Bukan Semata Malas, Inilah 5 Penyebab Suami Enggan Membantu Pekerjaan Rumah Tangga

Marriage

[Image: vactthatthingup.com]

8.8K
Banyak istri yang kesal karena suami tak membantu pekerjaan rumah tangga. Para istri merasa kemalasan adalah satu satunya alasan dari perilaku suami mereka. Padahal, bukan semata soal kemalasan, ada alasan-alasan lain di balik itu.

Pasangan suami istri sama-sama pulang kerja. Sang istri segera kembali sibuk. Sidak ke sana ke mari. Anak diwawancarai. Asisten Rumah Tangga diinterogasi. Dapur diinspeksi. Suami? Membuka kulkas, menyambar koran, dan membaca berita sambil nyeruput minuman dingin di sofa yang hangat.

Menjengkelkan? Bisa jadi! Itulah yang dirasakan banyak istri di muka bumi.

Hiperbola? Cek sendiri realitanya!

Mengapa suami enggan - untuk menghindari kata ‘malas’ - menolong istri dalam mengurus rumah tangga? Inilah 5 alasannya:


1. Pola Pikir yang Salah: Tugas Suami di Luar Rumah, Istri di Wilayah Domestik

Sudah lazim di Indonesia suami ‘dipatok’ sebagai the bread winner for the family, sedangkan istri mengurusi anak dan rumah tangga. Itulah sebabnya mengapa di sinetron-sinetron Indonesia kita sering menyaksikan para suami yang berangkat kerja, istri mencium tangan suami dan melambaikan tangan saat suami pergi mencari nafkah.

Pandangan bahwa suami hanya bekerja di luar rumah sedangkan istri khusus mengurusi rumah tangga nampaknya perlu direvolusi.



2. Merasa Ada Garis Demarkasi antara Kerja di Kantor dan Kerja di Rumah

[Image: ideas4love.com]

Padahal, garis itu TIDAK ada!

Garis itu hanya ada di pemikiran kita, apalagi di masyarakat Timur. Saya ingat betul, ketika saya masih kecil, saat ingin membantu di dapur, orangtua saya justru melarang. “Anak laki-laki jangan ikut ngurusi dapur!” Saat itu saya pergi dengan enggan karena menolong di dapur tampak asyik. Kalau sekarang, disuruh pergi dari dapur malah segera kabur dengan hati bersyukur, hehehe. Padahal, ketika berada di luar negeri, saya mau tidak mau harus membantu urusan rumah tangga. Siapa yang mau membayar asisten rumah tangga dengan gaji selangit?



3. Merasa Canggung, Rikuh, atau Malah Tidak Mampu Melakukannya

Entah karena dibesarkan dengan pola pikir yang salah - suami kerja, istri di rumah; anak laki-laki tidak boleh di dapur - maka suami take it for granted bahwa semua urusan rumah tangga diurus istri. Bahkan kalau suami mencoba ikut turun tangan, hasilnya malah membuat istri stres karena harus mengulang pekerjaan suami yang amburadul.

Saya hanya bisa menolong istri mencuci baju. Lama-lama saya pikir, enakan saya. Mengapa? Karena untuk mencuci ada mesin cuci, sedangkan menyetrika tidak ada mesin setrika. Iron man pun bukan pria setrika!

[IImage: freakingnews.com]

Saya, kalau menyetrika celana, garis depannya dari satu jadi dua. Saya hanya jago menyetrika handuk dan sapu tangan.



4. Merasa Sudah Menyelesaikan Tanggung Jawab

Setali tiga uang dengan alasan pertama, kalau sudah bekerja dan memenuhi nafkah keluarganya, suami merasa cukup. Jadi, waktu berada di rumah, dia ingin istirahat. Begitu menginjakkan kaki di rumah, suami merasa bebas dengan dirinya sendiri. Dia tidak merasa bahwa istri pun perlu ‘me time’ yang sama dengan dirinya. Apalagi jika sang istri juga wanita karier, beban kerjanya jadi lebih berat. Istri yang tinggal di rumah pun pekerjaannya tidak lebih ringan ketimbang suami.

Ada seorang suami yang begitu berangkat bekerja dan melihat istrinya melakukan ‘kiss bye’ merasa iri. Di dalam hati dia berkata, “Kok kayaknya enakan di dia ketimbang saya. Saya harus cari nafkah seharian, sedangkan dia bisa istirahat dan santai di rumah.” Istirahat? Santai? No way! Karena urusan rumah tangga tidak pernah ada habisnya.

Malam harinya, sang suami berdoa begini, “Tuhan, saya ingin tukar posisi dengan istri saya. Saya jadi istri, sedangkan istri jadi suami.” Done! Doanya terkabul.

Keesokan harinya, saat istrinya - yang sekarang sudah jadi suami - berangkat kerja, dengan senyum kemenangan, sang suami - yang sekarang jadi istri - melakukan ‘kiss bye’. Inginnya dia segera santai. Namun, tiba-tiba Asisten Rumah Tangga datang dan berkata, “Bu, saya harus pulang ke rumah karena mau dinikahkan sama Bapak!” Blar! Meskipun diucapkan dengan lembut suara ART-nya itu begitu meledak di telinganya.

Ketika dia tengok ke dapur, ternyata piring, gelas, dan semua peralatan masak belum dibereskan. Dia segera mencuci semua itu. Belum selesai pekerjaannya, dia menerima telepon dari sekolah, mengatakan bahwa anaknya berkelahi dan dia dipanggil ke sekolah. Saat urusan dengan pihak sekolah dan orangtua si anak 'partner' berantem anaknya selesai, dia segera pulang ke rumah dengan kepala penuh bintang. Kliyengan. Dia harus menelan obat anti sakit kepala.

Tiba-tiba hujan turun. Dia kaget karena cucian di belakang belum diangkat. Dengan sigap, seperti Superman - eh Cat Woman - dia sambar sana sambar sini. Tanpa dia sadari, kakinya menendang tong sampah! Segera saja isinya berhamburan mengotori halaman.

Ketika ‘suaminya’ pulang, dia menyambut dengan wajah ‘kalah perang’. “Ada apa, Sayang?” tanya suaminya. Dengan tersenyum pahit dia berkata, “Baik. Hanya sedikit lelah.” Rupanya jiwa seorang pria masih terperangkap dalam tubuh wanitanya.

Hari-hari berlalu dengan menu empedu. Nasi yang biasanya pulen jadi terasa seperti batu. Dia tidak tahan lagi! Malam harinya, dia sujud menyembah Tuhan sambil berkata,

“Cukup Tuhan, ampuni saya. Saya tidak mau jadi istri. Kembalikan saya jadi suami saja. Pekerjaan istri ternyata membikin saya sakit.”

Tiba-tiba dia mendengar suara yang begitu lembut tapi tegas, “Aku bisa saja mengabulkan permintaanmu, tetapi tunggu sembilan bulan lagi ya, karena engkau sudah terlanjur hamil!"

[Image: flickr.com]

Baca Juga: Inilah 5 Hal Istimewa yang Dimiliki Oleh Para Super Moms, Ibu Rumah Tangga yang Luar Biasa



5. Malas

Ya! Tidak usah pakai alasan apa pun. Ada pepatah yang berkata, “Pecundang selalu mencari alasan untuk setiap peluang, sedangkan pemenang selalu mencari jalan untuk bisa berkarya!” Kira-kira begitu versi saya. Maka, ketimbang cari banyak alasan, katakan saja dengan jujur, “Saya malas melakukan pekerjaan rumah tangga." Selesai? Tentu tidak!

Kita - para suami - harus menyadari kelemahan kita ini, mengakuinya dengan jujur, bukan saja di hadapan Tuhan, tetapi juga istri [dan anak-anak, kalau ada], lalu bangkit untuk berubah.

Mudah? Tidak! Gampang? Apalagi!

Namun, jika kita sungguh-sungguh, hasilnya layak diperjuangkan!


[Image: ributrukun.com]

Mau? Ayo!



Baca Juga:

Pria Berubah setelah Menikah? Ketahui 5 Hal yang Menjadi Penyebabnya dan 10 Hal untuk Mengembalikan Romantisme Masa Pacaran dalam Pernikahan

3 Cara Suami Mengatakan I Love You yang Sering Tak Terdengar oleh Istri

Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan







Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Semata Malas, Inilah 5 Penyebab Suami Enggan Membantu Pekerjaan Rumah Tangga". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar