Bukan Perselingkuhan, namun Tak Kalah Hebat Menghancurkan Hubungan. Atasi sebelum Terjadi!

Marriage

[Image: themindfulnessjournal]

17.6K
Ketika merasa terluka, yang kita lakukan adalah menghindar. Menjauh dari sumber sakit dan ketakutan. Menjauh dari pasangan. Menjaga jarak agar tidak terluka. Mendirikan dinding pemisah. Tak terluka, namun juga tak lagi hangat.

Sebagian besar dari kita jarang memikirkan, mengapa cinta yang berkobar-kobar saat pacaran lalu perlahan tanpa disadari kian meredup dan kehilangan keindahannya. Banyak yang menganggap ini normal, semua pernikahan demikian. Jika tidak tahu penyebabnya, tentu saja kita tidak pernah bisa memperbaikinya.

Ketika kecil, ibu menasihati, "Jangan pegang kompor menyala! Panas." Percayakah kita? Tentu saja tidak! Api yang menyala itu tampak indah dan menarik. Kita justru merasakan godaan yang amat besar untuk memegangnya.

Kita pun mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Sedikit saja tak mengapa, bukan?

Dan alamak! Ternyata betul. Panas sekali.

Segera kita menarik tangan dalam keterkejutan. Berdebar hati kita. Betapa sakit dan menakutkan.

Apa yang kita pelajari dari kejadian ini?

Jangan pernah memegang kompor menyala dengan tangan. Pengalaman buruk membuat kita menghindari memegang kompor menyala dengan tangan, selamanya. Mengapa? Sakit! Belum lagi rasa takut dan trauma yang harus kita tanggung.

Manusia, makhluk cerdas yang belajar dengan cepat. Tindakannya selalu didasari oleh dua motif: mengejar hal yang menyenangkan atau menghindari rasa sakit.



Apa Korelasinya dengan Pernikahan?

Ketika berpacaran, kita semua sadar, si Dia masih ‘belum’ milik kita. Jadi kita cenderung menjaga, berhati-hati dalam berbicara, bersikap dan memperlakukan pacar. Lalu, bagaimana setelah menikah? Merasa Dia milik saya sepenuhnya, karena sudah ada ikatan yang kuat. Akibatnya, secara bertahap kita makin terbuka dan tidak lagi menjaga perasaan pasangan. Kalau tidak suka, ya terang-terangan bilang tidak suka. Bahkan, kadang-kadang kata-kata yang diucapkan tidak lagi difilter. Tidak peduli jika itu menyakitkan. Cenderung vulgar dan dilebih-lebihkan. Kalau saat pacaran makian dikemas dengan kalimat ‘kurang cerdas', saat menikah yang keluar adalah ‘goblog sudah dari sononya!’. Rasa marah diluapkan setuntas-tuntasnya tanpa berpikir.

Yang kerap terlupakan, belajar dari kasus memegang kompor menyala tadi, sejak kecil sudah tertanam dalam di pikiran bawah sadar setiap kita: Hindari hal yang menyakitkan dan menakutkan.

Alhasil, ketika merasa terluka karena dilecehkan secara verbal, yang kita lakukan adalah menghindar. Menjauh dari sumber sakit dan ketakutan. Menjauh dari pasangan. Menjaga jarak agar tidak terluka. Mendirikan dinding pemisah.
[Image: mensanaterapia.com]

Dulu, saat pacaran, kita bisa menceritakan apa saja, seolah-olah si Dia selalu support dan penuh pemahaman. Setelah menikah, banyak hal yang tidak disetujuinya. Ingin beli sesuatu yang menurut kita penting, bagi pasangan itu pemborosan. Apa yang kita lakukan? Mulai menutup diri. Kadang betul-betul menurut meski dengan terpaksa, tetapi tidak jarang tetap beli dengan sembunyi-sembunyi. Keterbukaan dengan pasangan perlahan namun pasti memudar. Apalagi jika suatu ketika ketahuan, pertengkaran tidak dapat dihindarkan.

Dan fatalnya, ketika bertengkar kita cenderung bereaksi, bukannya berespons.

Baca Juga: Inilah Pembunuh Relasi Nomor Satu. Simak dan Hindari, Niscaya Hubungan akan Harmonis Selamanya



Reaksi atau Respons?

Apa bedanya?

Bereaksi berarti bertindak atau berkata-kata menurut insting tanpa berpikir, tanpa filter, lebih didominasi oleh emosi.

Sedangkan berespons artinya memikirkan, mempertimbangkan, lalu memilih dengan sadar keputusan yang akan kita ambil. Ada kerja pikiran yang terlatih di sini.

Latihan ini memunculkan kualitas terbaik pribadi seorang manusia. Empati, pertimbangan, belas kasih, keadilan, kemurahan hati, harapan, diolah, lalu mucul permukaan dalam bentuk tindakan atau perkataan yang sudah dipikirkan secara masak.

Sayangnya, reaksi bukan respons yang justru kerap dilakukan pasangan. Reaksi itu justru membuat parut-parut luka bertambah. Perasaan tidak dimengerti oleh pasangan pun kian dalam.

Ingin diterima dan dikasihi apa adanya adalah naluri manusia. Sayangnya, kebutuhan ini seringnya tak terjawab. Inilah penyebab pernikahan menjadi dingin, terjadinya perselingkuhan atau bahkan perceraian.

Memahami kebenaran ini, mari membawa diri dengan lebih bijak. Perbaiki hubungan dengan memilih berespons, bukan bereaksi. Sejak hari ini.

[Image: idotaketwo.com]
Orang yang kuat dan berjiwa besar tidak akan membiarkan insting dan reaksi menguasai diri. Sebaliknya, akan memilih berespons dengan penuh kasih untuk mengatasi rasa takut dan sakit.

Cinta itu memberikan rasa aman. Ia penuh kepedulian, senantiasa ingin melihat orang yang dikasihi berbahagia. Kedekatan hubungan dengan Sang Pencipta akan mengasah kepekaan, memberi kekuatan serta keberanian. Dengannya, kita senantiasa dimampukan untuk memilih hal-hal yang manis, yang benar, yang adil, yang suci, yang murni, yang patut dipuji. Semua yang disebut kebajikan, bagi orang yang dikasihi. Cinta adalah perlindungan, memberi rasa aman, membebaskan dari ketakutan.

Baca Juga: Demonstrasi Kasih: 10 Cara Menunjukkan Rasa Cinta demi Kelanggengan Relasi


Mari jalin hubungan yang harmonis dengan pasangan melalui tindakan cinta dan respons yang anggun.

Jangan lupa, kebahagiaan itu diciptakan, bukan terjadi secara kebetulan.



Baca Juga:

Ingin Cinta Tetap Manis Sepanjang Usia? Begini Caranya!

Ketika Pernikahan Terasa Hambar, Perceraian Bukan Pilihan, Apakah Hubungan Tanpa Status dengan Orang Ketiga adalah Jalan Kebahagiaan?

Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Perselingkuhan, namun Tak Kalah Hebat Menghancurkan Hubungan. Atasi sebelum Terjadi!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar