Bukan Hanya Angpao, Inilah 3 Hal yang Lebih Bernilai yang Harus Orangtua Berikan kepada Anak di Perayaan Tahun Baru Imlek

Parenting

[Image: qilingongcj.ro]

4.9K
Sebagai orangtua, adakah hal-hal yang bisa kita tanamkan kepada anak-anak kita sembari merayakan Imlek? Nilai-nilai seperti apakah yang kita ingin mereka pegang hingga mereka dewasa nanti?

Tradisi Imlek memiliki variasi perayaan yang sangat kaya. Seperti halnya tahun baru dirayakan secara berbeda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain, demikian juga ragam yang ada dalam merayakan Imlek.

Dari sisi keluarga ayah, saya dan saudara-saudara saya merupakan generasi ketiga dari para perantau yang datang dari China dan menetap di Indonesia. Sebagai generasi ketiga, pergeseran budaya sudah terjadi dan terasa dalam keluarga kami. Salah satu contohnya bisa terlihat lewat bahasa yang digunakan. Orangtua kami masih menggunakan dialek daerah Hokkian ketika berkomunikasi di dalam rumah bersama kakek nenek saya [orangtua mereka]. Tetapi ketika berkomunikasi dengan kami, mereka menggunakan bahasa Mandarin. Kami sendiri, para anak-anak, sudah terbiasa dengan bahasa Indonesia, sehingga bila kalian bertamu ke rumah kami, maka kalian akan mendengarkan percakapan dua bahasa, dimana orangtua berbicara menggunakan bahasa Mandarin dan kami menjawabnya dengan bahasa Indonesia.

Walau demikian, kebiasaan ini bukanlah kebiasaan yang unik, karena keluarga yang merantau ke negara lain juga akan melakukan hal yang sama. Sebagai contoh, teman saya yang besar di Canada akan berbicara menggunakan bahasa Inggris menjawab orangtua mereka yang bertanya dalam bahasa Indonesia.

Poin saya adalah bahwa akan terjadi perubahan dan penyesuaian budaya ketika kita berpindah ke suatu tempat yang baru. Perubahan itu mungkin berlangsung cepat, tetapi pada umumnya, perubahan itu terjadi dan bisa terlihat setelah beberapa generasi berlalu.

Sebagai seorang ayah, kekayaan budaya China ini juga akan saya turunkan kepada anak-anak saya yang merupakan generasi selanjutnya. Anak-anak ini bertumbuh dalam kekayaan budaya Indonesia yang lebih besar pengaruhnya daripada budaya leluhur yang berasal dari China. Kepada mereka ini, nilai-nilai apakah yang ingin saya tanamkan dan budaya Imlek seperti apakah yang ingin saya bangun? Itulah pertanyaan yang akan membimbing saya dan istri dalam memperkenalkan mereka terhadap hari raya Imlek sejak mereka kecil.

Ketika masih kecil, Imlek buat saya identik dengan keluarga dan hongbao [kertas merah berisi uang; istilah yang lebih populernya "angpao"]. Bagi saya, Imlek adalah salah satu hari yang sangat spesial dan sangat saya nantikan. Terkadang, saya bahkan lebih bersemangat menantikan Imlek dibandingkan dengan hari ulang tahun sendiri. Alasannya ada dua. Pertama, karena di Imlek, saya akan menerima hongbao yang banyak. Keluarga jauh akan berkumpul bersama, dan sebagai anak kecil, kami akan menanti dengan sabar untuk dipanggil dan diberikan hongbao.

Alasan kedua mengapa Imlek sangat saya nantikan bukanlah karena hari itu saya bisa mengambil permen dan kue sebanyak yang saya mau, walau itulah yang terjadi. Bukan pula karena baju baru yang saya dapatkan, walau itu juga yang sering terjadi. Alasan kedua ini lebih disebabkan oleh pengecualian yang diberikan oleh orangtua saya, yaitu kesempatan untuk bolos sekolah. Tahun baru China merupakan satu-satunya hari dimana kami didorong oleh orangtua untuk tidak masuk sekolah. Di hari itu, kami dengan bangga bisa berkata bahwa kami bolos sekolah. Dan kesenangan saya bertambah ketika sedang berada di jalan dengan baju baru melewati sekolah dan melihat teman-teman lain sedang belajar. Sungguh suatu pengalaman yang indah dan berkesan.

Kini, hal itu tidak perlu lagi terjadi, karena pemerintah Indonesia sudah menetapkan hari raya Imlek sebagai hari libur nasional. Kini, perayaan Imlek dirayakan dengan kemeriahan yang jauh lebih besar dan lebih kaya, bahkan dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.

Sebagai orangtua, adakah hal-hal yang bisa saya tanamkan kepada anak-anak saya sembari merayakan Imlek ini? Nilai-nilai seperti apakah yang kami ingin mereka pegang hingga mereka dewasa nanti, ketika cara mereka merayakan Imlek mungkin sudah berbeda dengan apa yang kami lakukan hari ini?

Dalam diskusi saya dan istri, kami menyadari ada beberapa hal yang penting buat kami dan kami ingin mereka ingat setiap kali mereka merayakan Imlek. Selain mengajarkan mereka untuk mengucapkan “Gong Xi Xin Nian Kuai Le,” “Gong Xi Fat Cai,” dan melarang mereka mengucapkan “Mana hongbao-nya?” berikut beberapa hal yang kami ingin mereka ingat:



1. Xie Xie dari Hati

Setelah acara perayaan Imlek sebuah perusahaan selesai, maka terlihat banyak kertas hongbao yang berserakan di depan pintu keluar. Sobekan-sobekan amplop merah yang kosong itu dibuang begitu saja setelah isinya diambil dan disimpan di kantong. Di antara kelompok karyawan, terdengar percakapan yang membincangkan isi hongbao yang diterima. Ada yang mengatakan bahwa nilainya kecil dibanding tahun lalu. Ada yang berharap bahwa lain kali pemimpin perusahaan akan memberikan nilai yang lebih besar lagi.

Buat banyak orang, nilai atau isi hongbao yang didapat itu lebih penting dibandingkan niat atau isi hati dari si pemberi. Sebagai orangtua, kami berulang kali mengatakan kepada anak untuk tidak melihat nilai hongbao yang diterima, tetapi belajar untuk mengucap syukur atas pemberian yang telah diterima. Kami mengajar mereka untuk mengucapkan terima kasih, atau xie xie, kepada setiap orang dengan senyuman dan sikap yang sopan.

Harapan kami buat anak-anak kami adalah

ketika mereka besar nanti, mereka tidak menjadi orang yang menilai sebuah pemberian berdasarkan besar kecil pemberian itu.

Kami rindu mereka bertumbuh menjadi orang-orang yang ketika menerima pertolongan atau hadiah dari orang lain, secara otomatis bisa bersyukur dan berterima kasih, terlepas dari besar atau kecilnya nilai pertolongan itu.

[Image: wanderthewild.com]

Baca Juga: Bagaimana Cara Terbaik untuk Membalas Kebaikan Orang Lain?



2. Pentingnya Jianmian di Tengah Dunia yang Selalu Haomang A

Saat ini, tidak sedikit keluarga yang memiliki anggota keluarga yang tersebar di berbagai daerah. Keluarga istri saya berasal dari Surabaya, tetapi kini tersebar di 4 kota besar di Indonesia. Saya sendiri hidup di Makassar dan memiliki adik-adik yang hidup di Surabaya dan Canada. Bila mau menghitung om-om dan tante-tante, sepupu-sepupu, serta keluarga dari kakek dan nenek saya, maka keluarga besar kami tersebar di berbagai daerah dan sangat jarang bertemu pada satu waktu. Umumnya, alasan yang dikemukakan adalah "Haomang a!" ["Kami sangat sibuk, lho!"]

Namun hingga saat ini, Imlek merupakan salah satu waktu dimana sanak keluarga menyempatkan diri untuk pulang kampung dan berkumpul bersama kembali. Di saat Imlek, anggota keluarga yang jauh berusaha untuk menyempatkan diri untuk pulang kembali. Sama seperti waktu mudik ketika teman-teman merayakan Idul Fitri, demikian juga kami berusaha pulang ke rumah orangtua ketika merayakan Imlek untuk jianmian [bertemu muka dengan muka].

[Image: coreyleewreen.com]

Buat kami, ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga dan perlu dipertahankan.

Relasi dibangun bukan lewat chatting atau BBM atau Facetime, melainkan lewat banyaknya waktu yang diberikan untuk bertemu muka dengan muka.

Dan kami rindu anak-anak kami bertumbuh di tengah keluarga yang sering bertemu dan bercanda bersama, menikmati keintiman yang hanya bisa muncul lewat keluarga.

Baca Juga: How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini




3. Hidupmu Bagian dari Sebuah Gushi yang Besar

Di saat Imlek, kami akan berkunjung ke rumah kerabat untuk bainian [menjalin dan membangun hubungan atau bersilaturahmi]. Mereka kemudian akan menyuguhkan makanan dan minuman buat kami. Dan sambil duduk, kami pun akan berbagi gushi [cerita]. Buat kerabat yang sudah lama tidak bertemu, maka gushi yang dibagikan pun sangat banyak. Ketika saya berkunjung ke kerabat dari kakek nenek saya, maka saya sering diceritakan kembali bagaimana kisah ketika saya masih kecil, kenakalan, dan hal-hal yang saya perbuat di waktu itu.

Berbagai cerita ini mengingatkan saya bahwa hidup saya menjadi bagian dari sebuah cerita yang berlanjut turun temurun. Contohnya, saya terkejut ketika mendengarkan cerita bahwa ayah dari nenek saya bekerja sebagai wartawan di pulau Jawa dulu. Ternyata, kesukaan membaca dan menulis ini saya dapatkan dari Beliau. Atau cerita tentang kakek saya yang semasa mudanya hidup di atas kapal dan menjual bahan-bahan pokok sandang dan pangan tanpa kenal lelah, menjadi pemacu semangat ketika kemalasan datang menyerang saya. Dan banyak lagi cerita-cerita tentang hidup, tentang kesusahan, dan kesuksesan yang bisa kami dapatkan ketika kami bainian dan mendengarkan gushi yang dibagikan.

Baca Juga: Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak

Pertemuan-pertemuan dengan keluarga yang jauh dan dekat ini merupakan kesempatan untuk mengenal keluarga besar kita. Kami ingin agar anak-anak kami bertumbuh dengan pengenalan yang tepat terhadap keluarga besar kami.

Kami ingin mereka menghargai dan menyimpan cerita-cerita keluarga ini sebagai sebuah warisan yang tak ternilai, yang jauh lebih berharga dari hongbao yang mereka terima.
[Image: s1.bwallpapers.com]

Itulah beberapa hal yang saya dan istri ingin tanamkan buat anak-anak kami. Di hari itu, ketika kami merayakan tahun baru, kami ingin anak-anak kami memasukinya dengan bersyukur atas keluarga yang dimiliki dan menatap hari esok dengan penuh pengharapan. Mereka diingatkan lagi bahwa mereka tidak sendirian, ada keluarga yang mengasihi mereka, terlepas dari jarak yang memisahkan.

Kisah-kisah masa lalu bisa menjadi salah satu sumber pengharapan ketika hari-hari terasa sulit dan gelap. Bila generasi masa lalu mampu menghadapi kesulitan mereka, maka kita juga mampu menghadapi kesulitan masa kini.


[Image: RibutRukun.com]

Akhir kata, saya ingin mengucapkan "Gong Xi Xin Nian Kuai Le!" buat kamu. Harapan saya, kamu juga bisa merayakan hari itu bersama dengan keluarga yang terkasih, bersyukur atas apa yang sudah dianugerahkan kepadamu. Bila kamu sedang berada dalam tantangan hidup di tengah ekonomi yang sulit ini, maka marilah kita mencari kekuatan itu dari masa lalu, dari generasi pendahulu kita. Niscaya kita mendapatkan kekuatan untuk hari esok yang lebih baik.

Gong Xi Ni! Selamat untukmu!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Hanya Angpao, Inilah 3 Hal yang Lebih Bernilai yang Harus Orangtua Berikan kepada Anak di Perayaan Tahun Baru Imlek". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar