Dari Gudeg Bubur Lemu Kala Gibran Menjamu AHY, Kita Belajar Merayakan 17-an

Reflections & Inspirations

[Photo credit: suratkabar.id]

2.5K
Saat Gibran dan AHY mengobrol sana sini dan saling puji, ‘Lebaran Kuda’ berlalu, diplomasi ‘Nasi Goreng’ jadi kurang laku.


Gibran, anak Presiden Jokowi, dan AHY, anak SBY, bertemu. Mereka tidak sekadar mengobrol. Gibran menjamu AHY dengan gudeg plus bubur lemu.

Dari peristiwa sederhana ini, ada 3 teknik diplomasi tingkat tinggi yang perlu kita pelajari:



Orangtua boleh tegang, anak tetap senang-senang

Sejak Jokowi naik ke kursi RI 1, hubungan antara SBY dan Jokowi masuk kategori ‘dingin’. Bahkan saling sindir di media sosial pun terjadi. Bagaimana dengan sang anak? Mereka berdua tampak santai mengobrol, bahkan saling memuji dan diakhiri dengan salam komando. Bukankah sikap mereka berdua justru bisa jadi contoh bagi orangtua masing-masing?

Para orangtua perlu bercermin dari pertemuan bermutu ini. Lazim kita lihat jika ada anak yang berkelahi, orangtua ikut campur. Yang menggelikan, saat anak-anak mereka sudah berbaikan, bahkan berangkulan, orangtua masih saling dendam.

Itu sebabnya Guru Agung meminta kita untuk belajar dari sikap anak-anak yang tulus dan apa adanya, bukan bulus dan ada apanya.

Baca Juga: Aib Kok Dipamerin? Sebelum Posting di Media Sosial, Pikirkan Ini!



Orangtua diplomasi nasi goreng, anak gudeg campur bubur

Namanya saja digoreng, bisa jadi nasi yang sudah kering tambah kerontang. Butuh air minum banyak untuk melegakan tenggorokan sehabis makan nasi goreng. Bahkan orang yang sedang panas dalam katanya jangan banyak-banyak makan nasi goreng. Beda dengan bubur. Di samping lunak dan enak, bubur cenderung cair.

Hubungan yang kering seperti nasi goreng jadi mencair dengan diplomasi bubur. Masa ada pemimpin yang sampai sekarang belum pernah akur meskipun sudah sama-sama berumur?

Saya memakai cara yang sama untuk mencairkan hubungan. Saat SMA, saya memiliki teman yang tanpa sebab memusuhi saya. Agar tidak berlarut-larut sampai lulus SMA tetap membawa permusuhan tanpa penjelasan, saya mengajaknya minum es di depan sekolah. Ternyata dia termakan omongan orang sehingga membuatnya mempunyai pikiran dan tindakan yang rasis. Begitu es mencair dalam mulut, demikian juga hubungan kami. Sejak saat itu, dia justru menjadi salah satu sahabat saya.



Cah kota dan cah ndeso mbangun karso

Jika sebelumnya vlog si adik, Kaesang, diperkarakan gara-gara kata ‘Dasar Ndeso’, kini Gibran, sang kakak, justru mempersatukan antara kota dan desa. AHY yang berpakaian resmi batik dan sepatu pantofel disambut Gibran dengan hoodie, jeans dan sepatu kets. Saat kota dan desa bersatu, negara pasti maju.

Saya diundang ke beberapa grup kedaerahan. Saya berasal dari kota kecil Blitar di Jawa Timur. Grup Arek Blitar ini sering mengadakan kopi darat dengan mengadakan wisata ke desa-desa dan, tentu saja, kumpul bareng di kota kelahiran tercinta. Saat ‘konco cilik’ [Jawa = teman kecil] berkumpul, baik dari kota besar seperti Jakarta dan Surabaya maupun kota kecil seperti Tulungagung dan Blitar, suasana gayeng terjadi. ‘Dasar Ndeso’ bukan lagi menjadi cemoohan, apalagi makian, melainkan menjadi ‘bumbu gurauan’ yang membuat persahabatan makin kental.

Saat Gibran dan AHY mengobrol sana sini dan saling puji, maka ‘Lebaran Kuda’ berlalu, diplomasi ‘Nasi Goreng’ jadi kurang laku. Ketimbang baper dan caper serta akhirnya nyinyir ke medsos, bukankah lebih baik kita menyanyikan bersama lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’-nya Ismail Marzuki?


Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala


Refrein:

Melambai lambai nyiur di pantai

Berbisik bisik raja kelana

Memuja pulau nan indah permai

Tanah Airku,

Indonesia


Mengapa negeri yang elok ini kita jadikan ajang saling olok dan saling gorok? Mengapa negeri yang elok ini kita biarkan teronggok karena banyak momok?

Bukankah jauh lebih elok jika kita menyemai benih perdamaian agar negeri kita semakin permai?

Baca Juga: Kaesang Pangarep pun Dilaporkan. Hidup Damai Ternyata Sesederhana Ini!



"Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan kebohongan elit atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu mengubah nasib negerinya sendiri. Aku tinggalkan kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya."

- Bung Karno






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Gudeg Bubur Lemu Kala Gibran Menjamu AHY, Kita Belajar Merayakan 17-an". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar