Cinta Terlambat Datang dan Saya Memilih Melewatkannya Begitu Saja

Singleness & Dating

[Image: airportinsights.com]

11.5K
Sejauh mana kita harus memperjuangkan cinta?

Tidak pernah sebelumnya saya berpikir akan merasakan jatuh cinta. Apa itu cinta, bagaimana rasanya jatuh cinta, saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Hingga suatu ketika, sosok seorang gadis yang saya kenal muncul dalam mimpi. Awalnya saya tidak terlalu menaruh perhatian. Bunga tidur, pikir saya. Biasa saja. Namun, ketika esok malam sosok yang sama kembali hadir, saya jadi terheran-heran sendiri.

"Ada apa ini?" tanya saya dalam hati.

Dua hari berturut-turut berjumpa dengannya dalam mimpi, segalanya menjadi berbeda. Entah mengapa, ketika melihat dirinya di dunia nyata, ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam diri saya. Tidak dapat saya gambarkan, tetapi ini sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

"Apakah saya jatuh cinta?"



Perkara ini terus saya gumulkan dalam hati. Sebuah pertanda, mungkin itu yang sedang saya cari-cari.

Di suatu hari Sabtu, setelah saya keluar dari ruang doa, tiba-tiba saja seorang anak kecil bertanya, "Kakak sudah menikah?"

Spontan saya jawab, "Belum."

Anak kecil itu kemudian berkata, "Kakak menikah saja."

Kembali saya dibuat terheran. Kok bisa seorang anak kecil mengeluarkan kalimat seperti itu?


Hari-hari selanjutnya, saya jadi sering sekali bertemu dengan si gadis yang muncul sebelumnya di dalam mimpi. Walau ia selalu ada di tempat-tempat yang sering saya lewati, saya sempat berpikir, "Ini kebetulan saja."

Apakah ia sengaja berada di situ? Apa yang sedang ia tunggu? Apakah ia menunggu saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat saya jawab karena saya belum memiliki banyak pengertian.

Jadi, saya melewatinya begitu saja, berpura-pura tidak melihatnya, atau menghindari dirinya. Begitulah reaksi saya setiap kali menjumpai dirinya.

Hingga suatu ketika, saya sedang berada di dalam toko buku. Tak lama kemudian, ia masuk dan berdiri dekat saya. Hari itu menjadi satu-satunya momen di mana saya akhirnya mengatakan sesuatu kepadanya.

"Kalau saya ada salah, maaf."

"Iya," jawabnya dengan senyum.

Itu saja. Saya kemudian bergegas keluar dari toko buku dan masuk ke mobil teman. Ia juga keluar mengikuti saya.

[Image: flickr.com]

Tanpa kalimat perpisahan, saya tinggalkan dia sendiri di situ.


Saya akui, saya memang kurang bijaksana. Selain juga kurang pengalaman.

Namun gadis itu sudah punya pacar. Saya tahu dia sudah berpacaran sebelum kami bertemu. Saya juga kenal pacarnya - calon pasangan hidupnya. Ia seorang lelaki yang baik. Saya tidak tega mengganggu hubungan mereka, melukai hati calon pasangannya.


Saya hanyalah seorang lelaki. Seorang manusia biasa. Walau mencoba kuat, tak bisa dipungkiri, hati ini terluka setiap melihat dia bersama pacarnya. Saya amat sedih, hingga sulit tidur, karena selalu teringat akan dirinya. Setiap kali kami bertemu, setiap kali itu pula hati saya patah. Retak. Hancur sekeping demi sekeping. Mungkin dia berpikir saya membencinya, dengan sikap saya yang dingin dan aneh terhadapnya.

Sesungguhnya saya hanya menginginkan dia bahagia.

Saya tahu, suatu hari kelak mereka berdua akan menikah. Karena itu, saya mempersiapkan diri untuk dapat menghadapi kenyataan dengan tegar.


Akhirnya hari itu datang juga. Mereka berdua benar-benar memutuskan menikah.

Meskipun sudah mempersiapkan diri untuk datangnya hari ini sekian lamanya, nyatanya saya tetap tidak siap. Walau berkata, "Tidak apa-apa. Saya menginginkan mereka berdua mendapatkan yang terbaik dari Tuhan," dunia saya seakan runtuh, meleleh perlahan bersama air mata yang jatuh ke tanah.

"Kuatkan dan teguhkan hatimu," itu saja yang terus saya katakan kepada diri saya.

Hari-hari di depan terlihat begitu gelap. Langkah terasa berat. Berusaha melupakan dirinya, merelakannya menjadi istri orang. Sungguh bukanlah perkara mudah.


Yang mampu menyembuhkan luka, selain waktu, adalah ini:

Melihat dirinya bahagia.

Kini, rumah tangga mereka diberkati Tuhan dengan kehadiran 2 orang anak. Ia dan suaminya tetap setia melayani Tuhan. Hidup mereka berkecukupan secara finansial, bahkan berdampak positif bagi lingkungan.


Sejauh mana kita harus memperjuangkan cinta?

Nyatanya, cinta datang terlambat bagi saya. Dan saya memilih melewatkannya begitu saja.

Namun saya tidak menyesal. Dia memperoleh yang terbaik dari Tuhan.

"Tapi kan ini soal masa depan!" begitu mungkin gerutu Anda dalam hati.

Tepat demikian. Ini memang perkara masa depan.

Masa depan yang indah, itu yang saya inginkan baginya. Lalu, bagaimana dengan masa depan saya? Saya mempercayai, masa depan saya ada di tangan Tuhan. Bila memang saya dipanggil untuk menikah, Tuhan akan memberikan yang terbaik pada waktu-Nya.

Itu saja iman saya.



Dari RibutRukun, tentang Menemukan Jodoh dan Pasangan Hidup:

Gelisah karena Jodoh Tak Kunjung Datang? Saya Pernah Mengalaminya. Inilah Kisah Saya: Menemukan Pasangan Hidup di Usia Lebih dari 30 Tahun

Buat Kamu yang Percaya Jodoh di Tangan Tuhan, 5 Panduan Ini Akan Menuntunmu ke Orang yang Tepat

Kamu yang Masih Menunggu Jodoh yang Tepat, Ini Penting Untukmu!

Dapatkan Inspirasi dan Strategi untuk Menemukan Jodoh Lewat 5 Artikel RibutRukun.com Ini!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Cinta Terlambat Datang dan Saya Memilih Melewatkannya Begitu Saja". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Tanpa Nama | @RibutRukun

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar