Cinta yang Tak Teruji, Tak Layak Dijalani. Inilah 5 Pertanyaan untuk Menguji Ketulusan Cinta

Love & Friendship

[Image: Odyssey]

21.6K
"Apa yang membuatmu yakin untuk menikahi dia dan mengambilnya sebagai pasangan hidupmu?" Jawaban atas pertanyaan ini beragam, mulai dari yang romantis hingga tak masuk akal. Dari sekian banyak pilihan, jawaban "Karena saya mencintainya" adalah jawaban yang paling jitu dan populer.

Terhitung hingga kini, saya telah membangun hubungan dengan calon pasangan hidup saya selama 9 tahun 3 bulan. Melewati sekian banyak lika-liku, sejujurnya tak pernah kami menyangka hubungan pacaran kami bisa berlangsung sampai selama ini.

Dalam perjalanan hubungan, kami berusaha untuk saling mengenal lebih dalam, bekerja sama dalam banyak hal, saling melayani, saling melindungi dan menegur, saling menerima perbedaan. Di samping waktu khusus untuk belajar bagaimana mengasihi dengan tulus, yang tak kalah penting menurut saya,

pacaran adalah masa untuk memastikan apakah ia adalah wanita yang paling tepat untuk menjadi pasangan hidup saya dari jutaan wanita di dunia ini.

Akhirnya kami tiba di kata sepakat, sudah saatnya kami melangkah ke jenjang hubungan berikutnya. Kami pun memutuskan untuk menikah.

Menapaki pintu gerbang pernikahan, persiapan kami ditolong oleh banyak rekan-rekan yang telah menikah. "Pernikahan bukanlah perkara mudah," kata mereka. Ya, kami pun setuju akan hal itu. Saat berbicara soal cinta atau kasih, kami diperhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dan beberapa di antaranya - jujur saja - sulit untuk dijawab dalam waktu singkat.

Baca Juga: Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan

Namun, pertanyaan-pertanyaan inilah yang menolong kami untuk menguji diri. Seberapa sungguh-sungguh dan serius kami saling mengasihi, apakah kasih kami tulus atau bersyarat.



1. Apakah Saya akan Tetap Mengasihinya meskipun Ia Tak Lagi Perawan atau Perjaka?

[Image: Odyssey Online]

Bukan perkara mudah ketika seorang pria atau wanita mengetahui bahwa pasangannya tidak lagi perjaka atau perawan karena perbuatan zina. Hal ini semakin berat, terutama untuk mereka yang menjujung tinggi kedudusan seksual. Keperjakaan dan keperawanan seharusnya diakhiri dalam ikatan sah suami istri, bukan sebaliknya.

Namun,

cinta tidak hanya menerima keberadaan diri seseorang di masa kini, tetapi juga di masa lalu.

Jika benar mengasihi, kita harus dengan rela hati menerima kegagalan dan kesalahan pasangan di masa lalu. Tak berhenti di situ, kita pun harus bersedia melepaskan pengampunan. Yang pasangan kita butuhkan adalah penerimaan dan pengampunan, bukan penghakiman dan caci maki.

Baca Juga: Pacar Mengaku Tak Lagi Perawan atau Perjaka. Apa Sikap Terbaik yang Bisa Dilakukan?



2. Apakah Saya akan Tetap Mengasihinya meskipun Dokter Menyatakan Ia Mandul?

[Image: Net Doctor]

"Saya ingin menikah karena ingin memiliki keturunan," demikian alasan pernikahan yang diutarakan banyak pasangan.

Sayangnya, memiliki keturunan bukanlah tujuan pernikahan yang sesungguhnya.

Bagaimana jika pasangan kita dinyatakan mandul oleh bukti-bukti medis yang disampaikan dokter? Jika 'memiliki keturunan' adalah alasan kita menikah, maka seketika itu juga pernikahan kita selesai, bukan?

Melalui pertanyaan ini, kita diajak untuk kembali memikirkan esensi dan tujuan dari sebuah pernikahan. Tujuan pernikahan lebih dari sekadar memiliki keturunan. Ubah segera jika alasan pernikahanmu hanya itu!

Mencintai pasangan seutuhnya berarti menerima keberadaan diri - termasuk kesuburannya - apa adanya serta dengan sukacita turut menanggung bebannya.

Bukannya turut menjadi hakim, kita justru harus menjadi pembela dan pelindung jika suatu saat ia merasa tertolak oleh keluarga atau teman-temannya.

Baca Juga: 'Aku Salah Apa?' Sebuah Curahan Hati: Penantian Panjang Akan Hadirnya Anak dalam Pernikahan



3. Di Antara Sekumpulan Kelemahan Pasangan, Kelemahan Apa yang Paling Tidak Saya Sukai dan Kemungkinan Besar Tidak akan Menjadi Lebih Baik Saat Memasuki Hidup Pernikahan?

[Image: viralreport.info]

Ingatkah Anda akan saat-saat di mana Anda sedang dimabuk asmara? Berbunga-bunga, bukan? Di fase itu, Anda akan selalu memuji kelebihan pasangan dan menerima dengan legowo kekurangan pasangan. Terlambat sesekali tak apa, lupa sesuatu tak masalah. Yah, itulah 'keindahan' masa awal menjalin hubungan. Sayangnya, masa indah itu tak akan berlangsung selamanya.

Yang berbahaya adalah ketika kita gagal melangkah maju dari fase tersebut. Kita 'menolak' melihat kelemahan pasangan, dan tetap melihatnya sebagai seorang pria atau wanita paling sempurna di muka bumi.

Baca Juga: 4 Fase dalam Pacaran yang Harus Kamu Lewati untuk Hubungan yang Mantap Menuju Pernikahan

Bersiaplah menghadapi realita! Bahwa tabiat tidurnya ternyata jauh dari kata 'tenang', gaya makannya membuat kita menggelengkan kepala, kebiasaannya menggunakan barang di luar bayangan kita, bahkan caranya menggunakan listrik di rumah membuat kita mengelus dada!

Karena itu, penting sekali mengetahui kelemahan-kelemahan pasangan. Diskusikanlah jalan tengah dan bersiaplah bahwa itu tak akan bisa berubah dalam jangka waktu yang singkat - atau bahkan seumur hidup! - karena telah menjadi kebiasan.

Inilah kasih yang mau menerima apa adanya. Kasih yang tak hanya menuntut, namun juga memberi.

Kasih seperti inilah yang diperlukan dalam sebuah pernikahan.

Baca Juga: Kehidupan setelah Menikah Tak Seindah saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan



4. Dosa Apa yang Paling Saya Benci dari Dirinya? Lantas, Bagaimana Jika Ia Melakukannya Lagi Saat Kami sudah Menikah?

[Image: Odyssey]

Dosa adalah sebuah hal dalam diri manusia yang bersifat amat pribadi. Natur manusia akan berusaha menyembunyikannya serapi mungkin sehingga orang lain tak dapat melihatnya, apalagi jika dosa tersebut memberi efek negatif yang besar. Di dalam pernikahan, sikap seperti itu tidak boleh diberlakukan.

Baca Juga: Mengapa Suami Tega Membohongi Istri? Ternyata Tak Selalu dengan Maksud Buruk. Inilah 3 Alasannya

Ketika berhadapan dengan pertanyaan ini, kami mulai belajar memahami diri sebagai manusia yang lemah. Sebagai seseorang yang bisa saja jatuh ke dalam dosa - apa pun itu - suatu saat nanti. Di sinilah kasih kami akan diuji.

Mengasihinya saat ia melakukan kebaikan adalah perkara mudah. Namun tetap mengasihinya saat ia jatuh ke dalam dosa, itu butuh kasih yang tak bersyarat!

Kasih yang tak menuntut balas.

Kasih yang mengangkatnya keluar dari dosa dan memberinya pengampunan.



5. Keadaan Seperti Apa yang Membuat Saya Sulit Mencintai Pasangan Saya?

[Image: Denver Nathan Studio]

Dalam kepercayaan iman kami, pernikahan adalah sekali seumur hidup yang diteguhkan oleh Sang Pencipta dan diikat oleh janji kudus.

"Baik dalam suka maupun duka, saat kekurangan maupun kelimpahan, saat sehat maupun sakit, dan tetap memeliharamu dengan setia, sampai maut memisahkan kita."

Kesetiaan kepada pasangan bukan saja berlaku saat keadaan baik, namun juga saat keadaan memburuk dan benar-benar menjadi buruk.

Kita tak pernah tahu apa yang terjadi di depan. Kita tak pernah bisa mengira beban apa yang akan kita pikul, juga berapa beratnya beban itu. Tak seorang pun mengharapkan keburukan, tapi inilah kenyataan, betapa rapuhnya hidup manusia. Penyakit mematikan tiba-tiba menggerogoti tubuh, kehancuran usaha karena kejahatan orang lain, kehilangan orang-orang terkasih, dan setumpuk masalah lain. Sudah banyak terjadi, seorang suami/istri memilih meninggalkan keluarga karena tak tahan akan penderitaan yang mereka alami.

Baca Juga: Tentang Cinta yang Tak Selalu Indah: Sebuah Kenyataan, yang Tidak Muluk-Muluk, Apa Adanya


Di tahap mana pun Anda berada saat ini, apakah dalam masa lajang, berpacaran, tunangan, ataupun pernikahan, saya berharap pertanyaan-pertanyaan di atas mampu menolong Anda untuk belajar mengasihi pasangan dengan seutuhnya, dengan kasih yang tak bersyarat.

Selamat mengasihi!



Baca Juga:

Pacar Mengajak Segera Menikah? Cek 8 Hal ini sebelum Menjawab Ya!

Wanita, Periksa Kesiapan Pasanganmu untuk Menikah Lewat 4 Pertanyaan Ini

Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya

Yakin Sudah Cocok dengan Pacar? 7 Perbedaan Kecil ini Bisa Menganggu Keharmonisan Pernikahan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Cinta yang Tak Teruji, Tak Layak Dijalani. Inilah 5 Pertanyaan untuk Menguji Ketulusan Cinta". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bobby Widya Ardianto | @bobbywa

Pemuda biasa yang mulai suka menulis sejak kuliah. Ia sedang menikmati hidupnya sebagai seorang programmer. Saat ini berdomisili di Solo, Jawa Tengah.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar