Buat Kamu yang Masih Single di Usia Gawat, Temukan Pasangan Lewat C-I-N-T-A

Singleness & Dating

[Photo credit: Eli Defaria]

4.8K
Single di usia gawat memang sering kali membuat situasi terasa darurat.

Tak terbilang berapa kali saya melakukan 'endorse' bagi mereka yang masih berstatus single dan sedang berjuang mencari pasangan hidup. Saya mengambil gambar bersama dengan si single yang saya endorse lalu meminta yang berminat berkenalan dengannya untuk menghubungi saya via japri.

Berapa banyak yang merespons? Walau sering kali dianggap bercanda, tapi sesungguhnya banyak yang merespons endorsement saya. Beberapa orang malah ingin di-endorse dengan cara seperti itu.

Ketika saya membaca respons yang masuk lewat japri, saya menemukan sebuah realita yang sangat menarik. Tak sedikit yang berkomentar sosok di potret itu terlihat begini dan begitu, kurang ini dan itu. Tak jarang pula yang mengungkapkan sebenarnya sosok di gambar itu secara fisik memenuhi kriterianya, hanya saja usianya terlalu muda atau tua. Ah, betapa rumitnya mencari pasangan hidup.

Nah, inilah saran saya bagi mereka yang masih berstatus single dan berjuang untuk menemukan pasangan hidup: Keep it simple!

Biar gampang diingat, saya sederhanakan 5 kiat di bawah ini menjadi sebuah akronim: 'Cinta', C - I - N - T - A.



Carilah

Carilah yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan.

Banyak orang tahu apa yang ia inginkan dari seorang calon pasangan hidup. Mesti begini. Mesti begitu. Kalau disusun satu per satu, daftarnya bisa jadi panjang banget!

Pertanyaan saya adalah: Apakah betul itu yang kamu butuhkan? Beberapa orang bahkan tak mampu menjawab pertanyaan mendasar ini: Apa bedanya antara yang kita butuhkan dan inginkan?

Mencari pasangan dengan penampilan fisik yang menarik mungkin adalah keinginan mayoritas orang, khususnya pria. Namun, apakah ini yang betul-betul kita butuhkan?

Kebutuhan dan keinginan sangatlah berbeda. Kebutuhan berarti hal-hal yang tak boleh ditawar lagi keberadaannya. Sedangkan keinginan, boleh terwujud atau tidak.

Nah, jadi repot, kan, kalau kita berfokus pada keinginan dan bukan kebutuhan dalam mencari pasangan hidup? Mengapa tidak berfokus pada kebutuhan saja?

Coret beberapa hal dari keinginanmu dan temukanlah yang hakiki saja. Yang tak boleh tak ada. Itulah kebutuhan. Pada umumnya tak akan lebih dari 3 sampai 4 hal saja.

Baca Juga: Jangan Sampai Salah Pilih Jodoh, Jangan Juga Terlalu Pilah-Pilih. Pertimbangkan 3 Hal Ini Saja!



Ingatlah

Ingatlah umurmu bertambah terus. Lalu, apa?

Memang pada kenyataannya ada kesan 'ketidakadilan' bagi perempuan. Sebagian orang terus menerus berkata bahwa perempuan itu punya, mohon maaf, expiry date. Tanggal kedaluwarsa. Duh, jadi kayak barang saja, ya. Tak bisa dimungkiri, inilah yang ada di balik nasihat, saran, dan bahkan dorongan tanpa henti bagi perempuan untuk menemukan pasangan hidup.

Sedangkan pria? Ah, tak masalah! Umur berapa pun, pria masih akan ’laku’.

Realitanya, pertambahan umur pada umumnya bisa berefek dalam dua hal ini:

Pertama, bertambahnya lingkar pergaulan. Ini sisi baik, bukan? Semakin banyak teman, semakin banyak sahabat, semakin besar kemungkinan menemukan pasangan hidup.

Meskipun demikian, efek yang kedua juga harus dicermati. Memang bisa jadi lingkup pergaulan kita makin meluas, tapi jumlah orang yang nikah-able bisa jadi makin berkurang. Sebagaimana celoteh seorang teman di sebuah pesta, ”Yang ganteng pasti datang bersama pasangan. Yang ganteng dan datang sendirian, kemungkinan besar enggak straight!

[Photo credit: Nirav Patel]

Jadi?

Tak perlu kalap karena umur terus bertambah. Namun juga jangan sampai terlena. Upayakan saja apa yang bisa kita lakukan untuk menemukan pasangan hidup.

Baca Juga: Sering Tak Disadari, 5 Perilaku Perempuan Ini Memperpanjang Masa Single



Nalar

Nalar. Bukan emosi sesaat.

Makin lama berbicara dengan banyak pasangan yang akan menikah, saya dibuat makin cemas dengan realita ini. Ada beberapa pasangan yang berani menikah walau baru kenal 3-4 bulan. Bayangkan!

Ya, sih ada juga yang mengatakan sudah kenal sejak SD, terus ketemu lagi waktu reuni. Karena masih sama-sama single, atas dorongan teman-teman, mereka pun jadian. Tiga bulan kemudian, lamaran berlangsung dan pernikahan masuk tahap persiapan.

Saya tahu, kesendirian itu tak menyenangkan. Apalagi ditambah dengan dorongan, tekanan, dan bahkan paksaan untuk segera menikah. Namun, pilihan yang didasarkan pada emosi sesaat, dan bukan nalar sehat, hanya akan berujung pada pernikahan yang gawat!

Jika memang sudah terlambat menikah, tambahan satu atau dua tahun tak akan mengubah apa-apa. Daripada salah menikah karena terlalu cepat mengambil keputusan?

Baca Juga: Beberapa Pernikahan Memang adalah Kesalahan



Temukanlah

Temukanlah konfirmasi dari orang-orang terdekat. Nah, ini penting bagi mereka yang sudah merasa cocok dengan seseorang. Ajaklah orang tersebut masuk dalam lingkup pergaulan kita. Tanyakan pada teman-teman, apakah mereka merasa orang tersebut cocok bagi kita? Jika mayoritas setuju, bolehlah kita lega. Namun, jika mayoritas tak setuju? Kita perlu waspada.

[Photo credit: Adobe stock]

Benar, pernikahan adalah urusan pribadi. Namun, kita tak pernah benar-benar hidup sendiri di dunia ini, bukan?

Teman lama dan sahabatlah yang paling mengerti diri kita yang sebenarnya. Dalam pengertian itu, mereka juga dapat melihat apakah orang yang kita kenalkan cukup punya potensi kompatibilitas dengan diri kita. Teman dan sahabat itu seperti cermin yang memperlihatkan hal-hal yang bahkan kadang tak terlihat oleh diri kita sendiri.



Akhirilah

Akhirilah dengan pernikahan jika - dan hanya jika! - sudah mantap. Akhirilah dengan kesendirian [lagi] jika memang ternyata tak cocok.

Tak ada gunanya memaksa diri memasuki sebuah pernikahan dengan pertanyaan atau keraguan.

Tak selamanya pernikahan itu lebih baik daripada kesendirian.

Baca Juga: Saya Ingin Menikah, tapi Tidak Karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti Ini



Baca Juga:

Dapatkan Inspirasi dan Strategi untuk Menemukan Jodoh lewat 5 Artikel RibutRukun.com Ini

Menjomblo di Usia Kritis? Inilah 7 Cara Menikmatinya




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Buat Kamu yang Masih Single di Usia Gawat, Temukan Pasangan Lewat C-I-N-T-A". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar