Buat Kamu yang Merayakannya, Hayati Paskah Lewat Film Beauty and The Beast

Reflections & Inspirations

[Image: thenewtowntheatre]

5.7K
“If she is the one who’ll break the spell, you must finally learn to love.” - Beauty and the Beast [2017]

Menjelang Paskah, anak saya mengajak saya menonton film. Saya memilih Beauty and the Beast versi terbaru. Film remake dari judul film kartun Disney tahun 1991 ini menarik karena diperankan oleh aktris cantik Emma Watson [pemeran Hermione Granger di Harry Potter] dan si ganteng Dan Stevens yang memerankan pangeran yang dikutuk menjadi ‘The Beast’.

Ceritanya - meskipun sudah saya ketahui dan kita ketahui bersama - tetap menarik karena dikemas lewat drama musikal. Gubahan lagu yang begitu indah membuat penonton ‘meleleh’, apalagi saat Belle [The Beauty] berdansa dengan The Beast.

[Image: movies.disney.co.uk]

Apa yang membuat film ini memukau? Gadis jelita pencinta buku ini bisa melihat kecantikan yang tersembunyi di balik sosok The Beast yang mengerikan.

Menjelang Paskah pula, bukan kebetulan jika saya membaca buku Max Lucado berjudul He Chose The Nails. Di bab 2, “I Will Bear Your Dark Side” [“Aku Menanggung Sisi Gelapmu”], saya menemukan tautan yang menarik dengan kisah Beauty and The Beast. Tiba-tiba saja saya merasakan makna baru yang lebih dalam dari arti salib Kristus.



Ada ‘The Beast’ di Setiap Diri Kita

Saat menyetir mobil pada waktu malam, Max Lucado berada di belakang kendaraan yang dikemudikan oleh seorang wanita. Dia ingin menyalip tetapi tidak diberi kesempatan. Karena jengkel, dia menyorotkan lampu jauh ke spion tengah mobil cewek di depannya. Karena silau, cewek itu membalas dengan mengurangi kecepatan sambil terus menjaga agar tidak disalip. Max tentu jengkel karena gadis itu sengaja mengendarai mobilnya pelan sekali. Dengan terpaksa Max mengekor di belakangnya seperti siput. Mau kencang tidak bisa karena terhalang mobil di depannya. Mau mendahului pun tidak bisa.

Kita yang merasa ‘orang baik-baik’ pun bisa menjadi ‘jahat’ di jalanan. Saya tak terkecuali. Saat hendak ke suatu tempat untuk tugas penting, jika ada mobil yang tiba-tiba saja memotong jalan saya, perasaan jengkel langsung menyesakkan dada. Tanpa sadar, saya mencoba ‘menghalanginya’ memotong jalan saya. “Sudah, ngalah saja,” ujar suara Belle, eh, Susan ... hehehe ... di sebelah saya.

Mengapa kita, yang katanya orang baik-baik, bisa tiba-tiba jadi jahat?
[Image: papelpop]

St. Paul menjelaskannya dengan baik sekali, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.”

Mari kita perdalam makna Paskah dengan merenungkan 3 pertanyaan mahapenting ini:



1. Dari mana asal ‘the beast’ itu?

Menurut ajaran agama yang saya anut, kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Edenlah yang membuat kita bak hidup di Taman Edan. Tuhan menyebut pelanggaran sabda-Nya itu dengan satu kata tegas: DOSA. Perilaku kita menjadi jahat. Kain yang iri dengan Habel bisa membunuh adiknya itu hanya gara-gara persembahannya tidak diterima Sang Khalik. Begitu seterusnya sampai ... kisah penyaliban Yesus.

Kita sering kebablasan di dalam bertindak.

Penegak keadilan seperti Novel Baswedan pun disiram air keras justru saat selesai menunaikan ibadahnya. Diduga penyiramnya suruhan orang yang tersangkut megakorupsi e-KTP.

Setelah ‘pengadilan jalanan’ menjatuhkan hukuman kepada Yesus, kepala pasukan meminta prajuritnya untuk menyesahnya. Setelah itu mereka diminta untuk menyalibkannya. Namun, apa yang mereka lakukan? Mereka ‘berinisiatif’ untuk menyiksanya baik lahir maupun batin.

Siapa yang menyuruh mereka mendandani Yesus seperti raja, memakaikan mahkota duri, memberinya ‘tongkat kerajaan’, meludahinya dan mengolok-oloknya?
Mereka sendiri!

Bukankah hal ini sering kita lihat juga pada masa kini ketika orang melampaui wewenangnya dalam menjalankan tugas negara, bahkan melakukan apa yang ajaran agama tidak perintahkan?



2. Apa yang ‘beauty’ lakukan terhadap ‘the beast’?

Bagaimana reaksi Yesus saat mengalami semua penghinaan yang bisa meluluhlantakkan manusia paling perkasa sekalipun? Tunduk kepada otoritas Bapa.

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.”

Seandainya ‘beauty’ tidak mau menemui ‘the beast’ saat ayahnya ditangkap karena mencuri mawar, apakah ‘the beast’ bisa berubah ke bentuk asalnya? Jika ‘beauty’ tidak peduli saat ‘the beast’ diserbu dan dimangsa serigala dan membawanya kembali ke istananya, apakah ‘the beast’ bisa selamat? Andaikata ‘beauty’ tidak bisa melihat keindahan dalam diri ‘the beast’ dan mau mengasihinya tanpa syarat, apakah ‘the beast’ bisa dipulihkan kembali menjadi pangeran tampan? Tidak!

Apakah ‘beauty’ bisa disalahkan jika dia tidak melakukan semua itu? Tidak! Siapa yang bersimpati kepada makhluk raksasa berbulu dan bertaring serta menggeram bak serigala terluka? Tidak ada!

[Image: scifiempirenet.com]
‘Beauty’ melakukan itu
atas nama cinta yang paling agung:
kasih tanpa syarat!



3. Apa yang terjadi saat ‘beauty’ peduli dan mengulurkan kasih sejati kepada ‘the beast’?

Pertukaran yang tak sebanding!

Paskah bicara soal pertukaran yang tidak adil.
Kita yang berbuat dosa, Yesus yang menggantikan dosa kita.

Nabi Yesaya menggambarkanya dengan begitu nyata:

“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

Film Beauty and the Beast diakhiri dengan pulihnya segenap isi istana. Mereka kembali seperti semula. Paskah mengingatkan kita bahwa pengorbanan Ia yang tersalib memulihkan hubungan kita dengan Sang Bapa. ‘Beauty’ sanggup mengubah ‘The Beast’ menjadi pangeran!

[Image: PopSugar]
Kasih - sekali lagi - sanggup mengalahkan kejahatan. Jika kejahatan sudah dikalahkan, mengapa kita tidak belajar mengasihi sesama?


“If she is the one who’ll break the spell, you must finally learn to love.”

- Beauty and the Beast [2017]



*Tulisan ini dipersembahkan bagi umat Kristen dan Katolik dalam rangka menyambut Paska. RibutRukun juga mengharapkan tulisan ini menambah wawasan pembaca yang berasal dari keyakinan yang berbeda. Semoga di hari raya keagamaan lain, ada penulis yang bersedia berbagi keyakinan imannya dalam bahasa yang populer, dalam rangka berbagi wawasan untuk Indonesia yang lebih damai.



Baca Juga:

Hidup setelah Diluputkan dari Kematian: Sebuah Refleksi dari Peristiwa Penyanderaan dalam Angkot Menjelang Paska

Hidup Saleh, Malah Banyak Masalah. Jika Orang Baik Hidup Menderita, Percumakah Percaya kepada Allah?

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Buat Kamu yang Merayakannya, Hayati Paskah Lewat Film Beauty and The Beast". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar