini tentang Yo dan 3 Sakitnya

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Elijah O'Donnell]

4.7K
Jika katakanlah ada sebuah ’takdir’ dari semesta ini, Anda harus menderita salah satu di antara tiga penyakit ini, mana yang akan Anda pilih?


Guillain-Barré Syndrome.
Pneumonia.
Kanker Paru Stadium 4.


Yang pertama. Mungkin tak banyak yang familiar, Guillain-Barré Syndrome - disingkat GBS - adalah sebuah gangguan di mana sistem kekebalan tubuh menyerang syaraf. Gangguan ini dapat menyebabkan kelumpuhan pada penderitanya.

Pneumonia, atau lebih populer dengan sebutan paru-paru basah, adalah sejenis infeksi yang menyebabkan paru-paru dipenuhi dengan cairan, membuat penderitanya mengalami kesulitan bernafas.

Lalu, kanker paru. Stadium 4.

Saya yakin, walau Anda tak memahami secara spesifik, kata 'kanker' dan 'stadium 4' rasanya sudah cukup menjelaskan segalanya.


Nah, mana yang menurut Anda paling ringan?

Jika katakanlah ada sebuah 'takdir' dari semesta ini, Anda harus menderita salah satu di antaranya, mana yang akan Anda pilih? Yang paling ringan tentu saja, bukan? Tapi, yang mana? GBS, Pneumonia, dan kanker paru stadium 4, ketiganya sama-sama berpotensi membawa Anda makin dekat dengan kematian, bukan?


Bisakah sekarang Anda membayangkan ada seseorang yang mengalami tiga penyakit itu berturut-turut di dalam hidupnya? Guillain-Barré Syndrome, Pneumonia, dan Kanker Paru Stadium 4.

Sebelum Anda berkata mustahil, izinkan saya memperkenalkan teman saya.



Namanya Yonathan Massellino Prajitno.

Ia salah seorang rekan sepanggilan saya dalam pelayanan keagamaan dan kemasyarakatan. Usianya baru 34 tahun, sudah menikah selama kurang lebih 8 tahun dengan Marhaenita Paripurna Zendrato [Nita].

[Yonathan dan Nita - Photo credit: David Aden]

Berturut-turut dalam hidupnya, Yonathan mengalami tiga penyakit itu: Guillain-Barré Syndrome, Pneumonia, dan kini Kanker Paru Stadium 4.

Apa yang membuat Yonathan bertahan dan terus berjuang demi kesembuhannya?

Beberapa waktu yang lalu saya meminta kesempatan untuk 'berwawancara' dengannya melalui WhatsApp, karena kami tinggal berbeda kota. ‘Wawancara’ lewat WhatsApp itu pun berlangsung sambil Yonathan, berdasarkan pengakuannya, berbaring untuk menahan rasa sakit.



"Yo, sakit apa yang kamu derita saat ini, dan bagaimana responsmu ketika pertama kali mengetahui apa yang menjadi penyakitmu?"

Kanker Paru stadium 4.

Respons saya pertama kali dengar seperti terkena petir di siang bolong. Cukup terkejut. Rasanya dunia berakhir hari itu. Terlintas tidak akan bertemu lagi dengan keluarga, istri, dan jemaat yang saya kasihi.



"Apa respons istrimu?"

Tatkala menerima hasil biopsi pertama kali, istri menangis hampir seharian. Merasa takut kehilangan, tidak siap kehilangan, tidak merasa sanggup bila harus menjalani semua sendirian. Apalagi tatkala bertemu dokter dan dikatakan stadium 4, dia menangis. Saya memegang tangannya waktu di rumah sakit. Dan memeluknya di rumah.



"Apa yang kamu sampaikan kepada istri untuk menghiburnya dalam kesedihan mendalam seperti itu?"

Waktu istri menangis, saya bilang, ”Mari kita nikmati hidup ini, saya belum mati. Mari jalani semuanya sehari lepas sehari. Kesulitan sehari cukup untuk sehari.” Lalu saya memeluknya.

Baca Juga: Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja



Beberapa tahun sebelum divonis dokter dengan Kanker Paru stadium 4, Guillain-Barré Syndrome telah menyebabkan Yonathan tak mampu berdiri dan berjalan. Setelah lumpuh selama hampir setahun, perlahan namun pasti kekuatannya pulih kembali. Ia bisa berdiri dan berjalan, walau tak sekuat dulu lagi.

Pneumonia pun tentu bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Apalagi kini mesti berhadapan dengan Kanker Paru stadium 4. Bertubi-tubi penyakit menghajar, namun Yonathan dan Nita mencoba untuk terus bertahan.

Sebagai orang yang melayani di bidang keagamaan, saya memahami betapa sakit-penyakit, apalagi yang cukup berat dan bertubi-tubi sering kali dipersepsi sebagai hukuman Tuhan. Saya pun menanyakan ini kepada Yonathan.



"Apakah dalam rentetan sakit ini, kamu pernah berpikir bahwa Tuhan menghukummu?"

Pernah terlintas, tapi kemudian tampaknya saya lebih melihat bahwa Tuhan sedang membentuk saya. Dalam arti Tuhan melihat ada bagian dalam hidup saya yang masih belum sesuai dengan yang Tuhan mau, maka Dia membentuk saya melalui kejadian-kejadian ini.

Baca Juga: Menjadi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Kekuatan dan Keunikan Kami



"Dengan tiga sakit penyakit yang berurutan ini, apa yang ingin dibentuk Tuhan dari hidupmu? Mengapa harus lewat penyakit?"

Yang pasti penyerahan diri secara total, Mas. Saya ini orangnya banyak mengandalkan kemampuan diri saya. Semua dipikirkan dan direncanakan melalui apa yang saya bisa.

Kalau sakit begini, ya bisanya cuma manut, ikut Tuhan. Jalani sehari lepas sehari. Masuk lewat pintu yang Tuhan buka. Kalau tidak ada pintu terbuka, ya nunggu Tuhan buka pintu.



Kita tak sepenuhnya dapat mengendalikan apa yang terjadi dalam hidup kita. Namun, ada satu hal yang sepenuhnya berada dalam kendali kita: pilihan sudut pandang kita terhadap sebuah peristiwa. Yonathan telah membuktikan hal ini lewat sudut pandang yang dipilihnya.

Tak masalah jika tak masuk akal bagi orang lain, sebuah sudut pandang pribadi memang tak dimaksudkan untuk dapat dimengerti oleh orang lain. Sudut pandang pribadi adalah pilihan diri bagi kebaikan diri sendiri. Kita tak berutang penjelasan apalagi bertanggung jawab atas kepuasan orang lain.

Kini Yonathan, dengan dukungan Nita dan orang-orang tercinta di sekitar mereka, sedang berupaya untuk mencari penyembuhan dari Kanker Paru Stadium 4. Saya pun menanyakan tentang hal ini pada Yonathan.



"Seberapa besar keyakinan bahwa kamu akan sembuh dari Kanker Paru Stadium 4 ini?"

Kalau keyakinan sembuh, sejujurnya dari beberapa rekan dan keluarga, keadaan cancer saya ini kemungkinan sembuh adalah di bawah 5%. Tapi bagi saya, saya juga menemukan adanya [anggota] jemaat yang bisa sembuh dari kanker walau kelihatannya mustahil.

Saya pribadi tidak memikirkan hasil pengobatan atau sembuh tidak sembuh. Saya hanya berpikir, bertanggung jawab dengan keadaan saya sekarang. Karena kesembuhan adalah dari Tuhan, saya cukup mengerjakan bagian saya: berobat, berhikmat memilih pengobatan, jaga pola makan, dan sebagainya.

Iman saya, kalau Tuhan mau saya sembuh saya pasti sembuh. Tapi kalau tidak, saya juga mengatakan, "Puji Tuhan."

Bukankah Firman Tuhan bilang, bagiku hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan?

Baca Juga: Menderita Kelainan Tulang Belakang Menahun, Inilah 7 Hal yang Membuat Saya Mampu Berdiri Tegak, Menghadapi, dan Melaluinya



Ya! Kita tidak pernah dapat memastikan buah dari sebuah tindakan. Kita hanya dapat berfokus pada sebuah tindakan, tanpa mesti terganggu dengan pertanyaan: apakah ini akan efektif atau tidak?

Sekali lagi, orang-orang seperti Yonathan dan Nita, menurut saya adalah bukti bahwa hidup adalah sebuah pilihan bahkan di tengah sebuah kenyataan yang tak pernah dapat kita pilih. Sikap terhadap suatu masalah akan membentuk daya tahan kita.

Pada akhirnya, orang akan mengenang sikap seseorang, dan bukan realita masalah yang harus dihadapi. Setiap orang punya masalah, tapi tak semua memilih bersikap tabah.

Baca Juga: Bisakah Hari yang Buruk Menjadi Lebih Buruk?


Selamat berjuang, Yonathan dan Nita.

Yang terbaik akan datang bagi mereka yang berjuang!



Baca Juga:

Jangan Biarkan Sakit Meruntuhkan Semangat Hidupmu. Dua Hal Ini Memberi Kekuatan Untukmu Bertahan

Ketika Pasangan Terbaring Sakit, Inilah 9 Cara Menunjukkan Perhatian dan Menjaga Diri Tetap Sehat



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Lumpuh, Pneumonia, ke Kanker Stadium 4. Ini tentang Yo dan 3 Sakitnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Alibaba Alibabi | @alibabaalibabi

makasih kak info nya Harga emas hari ini

MungMung Tanudirejo | @mungmungtanudirejo

Sikap terhadap suatu masalah akan membentuk daya tahan kita. Terima kasih, kisah nya memberkati ????