Cinta Tak Berarti Cocok. Ini Saran Pakar Psikologi tentang Memilih Pasangan Hidup!

Singleness & Dating

celestissima

13.5K
Angka perceraian yang semakin meningkat belakangan ini menimbulkan pertanyaan apakah ada yang salah dalam cara orang memilih pasangan hidupnya.

Pasangan kekasih yang akhirnya memutuskan untuk menikah biasanya merasakan adanya saling kecocokan di antara mereka. Besar harapan mereka agar nantinya dapat memiliki pernikahan yang berbahagia selamanya. Namun, angka perceraian yang semakin meningkat belakangan ini tentu menimbulkan pertanyaan apakah ada yang salah dalam pemilihan pasangan hidup di antara mereka yang sudah menikah.

Tentu saja, menemukan pasangan hidup yang cocok tidak menjamin kebahagiaan sebuah pernikahan, sebab bahagia atau tidak seseorang yang menikah juga tergantung bagaimana pasutri menjalani hidup pernikahan mereka.

Akan tetapi pasangan hidup yang saling cocok akan memermudah dilakukannya berbagai penyesuaian di dalam pernikahan.

wearandcheer

Tulisan ini akan membahas beberapa alasan psikologis penyebab kesalahan yang umum dilakukan orang dalam memilih pasangan hidup.

Disadari atau tidak, setiap orang pasti memunyai kriteria yang membuatnya tertarik untuk berpacaran dengan seseorang. Miller (2015) berpendapat bahwa biasanya seseorang tertarik pada orang lain yang bisa memberi keuntungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keuntungan tersebut biasanya didapat dari pemenuhan kebutuhan emosional, kemampuan finansial, penampilan menarik atau karakter yang baik.

Sekalipun ketertarikan ini terjadi karena adanya pengharapan untuk mendapatkan berbagai pengalaman yang menyenangkan, kenyataannya tidak semua orang menyadari semua alasan yang menyebabkan mereka tertarik pada seseorang. Ketertarikan itu ternyata lebih sering didorong oleh alam bawah sadar.

Dalam hal berpasangan, seseorang yang sudah memiliki kriteria yang baik tentang orang-orang lain, bisa saja kemudian berpacaran dengan orang yang tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkannya.

Cloud dan Townsend mengatakan bahwa sebagian manusia memiliki ketertarikan yang normal, tapi banyak juga yang memiliki ketertarikan yang tidak normal. Rasa ketertarikan yang normal bisa membantu seseorang untuk memilih pasangan yang cocok, sebaliknya ketertarikan yang tidak normal akan menuntun seseorang pada relasi yang buruk.

educate

Contohnya: seorang gadis yang memiliki ayah suka menganiaya, secara tidak sadar cenderung tertarik pada pria penganiaya seperti ayahnya. Demikian pula seorang pemuda yang memiliki ibu dominan ternyata cenderung tertarik pada wanita yang suka mendominasi dirinya. Dengan demikian sistem keluarga yang buruk diulang oleh generasi berikutnya menjadi seperti lingkaran setan.

Oleh karena itu sangat penting bagi mereka yang sedang mencari pasangan untuk mengevaluasi apakah ketertarikan mereka didorong oleh suatu ketidaknormalan?

Bagi orang yang sudah menyadari bahwa dirinya memiliki rasa ketertarikan yang tidak normal, ia perlu segera melakukan perubahan sebelum dirinya terperangkap dalam sebuah relasi yang buruk.

Baca juga: Jangan Biarkan Dirimu Terjebak dalam Hubungan yang Salah. Temukan Keberanian, Pergi dan Bukalah Lembaran Baru!


renemagritte

Mula-mula penting untuk memahami memahami karakteristik orang yang rentan terhadap ketertarikan yang tidak normal serta mengetahui bagaimana terbentuknya ketertarikan ini. Menurut Cloud dan Townsend orang rentan melakukan kesalahan dalam memilih pasangan hidup antara lain karena ia tidak mampu menilai karakter orang, tidak menyadari adanya harapan palsu, dan cenderung melakukan romantisasi.


Ketidakmampuan menilai karakter

Hal ini membuat orang memilih pasangan hanya berdasarkan emosi dan tidak menggunakan rasio. Ketika sudah merasa nyaman terhadap seorang lawan jenis, maka ia sudah merasa cukup. Ia tidak lagi merasa perlu untuk menganalisa lebih jauh apakah pasangan yang dipilihnya itu cocok dari segi karakter, dari sisi latar belakangnya, dan lain-lain.


Memertahankan harapan palsu

Orang yang sering terjebak di dalam sebuah hubungan yang buruk biasanya adalah orang yang suka memertahankan harapan palsu. Orang seperti ini berharap bahwa suatu saat pasangannya akan berubah sekalipun harapan ini tidak ada dasarnya. Orang-orang yang memiliki harapan palsu berharap bahwa pasangannya akan menjadi lebih baik jika lebih banyak dikasihi atau jika dikasihi dengan tepat. Biasanya mereka sudah cukup puas jika pasangannya menyesal, sekalipun tidak ada tanda-tanda perubahan tingkah laku dari pasangannya. Harapan palsu ini membantu mereka untuk meredakan kesedihan hingga dapat tetap bertahan dalam hubungan yang buruk


Melakukan Romantisasi

Romantisasi adalah idealisasi cara pandang seseorang terhadap pasangannya.

Orang ini hanya melihat sisi baik dari pasangannya, dan kelemahan pasangan bahkan bisa dianggap sebagai kekuatan. Misalnya, pasangan yang selalu berganti pekerjaan ditafsirkan sebagai orang yang terlalu pandai sehingga atasannya iri dan memecatnya, atau pasangan yang kasar dianggap sebagai orang yang bisa mempertahankan diri. Dengan adanya kesalahan persepsi ini tidak heran mereka yang melakukan romantisasi ini rawan terjebak dalam relasi yang buruk

chobirdokan

Ketertarikan pertama kali dipelajari dalam keluarga. Seseorang biasanya tertarik pada mereka yang bisa memenuhi kebutuhannya. Karakteristik mereka dipelajari dari interaksi seseorang dengan orang tua (atau pengasuh utama) dan anggota keluarga yang lain. Interaksi ini membentuk apa yang disebut oleh Gottman (2000) sebagai 'lovemap'.

'Lovemap' berfungsi seperti sebuah peta yang menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah relasi berjalan dan figur-figur siapa saja yang bisa memenuhi kebutuhan.

Dalam keluarga yang berfungsi dengan baik, 'lovemap' yang terbentuk positif adanya. Anggota-anggota keluarga di dalamnya mengharapkan hubungan yang sehat, saling menghormati dan hangat, serta bisa menemukan pasangan yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Sebaliknya dalam keluarga yang penuh dengan konflik, 'lovemap' yang terbentuk menjadi negatif sehingga mengakibatkan anak-anak dari keluarga ini akan terjebak dalam pernikahan yang sulit karena mereka cenderung memilih pasangan hidup yang salah.

Baca juga: Tak Ingin Terjebak dalam Penyesalan karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat Ini!


Apa yang bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai 'love map' negatif untuk memperbaiki diri?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, pola yang salah dalam memilih pasangan ini dipelajari dari keluarga. Keluarga gagal menjadi contoh dan 'secure base' hingga anak merasa tidak nyaman berada dalam relasi yang sehat. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah ini, anggota-anggota keluarga di dalamnya perlu belajar ulang tentang bagaimana cara menjalin relasi yang sehat.

Hal ini harus dimulai dengan mencari orang-orang aman yang dapat menjadi kelompok pendukung, yaitu orang-orang yang mau mendengarkan, bisa menerima orang lain apa adanya, penuh dukungan, tidak mudah melakukan penghakiman, serta bisa membuat batasan dan tidak berpura-pura, selain juga dapat menjaga kerahasiaan.

Memperbaiki relasi dengan Tuhan juga akan sangat membantu. Tuhan dapat menjadi 'secure base' yang sempurna, karena Tuhan mau menerima setiap orang apa adanya sekalipun Dia tahu semua kesalahan dan kelemahannya (Clinton & Sibcy, 2002; Whitfiled, 2012).

projectinspired

Dengan dukungan positif seperti ini, mereka yang mempunyai pola ketertarikan yang tidak normal dapat kembali belajar bagaimana mengasihi dan dikasihi dengan benar. Dengan demikian akhirnya mereka bisa memilih orang yang bisa memenuhi kebutuhannya.

Langkah praktisnya adalah dimulai dengan belajar untuk menjadi diri sendiri dan menerima diri apa adanya.

Setelah itu mereka juga akan belajar mengindentifikasi kebutuhan-kebutuhan mereka dan bagaimana mereka memenuhi kebutuhan itu dengan tepat. Selama proses ini berlangsung, mereka juga perlu meratapi dan menyelesaikan trauma dari masa lalu, sehingga mereka bisa melangkah maju tanpa dibebani masalah yang berasal dari masa lalu.

Baca juga: 3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai



rampage


Setelah melewati semua tahap di atas, diharapkan mereka bisa lebih menyadari apa yang mendasari ketertarikan mereka dan bisa menganalisa apakah ketertarikan ini normal atau tidak. Dukungan dari orang-orang yang aman juga membuat mereka tidak mudah terjebak dalam relasi yang buruk karena kebutuhan mereka akan kasih dan penerimaan sudah dipenuhi oleh rekan-rekan mereka.

Jodoh memang tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita, tapi alasan mengapa kita tertarik pada seseorang bisa dipelajari. Dengan menyelediki apakah ketertarikan kita normal atau tidak dan melakukan perbaikan jika tidak normal, proses penyesuaian dalam pernikahan akan lebih mudah dan kita terhindar dari banyak masalah yang tidak perlu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Cinta Tak Berarti Cocok. Ini Saran Pakar Psikologi tentang Memilih Pasangan Hidup!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yonathan Goei | @yonathangoei

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar