Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!

Reflections & Inspirations

[Image: ahokdjarot.id, bersamaaniessandi.com]

12K
Apa gunanya sesama saudara saling serang, saling telikung, dan saling cerca? Bukankah jauh lebih baik jika saling sayang, saling dukung, dan saling mesra?

Jakarta panas. Indonesia bergolak.

Mengapa bisa seperti ini?

Ada banyak faktor, yang kalau kita telusuri, bermuara pada satu hal ini:

beda pilihan.

Sejak manusia pertama, kita sudah diperhadapkan dengan pilihan: taat kepada Tuhan atau melanggar larangan. Karena kita bukan robot, maka pilihan adalah keniscayaan. Yang menjadi masalah, kita memilih berdasarkan otak plus hati atau otot plus emosi?

Saya pernah membaca seorang yang tinggal di Amerika Serikat [!] yang sampai beberapa hari setelah pilpres, tidak tahu siapa yang menang menjadi presiden di negara adidaya itu. Mengapa? Dia MEMILIH untuk tidak mengetahuinya. Dia singkirkan media massa - baik cetak maupun elektronik - dan tidak mau membuka gadget-nya jika ada potensi untuk memberinya informasi soal pemilu. Dia pun menjauh dari ingar bingar dan hiruk pikuk kampanye. Titik!

Saat masih menjadi editor di sebuah penerbitan buku, saya pernah membaca buku serupa yang intinya mengatakan bahwa berita itu buruk! Saya tertawa sendiri membaca buku itu. Sebagai wartawan, saya merasa tersindir karena jargon para kuli gawai adalah “Kabar buruk adalah kabar baik.” Tanpa ada kabar buruk, wartawan seakan kehabisan amunisi untuk menembakkan informasi ke publik yang terbidik.

Bagi ‘orang aneh’ di AS dan penulis buku ‘anti-informasi’ itu, jika kabar yang mereka dengar hanyalah kabar buruk, mengapa harus didengarkan? Saat membaca koran baik cetak maupun online yang isinya hampir semua tentang pilkada Jakarta, saya bisa memaklumi sikap dua orang yang ‘berbeda’ dengan sebagian besar kita itu. Kita yang tiap hari ingin update berita pilkada, bisa ikut-ikutan panas saat masing-masing kubu - entah tim sukses resmi entah para buzzer - melontarkan berbagai berita miring terhadap pasangan calon lawan. Berita hoaks pun dibuat sedemikian rupa sehingga terkesan ‘resmi’ dan ‘benar’.

Sebagai orang yang lahir di Indonesia dan mencintai Indonesia, saya merasa ngeri dengan perkembangan semacam ini. Sebagai orang yang biasa dan banyak bergaul dengan berbagai kalangan lintas etnis dan lintas agama, saya merasa bahwa

‘Perang’ menjelang, pada saat, dan setelah pilkada ini harus dihentikan.
Siapa yang bertanggung jawab menghentikannya?
Kita semua!

Ketimbang membuat dan ikut-ikutan menyebarkan berita yang bisa mengobarkan emosi orang - yang akhirnya bisa melakukan tindakan anarki - bukankah lebih baik ikut meredamnya dengan menuliskan hal-hal positif yang bisa merajut kembali tenun kebangsaan yang terancam robek [atau sudah?]. Berlandaskan pemikiran inilah RibutRukun bisa menjadi tetesan embun - yang meskipun kecil - bisa menyejukkan jiwa.


Nah, jika bukan Ahok dan bukan Anies, lalu siapa yang seharusnya kita perjuangkan?

[Image: detikc.om]

Budi pekerti!

Rasanya rindu sekali mendengar frasa ini didengungkan kembali. Budi pekerti yang dulu menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, sudah seharusnya kita hidupkan kembali sehingga kita tidak banyak polah. Seorang sahabat mengirimi saya meme dengan tulisan menggelitik, “Bukan pola makan, pola pikir dan pola hidup yang menimbulkan masalah, melainkan banyak polah!"

Seandainya kita menghayati kembali budi pekerti luhur dalam praktik hidup kita keseharian, saya percaya siapa pun yang menjadi pemimpin kita, baik di DKI maupun Indonesia, kita tetap bersaudara.

Apa gunanya sesama saudara saling serang, saling telikung, dan saling cerca?
Bukankah jauh lebih baik jika saling sayang, saling dukung, dan saling mesra?

Saya memilih untuk merenungkan dan mencoba menerapkan budi pekerti luhur baik praksis maupun empiris dengan berbagi cerita.



Saling Dukung

Menjelang kematiannya, seorang ayah membagikan warisan kepada dua putranya secara adil. Sama rasa. Sama rata. Putra sulungnya sudah menikah dan dikaruniai beberapa anak, sedangkan putra bungsunya masih melajang. Mereka sama-sama diwarisi gudang berisi sembako.

Setelah kematian ayahnya, sang anak sulung berpikir, “Kasihan adikku. Dia hidup sendiri. Seharusnya dia mendapat lebih banyak daripada aku, karena toh aku lebih bahagia karena punya istri dan anak. Si sulung memutuskan untuk melakukan sesuatu. Pada malam hari, dengan diam-diam dia mengambil satu karung beras dari gudangnya, menggendongnya, dan memasukkannya ke gudang adiknya.

Sementara itu si bungsu ternyata gelisah dan tidak bisa tidur. “Kasihan kakakku, tampaknya pembagian warisan dari ayah tidak adil,” ujarnya dalam hati, “seharusnya kakakkulah yang mendapat lebih banyak karena sudah berkeluarga, sedang aku masih sendiri.” Maka, secara rahasia, dia memindahkan satu karung besar ke gudang kakaknya.

‘Barter’ itu terus berlangsung berhari-hari. Suatu malam. Saat si sulung hendak memindahkan satu karung berasnya ke si bungsu, mereka bertemu di tengah jalan. Saat menyadari apa yang terjadi, mereka menurunkan karung masing-masing dan saling berpelukan sambil menangis haru.

Baca Juga: Karena Warisan, Anak Tega Gugat Ayah yang Berusia Senja. Jangan Harta Memecah Keluarga, Bijak Mewaris, Ini Kiat Orangtua Saya



Saling Mesra

Cerita yang kedua juga tentang dua orang kakak beradik. Mereka tinggal di tanah pertanian yang luas. Karena persoalan sepele, mereka bertengkar hebat. Sejak hari itu, mereka tidak bicara satu sama lain. Mereka bahkan memilih untuk berpisah. Yang satu di sebalah kiri sungai, yang lain di sebelah kanannya.

Karena tidak ada keinginan untuk berdamai, pertikaian itu justru membuat mereka saling benci. Suatu hari, ada seorang tukang kayu yang mampir di rumah sang adik. Sang adik menyuruh tukang kayu untuk membangun pagar di sepanjang aliran sungai itu sehingga dia tidak lagi bisa memandang kakaknya dan kakaknya tidak bisa lagi memandangnya. Setelah menyediakan bahan baku, dia pergi ke kota dan meninggalkan tukang kayu itu sendiri.

Saat dia kembali sore harinya, dia kaget bukan main karena sama sekali tidak ada pagar di sungai itu. Satu meter pun belum jadi!

“Apa-apaan ini?” ujarnya dengan kemarahan meluap. “Engkau aku tugasi untuk membangun pagar, masa sedikit pun belum jadi?”

Dimarahi seperti itu, tukang kayu itu tetap menunjukkan ketenangan. Dengan bahasa isyarat, dia meminta sang adik untuk mengikutinya. Mereka sampai di tepi sungai. Di atasnya berdiri jembatan. Suasana tiba-tiba hening. Tanpa sadar sang adik memandang ke seberang jembatan. Di sebelah sana, sang kakak pun sedang memandang ke arahnya. Tanpa ada yang menyuruh, mereka berdua berlari, sama-sama menangis dan saling berpelukan di atas jembatan.

Baca Juga: Inilah Pembunuh Relasi Nomor Satu. Simak dan Hindari, Niscaya Hubungan Harmonis Selamanya



Jembatan Kasih

Jembatan kasih yang menyatukan dua saudara sekandung itu mengingatkan saya, kita bisa memakai jembatan apa saja untuk mengubah saling serang menjadi saling sayang.

Saya kembali diingatkan bahwa ketika suhu politik menghangat, Jokowi berkunjung ke rumah peristirahatan Prabowo. Rasanya sejuk sekali melihat kedua anak bangsa ini sama-sama naik kuda. Kesejukan yang sama datang dari istana saat SBY mengunjungi Jokowi. Mereka terlihat bercengkerama di beranda istana negara.

Kini saatnya kita membangun jembatan persaudaraan dengan kembali bersatu.
Pilihan boleh beda, namun kita sama-sama Indonesia. Merdeka!

Baca Juga: Hidupmu Berantakan? Coba Periksa, Bisa Jadi Salah Menempatkan Satu Hal Penting Ini Sebabnya


[Image: antarafoto]

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”



Baca Juga:

Menjalin Persahabatan Beda Agama dan Suku, Inilah 5 Keuntungannya

Pillih Siapa di Pilkada? Sebelum ke Bilik Suara, Pertimbangkan Satu Hal Ini Saja!

Belajar dari Agus Harimurti Yudhoyono: Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan

Agus Ahok Anies: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Mereka?




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar