Dalam Suka maupun Duka, Sehat ataupun Sakit, Hingga Maut Memisahkan: 3 Kisah Cinta Sejati untuk 14 Februari

Reflections & Inspirations

[Image: lorakikema.wordpress.com]

11K
Cinta jauh bermakna daripada sekadar canda dan tawa. Valentine's Day lebih berharga jika kita rayakan dengan merenungkan apa makna kasih sayang sesungguhnya. Inilah 3 kisah yang tak hanya menguras air mata tapi juga meninggalkan dampak yang nyata dan lama.

“Untuk yang keempat kalinya, kami mengizinkan Bapak menikah lagi.

Kami rasa Ibu pun akan mengizinkan.

Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak jika terus berkorban seperti ini?

Terus terang kami sudah tidak tega melihat Bapak.

Kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baiknya secara bergantian kalau Bapak menikah lagi”


“Anak-anakku, terima kasih atas saran kalian. Hanya saja bapak punya prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. Bagi bapak, jikalau perkawinan dan kehidupan di dunia ini hanya untuk memenuhi nafsu kita, terutama nafsu birahi, mungkin bapak akan menikah lagi sudah sedari dulu. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di samping bapak, bagi bapak itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian.“

Penggalan percakapan antara pengusaha sukses Eko Pratomo Suyanto dengan keempat anaknya yang saya ambil dari sebuah situs daring di atas menunjukkan,

Cinta jauh bermakna daripada sekadar tawa dan canda. Kasih sayang, jauh lebih dalam ketimbang hari ini berkata, “Sayang” namun besok sudah dibuang.

Valentine’s Day lebih berharga jika kita rayakan dengan merenungkan apa makna kasih yang sesungguhnya dengan membaca kisah-kisah yang tidak saja menguras air mata namun meninggalkan dampak yang nyata dan lama. Berikut 3 Kisah Valentine’s Day yang menguras air mata dan amat bermakna.



Merawat Istri Lebih dari Seperempat Abad

Eko Pratomo Suyanto boleh dibilang sukses di dunia bisnis. Usahanya di bidang index saham dan investasi berada di papan bisnis keuangan di Indonesia. Bapak Suyatno - demikian dia biasa dipanggil - yang sudah berusia lebih 60-an tahun, menikah dengan istri yang sangat dicintainya dan dikarunia 4 orang anak. Kebahagiaan keluarga ini mengalami ujian saat sang istri mengalami kelumpuhan saat melahirkan anak keempat. Mula-mula hanya kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan. Lambat tapi pasti semua anggota tubuhnya - termasuk organ vital lidahnya - tidak lagi bisa bergerak. Hanya isyarat mata yang bisa dilakukan ibu ini.

Pak Suyatno melarang pembantu untuk merawat istri dan keempat anaknya. Mereka diminta untuk melakukan pekerjaan lain. Pak Suyatno sendiri yang mempersiapkan anak-anaknya sekolah, merawat istrinya yang sedang sakit. Setiap hari dia membersihkan kotoran, memandikan, mengganti pakaian, dan menyuapi istrinya. Karena kantornya tidak terlalu jauh dari rumah, setiap siang, Pak Suyatno selalu pulang ke rumah untuk menyuapi istrinya makan siang. Setelah itu dia mengarahkan mata istrinya ke televisi agar terhibur saat dia tinggal bekerja lagi. Sorenya, dia tidak ke mana-mana kecuali merawat istrinya kembali, menceritakan kehidupan sehari-hari di kantor dan bersendau gurau sampai istrinya tidur kembali. Pak Suyatno melakukannya selama lebih dari tiga puluh tahun.

Baca Juga: Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya



Meninggakan Jabatan agar Bisa Mendampingi Istri

Namanya, sebut saja Big Love. Maafkan saya. Saya sungguh lupa nama bapak yang luar biasa ini. Namun saya tidak pernah melupakan kisah cinta luar biasanya kepada sang istri tercinta yang saya baca di sebuah buku bertahun-tahun yang lalu. Mr. Big Love bekerja sebagai rektor di sebuah kampus di AS. Ketika istrinya sakit, dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan merawat sendiri istrinya.

Ketika Valentine’s Day tiba, dia mengambil gaun yang dulu dikenakan istrinya saat pernikahan mereka. Mr. Big Love memandikan istrinya dan mengenakan gaun itu. Gaun yang dulu pas dan serasi di tubuh istrinya, kini terasa longgar karena tubuh belahan jiwanya tinggal tulang berbalut kulit. Setelah istrinya bersih dan cantik, dia meletakkan bantal di punggung istrinya agar dia bisa duduk bersandar. Sementara dia menemaninya mengobrol sambil berolahraga di atas sepeda statiknya.

Itulah malam terakhir dia bisa menemani istrinya.

[Image: belmarahealth.com]

Malam itu, di hari kasih sayang, istrinya meninggal dengan senyuman di wajah.

Baca Juga: Kini: Satu-Satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja



Pengorbanan Menantu yang Tidak Diharapkan

Ibu dua anak ini termasuk menantu yang kurang beruntung. Mertuanya lebih mengasihi istri-istri dari anak-anak laki-laki lainnya. Entah apa yang menjadi masalah. Tampaknya sekadar like and dislike. Selama bertahun-tahun, ibu ini memendam perasaan meskipun diperlakukan dengan buruk oleh ibu mertuanya. Dia tetap melayani mertuanya dengan baik.

Suatu kali, ibu mertuanya terkena serangan stroke. Sang mertua, yang biasanya galak dan main perintah, kali ini hanya bisa berbaring di ranjang gersang. Buang air kecil dan besar pun dilakukannya dari atas pembaringan. Menantu-menantu perempuan kesayangannya secara perlahan-lahan mulai menjauh. Mereka seperti hilang ditelan bumi. Hanya ibu dua anak yang tidak disayangi inilah yang justru merawatnya dengan telaten. Membersihkan dan membuang kotoran yang memandikan mertua tetap dijalaninya dengan tabah.

[Image: thesun.co.uk]

Sebelum mengembuskan nafas terakhir, sang mertua memanggil menantu yang tidak diharapkan dan dikasihinya serta berkata, “Selama ini mata saya buta. Saya tidak adil terhadapmu. Namun, justru engkaulah yang mau merawatku sampai sejauh ini. Maafkan Mama, ya.”

Dengan diiringi tetesan air mata sang menantu, mata sang mertua terkatup untuk selamanya.

Baca Juga: Relasi Harmonis Mertua dengan Menantu: Mustahil? Inilah Rahasia yang Terkuak dari Mertua yang Berhasil Menjadikan Menantu-menantunya Bak Malaikat



Kasih Tak Pernah Berakhir

Tiga kisah di atas - di antara lautan kisah cinta yang pernah saya baca - menjadi embun yang menyegarkan jiwa dan oase yang memuaskan dahaga di dunia yang semakin egois ini. Di Hari Kasih Sayang ini, kita perlu mengingat kembali apa yang kita ucapkan saat menjalani prosesi pernikahan kudus,

“To have and to hold from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, to love and to cherish, till death us do part, according to God's holy law, and this is my solemn vow.”

Saya sangat setuju dengan apa yang diungkapkan oleh si cantik JoyBell,

“If people are going to be allowed to say "we love you" and "I love you", they'd better have the backbone to prove it. Love isn't just a word.

Baca Juga: Ingin Cinta Tetap Manis Sepanjang Usia? Begini Caranya


[Image: patheos.com]

Tidak ada gunanya membangun makam mewah saat orang yang kita cintai sudah tiada jika kita tidak membangun rumah cinta saat mereka masih di sisi kita.

- Xavier Quentin Pranata



Baca Juga:

Demonstrasi Kasih: 10 Cara Menunjukkan Rasa Cinta demi Kelanggengan Relasi

Tentang Kasih: Dua Pribadi Tak Sempurna dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya

30 Tahun Pernikahan Orangtua, 5 Pelajaran Berharga ini Tak Saya Temukan dari Tempat Lain



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dalam Suka maupun Duka, Sehat ataupun Sakit, Hingga Maut Memisahkan: 3 Kisah Cinta Sejati untuk 14 Februari". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar