Curhatan Sahabat Membuat Anda Lelah? Pikirkan Dulu 7 Hal Ini Sebelum Tutup Telinga

Love & Friendship

9.8K
Berhentilah berusaha menemukan jawaban untuk orang-orang yang Anda sayangi. Kita hanya bisa mendampingi seseorang dalam permasalahannya sampai pada titik tertentu saja. Selebihnya adalah pencariannya sendiri.

Curahan hati, singkatnya, curhat. Sebuah aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari setiap hubungan. Bisa mengenai hal-hal sepele, bisa juga tentang permasalahan yang berat. Biasanya, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, maka isi dan tema dari curhat pun semakin dalam dan bervariasi.

Bagi Anda yang sering mendengarkan curhatan orang lain, apalagi dari orang-orang tertentu, Anda pasti tahu bagaimana aktivitas simpatik ini bisa menjadi sangat melelahkan. Sampai-sampai, ketika si pencurhat baru mau membuka mulutnya saja, Anda sudah menarik napas panjang. Atau ketika melihatnya mendatangi Anda dengan ekspresi tertentu, rasanya Anda ingin menghilang saja seperti ninja.

Bukannya Anda tidak punya hati atau tidak punya kemampuan untuk berempati. Sebaliknya, Anda justru sangat peduli padanya.

Masalahnya, apa yang dicurhatkan olehnya adalah permasalahan yang sama. Persis. Itu-itu saja. Rasanya seperti mendengarkan suatu rekaman audio atau video berulang-ulang. Ah, tidak, mungkin lebih tepatnya, nasihat Andalah yang semakin terdengar seperti sebuah rekaman. Lama-lama, Anda pun enggan untuk berkata-kata. Karena berbicara sampai mulut berbusa pun rasanya, ya, percuma.

Dari sesi curhat hari ini, ia seakan-akan mendapatkan pencerahan. Anda pun turut bahagia. Anda selalu mengharapkan yang terbaik untuknya. Namun, besok atau lusa, entah kenapa ia datang kembali dengan wajah mendung dan cerita yang sama. Anda pun kemudian melihat solusi dan perspektif yang Anda tawarkan, yang awalnya terdengar seperti ide yang bagus, berguguran satu per satu sebelum ‘masuk’ ke dalam kepala orang tersebut.

Dari sabar, gregetan, akhirnya Anda merasa lelah.

Baru-baru ini, saya mengalaminya. Bukan hanya dengan satu orang, tetapi beberapa orang. Mereka adalah orang-orang yang sangat berharga bagi saya, keluarga saya sendiri dan sahabat-sahabat lama. Masing-masing dengan permasalahan yang berbeda-beda. Setiap kali mereka mengulang curhatan yang sama, entah untuk yang keberapa kalinya, saya tidak bisa mencegah diri saya untuk tidak merasa semakin letih. Perasaan tidak berdaya semakin membebani saya.

Saya ingin menolong mereka, tetapi apa pun yang saya katakan dan lakukan, rasanya seperti tidak ada gunanya. Permasalahan mereka, orang-orang yang amat saya sayangi itu, tidak terselesaikan sedikit pun. Saya tidak dapat membantu mereka. Saya gagal. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan.

Rasanya sangat aneh, masalah ya masalah orang lain, kok malah saya yang lelah? Setelah direnungkan, akhirnya saya mendapatkan kesimpulan. Kesimpulan yang mungkin sebenarnya sudah sangat jelas, tetapi entah kenapa tidak saya sadari sebelumnya. Beberapa bahkan sudah saya ketahui, tetapi tampaknya tidak saya pahami. Sampai saya akhirnya mencapai titik ini.

Aktivitas curhat-curhatan ini mungkin adalah hal yang biasa, tetapi bukan berarti tidak ada pelajaran penting yang bisa kita petik darinya. Saya harap 7 pelajaran yang saya dapatkan dapat membantu meringankan beban Anda, atau beban orang lain yang sedang Anda pikul.


1. Jangan Memerangi Pertarungan Orang Lain, apalagi Mengomandaninya

Setiap orang adalah komandan bagi hidupnya masing-masing. Tanamkan hal ini di pikiran Anda sejak pertama kali seseorang mulai curhat kepada Anda. Apapun persoalannya, sedekat apapun hubungan Anda dengannya, kehidupannya bukanlah kehidupan Anda. Anda tidak bertanggung jawab untuk kehidupan orang lain. Anda bahkan tidak bisa mengontrol jalan hidup orang lain.

Setiap orang harus memutuskan untuk dirinya sendiri. Kehidupan masing-masing orang menjadi tanggung jawab masing-masing orang. Kita boleh memberikan pandangan dan pilihan, tetapi pada akhirnya, keputusan ada di tangan yang bersangkutan.

Menginginkan yang terbaik bagi orang yang kita pedulikan bukan berarti mengambil alih kehidupannya.


2. Terkadang Seseorang Curhat Hanya karena Ingin Didengarkan

Pernahkah Anda dicurhati seseorang, tetapi apapun yang Anda katakan, rasanya si pencurhat kok ngeyel? Salah seorang teman saya pernah datang, curhat mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Sebagai seorang teman, tentu saya merasa senang. Saya percaya, mengakui kesalahan sendiri adalah langkah awal menuju sesuatu yang lebih baik. Saya pun dengan gembira mendukungnya dalam perjalanan menuju arah yang lebih baik itu. Akan tetapi, percakapan bukannya bergerak ke arah langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan selanjutnya, atau semacam itu, ia malah kembali menyalahkan dirinya sendiri. Saya tentu saja kembali mendukungnya. Mengiyakan kalau itu adalah sebuah kesalahan, tetapi ia bisa belajar dari sana. Hal itu berulang sekitar dua atau tiga kali lagi, dalam sesi curhat yang sama, sampai saya mulai merasa bingung. Akhirnya ia berkata “Kalau kamu jadi aku, memangnya apa yang akan kamu lakukan?” Lho?

Bukannya merasa dimengerti, ia malah merasa dihakimi.

Yang saya pelajari dari kejadian ini, ketika seseorang mengulang-ulang perkataannya, sebaiknya kita tidak usah berbicara banyak. Tunjukkan saja rasa simpati kita. Pertimbangkan juga pilihan kata kita, apakah kita sedang menyalahkan dirinya atau situasinya.

Mungkin ia datang hanya untuk mencurahkan isi hatinya, bukannya mencari jawaban. Beri ia waktu untuk mencurahkan semua isi hatinya. Akan tiba gilirannya bagi Anda untuk membuka mulut. Mungkin bukan saat itu juga. Bisa jadi Anda baru bisa mengatakan apa yang ingin Anda sampaikan di lain waktu. Pada saat itu, semoga hatinya lebih siap untuk mendengarkan Anda.


3. Anda Punya Kehidupan dan Masalah Sendiri, Jangan Menambahinya dengan Masalah Orang Lain

Bukannya mengajari Anda untuk menjadi seorang apatis, akan tetapi membuat permasalahan orang lain menjadi permasalahan Anda sendiri bukanlah suatu tindakan yang bijak. Selain akibatnya juga tidak sehat untuk Anda, ingat, Anda masih punya permasalahan hidup Anda sendiri, dengan menambahinya dengan permasalahan orang lain, Anda hanya akan menjadi semakin lelah.

Ketika seseorang datang kepada kita dengan permasalahannya, itu juga berarti bahwa ia membutuhkan kepala kedua untuk membantunya mencari jalan keluar. Bagaimana Anda bisa berpikir jernih dan logis ketika Anda terlalu ‘menghayati’ bebannya? Akan lebih baik bila kita memosisikan diri di luar masalah teman kita, sehingga kita bisa melihat dengan sudut pandang yang lebih baik. Siapa tahu, dengan begitu, kita bisa menemukan apa yang sedang dicari namun tidak terlihat oleh teman atau relasi kita. Suatu tempat untuk berpegang, suatu celah untuk ditambal, atau bahkan sebuah pintu keluar yang tersembunyi. Demikianlah kita dengan mereka bisa saling tolong-menolong dan saling menjaga.


4. Anda Hanyalah Manusia Biasa, Bukan Malaikat, apalagi Tuhan

Niat untuk membantu orang lain adalah baik dan mulia. Di tengah dunia yang semakin kacau dan egois ini, kepedulian terhadap sesama adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang butuh untuk dipelihara dan dikembangkan. Kita memang tidak bisa mengubah dunia atau kehidupan seseorang. Kita hanya bisa mencoba membuat dunia seseorang menjadi lebih baik. Namun tetap saja, kemampuan kita terbatas.

Sekuat apapun kita berusaha untuk menolong seseorang, semua itu kembali kepada kesediaannya untuk menerima pertolongan. Untuk satu dan banyak alasan, apalagi di kala emosi, kita semua cenderung mem-filter kata-kata orang lain. Menerima apa yang ingin kita dengar, mengabaikan apa yang tidak sesuai dengan hati dan keinginan kita. Tidak peduli sebaik apapun nasihat itu.

Ada kalanya juga, situasi berubah begitu cepat ke arah yang lebih buruk, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Solusi cerdas yang terpikirkan sebelumnya pun seperti langsung kedaluwarsa begitu saja.

Meski ingin berbuat baik, jangan sampai bersusah hati untuk hal-hal di luar kendali kita. Memang, Tuhan menempatkan kita di dalam kehidupan satu sama lain untuk sewaktu-waktu saling menolong. Namun, hanya Tuhan dan orang yang bersangkutan yang bisa mengubah jalan kehidupannya. Kita hanyalah pemeran pendukung di samping mereka.


5. Perubahan Bukan Proses Instan, Butuh Kesabaran Panjang

Kelemahan terbesar manusia di zaman ini mungkin adalah ketidaksabaran, keinginan untuk serba cepat. Kehidupan seseorang yang kita sayangi bukanlah kopi ataupun mie yang bisa berubah secara instan. Perubahan adalah suatu proses yang terjadi secara terus-menerus dalam waktu yang tidak selalu cepat. Bahkan, untuk beberapa kasus membutuhkan waktu sepanjang hidup.

Beberapa masalah memang bisa diselesaikan dengan cepat. Terlebih hal-hal yang sifatnya praktis dan keseharian. Namun untuk hal-hal tertentu yang sangat memengaruhi seseorang, biasanya membutuhkan waktu yang lebih panjang. Apalagi bila hal itu menyangkut suatu trauma atau karakter seseorang.

Apabila permasalahan yang menimpa teman atau relasi Anda menimbulkan luka yang sangat dalam, sebaiknya Anda bersabar dalam mendampinginya. Pada saat Anda kehabisan kata-kata, Anda tidak harus mengatakan sesuatu. Berdiam saja bersamanya. Itu sudah cukup.

Dari beberapa sahabat saya, ada dua orang yang sering saya jadikan tempat curhat. Yang satu tipe berbicara. Yang satu lagi tipe berdiam. Bila saya menginginkan solusi cepat, saya selalu bisa mengandalkan tipe yang berbicara. Namun ketika saya sedang lelah dengan masalah saya yang berkepanjangan, dengan yang tipe berdiamlah saya menemukan rasa nyaman.

Biasanya ia tidak banyak berbicara. Seringnya hanya mengatakan “Cerita saja, didengarkan kok.” Setelah itu saya akan bercerita panjang lebar. Dari A sampai Z. Balik ke C. Lompat ke Q. Kemudian berputar arah ke M. Seringkali cerita saya tidak kronologis. Saya yakin sebenarnya ia merasa bingung dengan cerita saya. Akan tetapi ia tetap mendengarkan dengan sabar, sambil sesekali memastikan bahwa ia tidak salah menangkap cerita saya. Terkadang ketika saya selesai bercerita, ia masih tidak bicara banyak, hanya seperlunya saja.

Hasilnya? Seringkali dengan teman saya yang inilah saya bisa menemukan kunci jawabannya. Prosesnya memang tidak singkat, bersambung-sambung seperti film seri. Namun, tanpa kesabaran teman saya itu, mungkin saya masih ‘tersesat’ jauh lebih lama lagi dalam labirin masalah saya.


6. Terkadang yang Dibutuhkan Sebenarnya Adalah Pertanyaan yang Tepat, Bukannya Jawaban yang Tepat

Seringkali ketika seseorang datang kepada kita, kita merasakan adanya suatu keharusan untuk memberikan jawaban bagi permasalahannya. Sementara berusaha memahami cerita yang disampaikan oleh orang tersebut, kita menguras energi untuk memutar otak. Terkadang ketika kita kehabisan ide untuk menjawab, kutipan kata-kata motivasi kita jadikan senjata pamungkas. Dari Bunda Teresa, J.K. Rowling, Audrey Hepburn, Nick Vujicic, Mario Teguh, sampai ayat-ayat kitab suci pun kita comot. Namun, semuanya ditepis, ditangkis begitu saja oleh si pencurhat, dan kita pun terpental.

Tidak usah bingung. Percayalah, ada kalanya semua itu hanya terdengar bagaikan rangkaian kata-kata kosong bertaburkan gula. Berlaku untuk orang lain, tetapi tidak nyata bagi kita.

Beberapa waktu yang lalu, saya membawa dilema saya kepada seseorang. Seperti biasa, tahap awal dimulai dengan saya sebagai si pencurhat yang bercerita. Setelah itu saya mengharapkan jawaban darinya. Saya bahkan merasa siap untuk menuruti apa saja yang akan dinasihatkannya. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban, saya malah disodori sebuah pertanyaan.

Pertanyaannya ringkas saja, namun berhasil ‘memaksa’ saya untuk menggali lebih dalam lagi ke dalam hati saya sendiri. Begitu terus. Pertanyaan demi pertanyaannya memancing saya berpikir. Mencari jawaban dan kemudian menjawab kembali pertanyaan itu sendiri. Rasanya seperti sedang menjalani proses brainstorming. Sampai pada suatu titik, semua benang kusut di kepala dan hati saya terurai begitu saja. Inti dari permasalahan saya pun terungkap jelas.

Tidak pernah sebelumnya saya menduga bahwa selama ini jawabannya tersimpan di dalam diri saya sendiri. Saya pikir jawabannya ada di luar sana. Rupanya saya salah.

Seandainya saja Anda menerapkannya kepada orang-orang yang curhat kepada Anda, berapa banyak energi yang bisa dihemat? Selain orang yang curhat kepada Anda menemukan jawabannya sendiri, Anda pun tidak terlalu lelah.

Tentu saja tidak semua kasus curhat bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Setiap kasus membutuhkan penanganan yang berbeda. Namun, apabila Anda merasa semua usaha Anda sudah mental, mungkin Anda bisa mencoba metode bertanya ini.


7. Jangan Menyerah

Kita baru bisa mengatakan bahwa kita gagal sebagai teman, sahabat, relasi atau pendengar yang baik saat kita memutuskan untuk berhenti. Ketika kita meninggalkan orang yang kita kasihi berjuang sendirian menghadapi permasalahannya.

Ketika kita mulai merasa lelah mendengarkan topik curhat yang itu-itu saja, berarti kita sudah menginjak titik jenuh. Ada baiknya ketika hal ini tejadi, kita mundur sejenak. Mundur bukan berarti tidak mengacuhkan orang tersebut. Mundur bisa berarti memilih untuk tidak berusaha mengatakan sesuatu yang bisa mengubah sikap atau hidup seseorang. Mundur di sini artinya menahan dorongan hati untuk melakukan sesuatu dengan segera. Beri diri Anda sendiri waktu untuk mengisi energi yang cukup sebelum kembali menjadi pendukungnya yang paling baik.

Ingat, semua membutuhkan proses!

Bila Anda benar-benar memedulikan seseorang, maka Anda tidak akan pernah berhenti percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya hanya akan mendatangkan kebaikan untuknya, bahkan hal-hal terburuk sekalipun. Keberadaan Anda di sisinya jauh lebih berarti dibandingkan dengan banyaknya kata-kata.



Aktivitas curhat memang terlihat sederhana. Namun ternyata tidak sesederhana itu.

Berhentilah berusaha menemukan jawaban untuk orang-orang yang Anda sayangi. Kita hanya bisa mendampingi seseorang dalam permasalahannya sampai pada titik tertentu saja. Selebihnya adalah pencariannya sendiri.

Belum tentu juga jawaban yang Anda miliki adalah jawaban yang mereka butuhkan. Karena pada akhirnya, jawaban yang ditunjukkan oleh Tuhan-lah yang akan membebaskan hatinya.

Kita memang diharapkan untuk bersukacita ketika orang lain bersukacita dan menangis dengan orang yang menangis. Tunjukkan rasa empati Anda, tetapi jangan terlalu tenggelam dalam pergumulan orang lain.

Sebagai teman dan relasi yang baik, Anda seharusnya menjadi lifeguard yang melemparkan ban penyelamat dari pinggiran kolam, bukannya ikut tenggelam. Jaga diri Anda baik-baik. Jaga hati dan pikiran Anda agar tetap jernih.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Curhatan Sahabat Membuat Anda Lelah? Pikirkan Dulu 7 Hal Ini Sebelum Tutup Telinga". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Marlena V.Lee | @marlena

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar