Bukan Menjomblo, Pacaran, atau Menikah yang Membuatmu Bahagia. Kamu Selalu Bisa Memilih untuk Bahagia, Apa pun Statusmu Sekarang

Singleness & Dating

[Image: wayofgray.com]

9.2K
Bukan menjomblo, pacaran, atau menikah yang membuat kita happy, melainkan bagaimana kita mengusahakan kebahagiaan itu agar sering mampir dalam hidup kita.

There are three kinds of men in this world:

Some remain single and make wonders happen.

Some have girlfriends and see wonders happen.

The rest get married and wonder what happened???

Saya tertawa geli sendirian saat membaca joke di atas. Di posisi mana pun kita saat ini - menjomblo, pacaran, menikah - semua itu adalah pilihan kita sendiri dan masing-masing ada plus minusnya. Ketimbang iri dan sirik terhadap pilihan orang lain serta menyesali pilihan kita sendiri, lebih baik ambil positifnya dari setiap pilihan kita.

Bukan menjomblo, pacaran, atau menikah yang membuat kita happy, melainkan bagaimana kita mengusahakan kebahagiaan itu agar sering mampir dalam hidup kita.

Inilah 3 pengalaman hidup saya yang saya bagikan.



1. Menjomblo

[Image: popsugar.com]

Siapa bilang menjomblo itu bikin ngaplo [Jawa = melongo]? Banyak hal yang bisa kita lakukan justru saat kita masih sendirian. Belajar dari pengalaman empiris saya sendiri, ada banyak hal yang bisa saya lakukan saat saya masih menjomblo dulu.

Pertama, saya bisa bebas pergi ke mana saja tanpa berpikir terlalu panjang. Begitu selesai kuliah saya memutuskan untuk bekerja di perusahaan tambang asal Perancis. Meskipun saat itu kaki saya sakit radang sendi, saya memutuskan untuk berangkat keluar pulau untuk memulai bekerja.

Kedua, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku dan menulis di depan mesin ketik yang bunyinya bisa membuat istri dan anak terbangun seandainya saya sudah menikah saat itu. Pada saat menjomblo itulah saya bisa sangat produktif baik dalam menulis maupun menerjemahkan buku.

Ketiga, saya bisa pergi hunting foto ke mana saja tanpa beban. Saya ikut berburu foto “Surabaya By Night” dan mencoba film ASA 3200, memotret model di atas kuburan di tepi telaga Sarangan sampai ke gunung Bromo. Kini setelah menikah dan punya dua orang anak, saya justru memilih untuk memotret menggunakan smartphone saya. Giliran anak bungsu saya yang memakai kamera ‘sungguhan’. Wkwkwk.

Baca Juga: Tentang Saya, yang Memilih untuk Menjadi Single dan Menjalani Hidup Lajang yang Penuh Berkat



2. Pacaran

[Image: teronga.com]

Apa yang asyik saat pacaran? Dunia serasa milik kami berdua, sedangkan yang lain kost! Hehehe. Jika dulu semua kegiatan saya lakukan sendiri, sekarang sebagian harus saya sisihkan untuk calon istri saya di kemudian hari.

Bagi saya, masa pacaran bukan hanya sebagai waktu penjajakan, tetapi persiapan yang matang untuk menuju pernikahan. Itulah sebabnya mengapa saat pacaran dulu saya sudah memutuskan untuk membeli rumah sendiri, meskipun dengan cara kredit. Uang mukanya dibantu keluarga.

Saat pacaran juga merupakan waktu yang baik untuk mendiskusikan segala hal, khususnya pekerjaan dan masa depan. Misalnya, ketika saya mendapat tawaran untuk meneruskan studi lanjut ke luar negeri, saya memilih untuk mendiskusikannya dengan calon istri saya.

Bagi saya, kebahagiaan pasangan wajib saya pikirkan sejak dini. Egoisme hanya mengantar pada kehancuran.

Kalaupun pilihan pacar berbeda dengan keinginan kita, asal sudah ada kata sepakat, tidak boleh ada penyesalan. “There are no regrets in life, just lessons.” Begitu kata Jennifer Aniston. Saya setuju!

Baca Juga: 4 Fase dalam Pacaran yang Harus Kamu Lewati untuk Hubungan yang Mantap Menuju Pernikahan



3. Menikah

[Image: susanpittard.com]

“And they lived happily ever after.” Bagi saya ungkapan yang sangat terkenal itu berarti kebahagiaan pernikahan harus diusahakan.

Kebahagiaan itu bukan dikasih, tetapi diraih. Bukan pemberian, melainkan perjuangan.

Apa dampak positif pernikahan? Saya tidak lagi berpikir ‘saya’ melainkan ‘kita’ dalam memutuskan banyak hal di dalam hidup ini. Saat kami memutuskan untuk tinggal dan berkarier di Indonesia saja, itu pun juga karena istri saya tidak tahan winter. Tawaran demi tawaran untuk tinggal di luar negeri selalu dijawab dengan gelengan kepala oleh istri saya. Bahkan saat tawaran itu dari negara tetangga yang tidak punya musim dingin seperti Singapura pun, istri saya enggan. Dia lebih memilih untuk tinggal di tanah air tercinta, pilihan yang tidak pernah saya sesali sampai hari ini. Toh setiap tahun kami masih bisa keluar negeri memenuhi undangan bicara.

Baca Juga: Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan


Nah, mana yang Anda pilih? Menjomblo? Melangkah menuju masa pacaran? Atau menikah? Ada pelangi di balik awan. Pilihan ada di tangan Anda. Jalani dan nikmati tanpa beban berlebihan. Penyesalan hanya menambah beban dalam perjalanan. Travel light!

“Too often in life, something happens and we blame other people for us not being happy or satisfied or fulfilled. So the point is, we all have choices, and we make the choice to accept people or situations or to not accept situations. - Tom Brady



Baca Juga:

Stop Bertanya "Kapan Kamu Menikah?" Biarkan Para Jomblo Merdeka dan Menikmati Kejombloan Mereka

Pacaran: Bukan Tambal Sulam Apalagi Gali Tutup Lubang. Mulailah Relasi Cinta yang Sehat dengan 3 Hal Ini

Wanita, Periksa Kesiapan Pasanganmu untuk Menikah Lewat 4 Pertanyaan Ini

Saya Ingin Menikah, tapi Tidak karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti Ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Menjomblo, Pacaran, atau Menikah yang Membuatmu Bahagia. Kamu Selalu Bisa Memilih untuk Bahagia, Apa pun Statusmu Sekarang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?