Dari Kisah Ahok Gugat Cerai Veronica, Tersingkaplah 3 Perspektif Hidup Ini

Reflections & Inspirations

photo credit: ngopibareng

7.3K
Ya! Ahok menggugat cerai Veronica. Namun saya tidak mau terus berkutat dalam pikiran negatif. Mencoba berfikir jernih, maka munculah refleksi pribadi dalam sebuah perenungan.

Berita Ahok menceraikan Veronica, istrinya, menjadi pokok pembahasan yang viral di media sosial. Saya sendiri menerima beberapa pertanyaan dari rekan-rekan di gereja. Bagaimana tidak, baru saja hari minggu sebelumnya, dari atas mimbar seusai berkotbah, saya berdoa untuk Ahok.

"Pak Joy sudah tau ya? Gimana pak? Kok bisa gitu ya?"

Wah, macam-macam responnya. Padahal saya sendiri cukup terlambat mengetahui berita tersebut.

Sepanjang jalan dari Surabaya-Jogyakarta, saya berdiskusi dengan istri sambil terus memantau update berita tersebut. Dan hingga saya menulis artikel ini, berita tersebut masih tetap sama. Ya! Ahok menggugat cerai Veronica. Namun saya tidak mau terus berkutat dalam pikiran negatif. Mencoba berfikir jernih, maka munculah refleksi pribadi dalam sebuah perenungan.

Inilah 3 perpektif hidup yang tersingkap dari kisah gugatan cerai Ahok terhadap Veronica.


1. Manusia mudah menilai keputusan seseorang tanpa menyelami kesulitan yang harus dihadapi

photo credit: kompas

Acapkali kita diperhadapkan dengan pilihan yang sulit. Mencoba bertanya ke kanan dan ke kiri, menanti sebuah respon jawaban yang terbaik dari seseorang sebelum memutuskan. Waktu, tenaga, pikiran terkuras untuk memikirkannya, merenungkan, dan menimbang lagi sebelum akhirnya memutuskan. Namun, setiap keputusan pasti memiliki risiko. Yang kita lakukan hanya berusaha untuk meminimalkannya. Lalu, keputusan pun diambil. Dan siap-siap....Ya! Seketika, semua orang mencela dan menyayangkan keputusan itu.

Kemudian kita bertanya-tanya. Jika saya ambil keputusan yang lain, apakah kira-kira celaan itu akan muncul? Dan jawabannya,..YA! Sudah pasti!

Keputusan kita tidak akan memuaskan orang lain. Namun seringkali respon orang lain hanyalah bisa berkata: “Kok gitu sih? Emang gak ada pilihan lain?!” “Kasian ya orang itu..!” “Sayang, mestinya dia gak ambil keputusan itu!”

Beberapa kali saya mendampingi seorang yang digugat cerai pasangannya atau sebaliknya mengambil keputusan untuk menceraikan pasangannya. Dan, beberapa kali saya menemukan bahwa pilihan itu memang pilihan yang sangat sulit dan berat, walau tak semuanya demikian. Tentu saya tidak membenarkan pilihannya, tapi saya mencoba menerima pribadinya. Sama seperti saat menghadiri rumah duka, saya lebih banyak menunjukkan kehadiran diri daripada memberi ceramah kehidupan.

Bukankah demikian yang Tuhan ajarkan? Membenci pilihannya untuk melakukan dosa, namun tetap menerima dan mengasihi pribadinya.

Manusia mudah menilai keputusan seseorang tanpa menyelami kesulitan yang harus dihadapi. “Memang menjadi pengamat jauh lebih mudah dari pemain, kata seorang pengamat!”


2. Kita yang tidak bercerai, belum tentu lebih baik dari mereka yang bercerai

photo credit: pexels

Seorang dokter berhak memberikan penilaian terhadap pasien. Dokter bertindak sebagai “hakim” yang memvonis seseorang sakit A atau B. Demikian juga seorang dosen pada mahasiswanya. Dokter dan dosen adalah mereka yang menilai berdasarkan ilmu dasar yang mereka pelajari.

Benar, di keyakinan Kristen, perceraian tidak dapat dibenarkan. Apa pun alasannya. Tetapi, bukan berarti mereka yang bercerai tidak akan diampuni Tuhan. Ya! Dalam keyakinan Kristiani, hanya dosa menghujat Roh Kudus sajalah yang tidak bisa diampuni Tuhan.

Orang yang percaya Tuhan akan sebisa mungkin tidak melakukan dosa. Sebisa mungkin! Tapi toh mereka jatuh juga. Sama seperti anak saya, Deon. Dia pernah berkata, "Pah, abang pengen sekali buat papah senang. Tapi abang bikin salah terus!" Respon saya,"Keinginanmu untuk menyenangkan papah saja, sudah menjadi kesenangan papah!"

Jika benar Ahok melakukan kesalahan, maka Tuhan pasti memberikan penilaiannya sendiri. Kita yang tidak bercerai, toh sejujurnya hidup kita tidak lebih baik dari mereka yang bercerai.

"Tapi Pak, beliau kan tokoh yang diidolakan. Kalau orang biasa ya tidak apa!"

Saya bisa memahami dampak sosialnya. Benar, tidak dapat dipungkiri banyak orang yang kecewa. Tapi ada baiknya kita belajar menunggu sambil mendoakan yang terbaik dari apa yang sebenarnya terjadi.

Baca juga: Benarkah Gugatan Cerai Ahok Disebabkan karena Perselingkuhan?


3. Manusia pasti mengecewakan, hanya Tuhan yang tidak akan mengecewakan

Sesungguhnya, Nabi, Pemimpin, dan Para Rasul pun pernah jatuh dalam kesalahan. Apalagi kita. Jika berita Ahok ini benar, maka ini menjadi peringatan. Bukan saja untuk berjaga-jaga dalam pernikahan kita, tetapi juga peringatan untuk tidak men-Tuhan-kan manusia.

Ketika mendengar berita ini, banyak orang tidak percaya. Responnya sangat bervariasi. Tapi bagi pendukung Ahok, tentu langsung merespon negatif. "Itu Hoax, kok tega sih! Orangnya masih dipenjara aja kok terus di-bully!" Kira-kira begitulah respon pendukungnya. Bahkan ketika saya berkata bahwa hal itu bisa saja terjadi, para pendukung Ahok langsung berbalik menyerang.

Mungkin kalimat di atas adalah hasil refleksi diri saya sendiri. Saya tidak terima saat mendengar berita tersebut. Namun sejalan dengan waktu, saya mulai merenungkan. Jika Daud saja bisa jatuh, lalu mengapa tidak dengan Ahok. Jika Salomo saja bisa jatuh, lalu mengapa tidak dengan Ahok. Jika Nabi Elia saja bisa jatuh, mengapa tidak dengan Ahok.

Baca juga: Yang Terlewatkan dari Riuhnya Gugatan Cerai Ahok kepada Veronica Tan

Saya mulai mengingatkan diri saya sendiri. Ahok memang istimewa. Dia pribadi yang luar biasa. Tapi beliau tetap manusia. Berikan ruang bagi dia menjadi manusia sama seperti kita. Mengagumi manusia lebih daripada apa yang seorang manusia bisa lakukan, justru akan menyiksa manusia itu. Manusia pasti mengecewakan, hanya Tuhan yang tidak akan mengecewakan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Kisah Ahok Gugat Cerai Veronica, Tersingkaplah 3 Perspektif Hidup Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Joy Manik | @joymanik428

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar