Dari 3 Orang Istri untuk Suami Mereka yang Berselingkuh, Sebuah Rintihan Hati

Marriage

[Image: ributrukun.com]

5.6K
Aku mencintaimu. Dan akan tetap mencintaimu.

“Saya seperti dikhianati, Pak Xavier,” ujar seorang ibu dua orang anak kepada saya.

“Apa salah saya? Saya sudah berusaha keras untuk menjadi istri yang baik,” ujar ibu satu anak.

“Kok tega-teganya dia selingkuh. Semua sudah saya berikan,” ujar istri pengusaha peralatan teknik.


Begitu tiga di antara sekian banyak keluhan - tepatnya rintih hati - para istri yang suaminya ketahuan selingkuh.

Kotak tisu di meja kerja saya cepat sekali habis. Bukan saya yang menghabiskannya, tetapi orang-orang yang saya konseling. Seringkali mereka tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya butuh tempat untuk mencurahkan isi hati - dan air mata - dengan tenang. Saya memang tidak mengganggu - lebih tepatnya membiarkan - mereka menangis lebih dulu sebelum memberikan masukan, saran, kekuatan kepada mereka yang sedang dirundung masalah.

Atas seizin mereka yang memiliki suami yang selingkuh, dengan perubahan di sana-sini untuk privacy mereka, saya rangkumkan ketiga rintihan ini dengan pesan,

hai para suami yang selingkuh,
dengarkan rintihan hati istrimu ini!



Seabad Seakan Sekelebat

25 tahun

Dua puluh lima tahun telah berlalu

Tawa dan air mata mewarnai kehidupan kita

Masih terngiang sebuah pertanyaan dari Romo

"Apakah cinta itu?"

Kau tidak dapat mendefinisikannya

Aku menjawab,

"Menerima pasangan apa adanya, kekurangan dan kelebihannya,
setia dalam suka dan duka."

Dan 25 tahun aku membuktikannya.

Sekalipun kau berulang kali mengkhianati janji yang masing masing kita ucapkan

"Aku hanya mencintaimu. Tidak akan ada yang lain"

Tapi ...
Kau membiarkan hatimu diisi orang lain
Bahkan kau berkata menyesal menikah denganku????

Berkali-kali kau menyayat hatiku

Sakit ... teramat sangat sakit ...

Walau kau tetap di sampingku

Menggenggam tanganku menjelang tidur

Namun ...

Pelukanmu tak lagi erat

Ciumanmu tak lagi bergairah

Tatapanmu tak lagi mesra

Bibirmu penuh dusta


Janjiku 25 tahun yang lalu tak pernah kulupakan

Aku mencintaimu
Dan tetap akan mencintaimu
[Image: Prima]

Kau belahan jiwaku

Sampai Pemilik Hidupku memanggilku pulang.


Puisi inilah yang merupakan rintihan seorang ibu yang dengan setia mendampingi suaminya sampai pesta perak pernikahan mereka. Rambut mereka yang sama-sama keperakan ternyata tidak membuat hati sang istri ikut gemerlap. Sebaliknya, dia merasakan masa depannya gelap saat suaminya dengan kalap memilih untuk memiliki wanita lain.

Baca Juga: Ingin Cinta Tetap Manis Sepanjang Usia? Begini Caranya



Kok Aku Bisa Sebodoh Ini?

“Saya sudah mendengar bahwa suami saya ada affair dengan wanita lain, Pak Xavier,” ujar seorang ibu, “tetapi saya tidak percaya.” Inilah awal curhat seorang ibu kepada saya. Pembuka yang kemudian mengalirkan cerita duka ini dari mulutnya.

Orangtua sudah tidak setuju sejak awal, tetapi saya nekat. Maklum, dia tampan dan tampaknya bertanggung jawab. Pacaran kami terbilang cepat dan diikuti oleh pesta pernikahan yang - meskipun tidak besar-besaran - cukup membuat kami bahagia.

Ternyata bulan madu - seperti yang Pak Xavier sering khotbahkan - hanya berjalan paling lama 31 hari. Berikutnya hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan, bahkan tahun-tahun empedu menjadi hantu setiap hari.

Perangainya kasar. Omongannya kotor. Puncaknya, tangannya pun gampang menggampar.

Karena malu dengan orangtua, saya mencoba bersandiwara, semampu saya. Di hadapan mereka, saya sama sekali tidak pernah mengeluh.

Suatu malam kami bertengkar. Suami menggampar muka saya. Ada lingkaran membiru di mata saya. Namun, karena saya pandai berdandan, lebam itu saya tutupi dengan eye shadow sehingga tersamar.

Puncaknya, seperti yang tadi saya katakan, saya dengar suami saya punya WIL. Namun, saya tetap tidak percaya sebelum melihat atau mendengar sendiri.

Suatu kali saya sedang menyapu di belakang. Kamar mandi rumah peninggalan Belanda memang terpisah dari rumah induk. Sayup-sayup saya mendengar suami saya sedang mengobrol dengan seseorang. Saya pura-pura terus menyapu tetapi pelan-pelan mendekat ke kamar mandi. Saat saya tempelkan telinga ke lubang kunci, saya kaget karena jelas sekali dia sedang berbicara sangat mesra dengan seseorang di seberang sana. Ketika saya cross check, suami mengaku, bahkan menantang saya untuk cerai. Tentu saja saya menolak.

Tiap malam saya berdoa kepada Tuhan,

“Tuhan, ampuni saya jika saya sudah mengabaikan peringatan-Mu lewat orangtua saya. Saya tahu Papa Mama mencium sesuatu yang tidak saya ketahui. Ampuni saya yang bandel ya, Tuhan. Ampuni suami saya. Celikkan mata rohaninya.

Dia adalah cinta pertama dan cinta terakhir saya. Bagaimanapun sikap dan perbuatannya, saya siap mengampuninya.
[Image: crosswalk.com]

Jamah hatinya, Tuhan. Saya hanya ingin menikmati sisa hidup saya dengan bersamanya.”

Baca Juga: Pasangan Berselingkuh, Duniamu Tak Harus Runtuh. Inilah 5 Cara Bertahan ketika Pasangan Tak Setia



Haruskah Berakhir Secepat Ini?

“Pak Xavier, saya tidak menduga kalau rumah tangga saya harus berakhir secepat ini,” ujar seorang istri yang belum setahun menikah. Hatinya begitu sakit ketika suaminya memilih wanita lain, justru saat dirinya sedang hamil. Rupanya, sebelum menikah, sang suami sudah punya gebetan lain dan setelah menikah pun tidak bisa lepas darinya. Kemudian meluncurlah kisahnya.

Ini memang salah saya. Teman-teman sudah memberitahu bahwa suami saya ‘nakal’ tetapi saya menghibur diri dengan berkata, “Kalau suami nakal itu biasa. Toh kalau menikah bisa berubah.” Rasa cinta yang besar terhadapnya membutakan mata saya. Kesalahan fatal itulah yang harus saya tebus saat ini.

Sambil menunggu kelahiran bayi saya, hampir tiap malam saya tidak bisa tidur. Kalaupun tertidur sebentar-sebentar bangun dengan keringat dingin. ‘Bagaimana jika …’ terus-menerus menghantui saya.

[Image: medimetry.com]

Bagaimana jika saya tidak kuat menanggung hidup sendiri untuk membesarkan anak saya? Bagaimana jika orangtua dan teman-teman memandang saya dengan perasaan kasihan? Bagaimana jika nanti anak saya mencari papanya? Apa yang harus saya katakan kepadanya?

Air mata sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Sudah kering rasanya mata ini.

Namun, anehnya,

saya tidak bisa membenci suami saya. Saya terus berharap bahwa suatu kali dia kembali ke pelukan saya. Orang boleh mengatakan saya bodoh, tetapi saya tidak mudah mengalihkan cinta saya kepada laki-laki lain.

Mungkin memang hanya Tuhan yang bisa memahami saya.



Mereka Hanya Ingin Didengar

Di setiap sesi konseling, seringkali saya lebih cenderung bertindak sebagai pendengar yang baik ketimbang pemberi nasihat yang jagoan.

Nasihat untuk bersabar rasanya terlalu encer untuk kasus yang demikian kental.

Tidak sedikit ibu-ibu yang konseling sebenarnya lebih membutuhkan teman curhat yang bisa dipercaya ketimbang memberikan jalan keluar yang tampaknya sulit dicari. Sebagai konselor, seperti masukan yang saya dengar dari kelas konseling, saya memberi konseli jalan masuk agar mereka bisa menggumuli masalahnya sendiri dan memperoleh kekuatan dari Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa memberikan hikmat kepada mereka.

Di akhir sesi, saya sering mendoakan agar rintihan dan doa mereka ‘didengar’ oleh suami mereka.

Bukankah doa orang benar, yang sungguh-sungguh didoakan, besar kuasanya?


“Orang seringkali menganggap bodoh orang lain yang tertipu cinta palsu

sampai mereka mengalami sendiri tusukan sembilu.”

- Xavier Quentin Pranata



Baca Juga:

Suami Selingkuh, Istri Cerdas Bertindak Realistis. Begini Strategi Teman Saya Mengatasi Perselingkuhan Suaminya

Punya Istri Cantik, Kok Suami Masih Saja Selingkuh? Ini 3 Penyebabnya

Mengapa Pria Berselingkuh? Inilah Pengakuan Mengejutkan 5 Pria Peselingkuh

Suami Selingkuh: Bukan Cerai, 4 Hal Ini yang Dilakukan Sahabat Saya untuk Menyelamatkan Pernikahannya


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari 3 Orang Istri untuk Suami Mereka yang Berselingkuh, Sebuah Rintihan Hati". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar