Bodoh dan Naif, Begitu Komentar Orang Terdekat, Ketika Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia Setelah Bertahun-tahun Tinggal di Luar Negeri. Ini Kisah Kami

Reflections & Inspirations

[image credit: ndjengs.deviantart.com]

4.1K
Indonesia memiliki banyak harta karun keindahan yang disanjung dunia, tetapi ditinggalkan putra-putrinya. Keindahan inilah yang menarik kami dengan kuat untuk kembali pulang.

Ketika meninggalkan tanah air untuk belajar di negeri sebelah, kami tak pernah membayangkan bahwa suatu hari kami akan berdiri di persimpangan jalan. Sewaktu kami harus memutuskan pulang ke tanah air atau meneruskan merantau di negeri orang. Sejak awal, kami dipenuhi dengan banyak harapan bahwa saat kembali nantinya, kami akan mewarnai bumi pertiwi dengan keahlian yang kami pelajari. Naif kedengarannya. Namun hasrat untuk membawa dampak, paling tidak bagi komunitas kami, menjadi jangkar yang membuat kami merasa yakin bahwa kami akan kembali ke tanah air.

Tak disangka, kehidupan yang rapi dan teratur di sana membuat kami sedikit terlena. Ya... sedikit saja.

Ada banyak hal lain yang membuat kami kurang betah. Kehidupan di sana memang nyaman, tetapi tetap saja tak terasa seperti rumah sendiri. Makanan memang murah dan lebih terjaga kualitas dan kebersihannya, tetapi tak ada yang dapat mengobati rasa rindu kami akan jajanan kaki lima di pinggir jalan kota Surabaya.

Saat itu, kami masih yakin akan kembali ke Indonesia dengan senang hati. Namun, beberapa bulan menjelang kelulusan, kami mendapat tawaran dari tempat magang suami. Beberapa rekan mencoba merayunya untuk melanjutkan bekerja di sana. Sebenarnya, alasan yang mereka sodorkan cukup logis. Jika kami kembali ke Indonesia, kami masih harus menyesuaikan diri (lagi) dengan kehidupan dan pekerjaan. Sedangkan hidup di sana lebih nyaman dan teratur. Jauh lebih mapan dibanding kehidupan di Indonesia yang carut-marut.

Terlebih lagi, pekerjaan seni seperti yang kami kerjakan belum tentu mendapatkan apresiasi yang pantas dari masyarakat Indonesia. Berbeda dengan lingkungan di sana yang sudah sangat terbuka dan maju.
[image: www.wunderweib.de]

Akhirnya malam itu kami pulang ke asrama dengan kepala sedikit pening. Bukan karena anggur yang kami nikmati saat makan malam, tetapi karena tawaran ini mendorong kami menjauh dari idealisme untuk kembali pulang dan membangun Indonesia.

Baca Juga: Punya Impian Studi Lanjut ke Luar Negeri? Jawab Dulu 5 Pertanyaan ini sebelum Kamu Mengejar dan Mewujudkan Mimpimu!



Pulang atau pulang?

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukan jawaban atas kegundahan hati dan memutuskan jalan mana yang akan kami pilih. Kami sepakat untuk pulang setelah menyelesaikan studi.

Bodoh. Naif. Itulah komentar yang kami dapatkan atas keputusan ini.

Sedihnya, komentar ini tak hanya datang dari kolega dan rekan yang ada di sana, tetapi kebanyakan malah berasal dari orang-orang di tanah air. Akan tetapi, pandangan mereka yang membuat kami terlihat bodoh dan naif ini justru menjadi alasan kuat bagi kami untuk pulang.

Dua alasan utama inilah yang membuat kami memantapkan hati untuk kembali ke tanah air:


1. Indonesia Tertinggal

Ketiadaan MRT (kereta cepat dalam kota) di Indonesia. Koneksi internet yang lemot. Kecepatan kerja manusia yang tak jauh berbeda dari kecepatan unggah. Tak mampu mengekspor produk unggulan, Indonesia malah menjadi pengekspor asap yang "konsisten". Dilihat-lihat, sepertinya tak ada yang baik dari negara ini.

Inilah alasan kami harus pulang. Memang kehadiran dua orang lulusan luar negeri tak mungkin mengubah Indonesia dalam sekejap mata. Namun, kalau tak ada orang yang melakukan hal yang berbeda, maka tak akan ada perubahan yang bisa terjadi. Bukankah Albert Einstein pernah mengatakan, "Adalah sebuah kegilaan kala melakukan hal yang sama berulang kali tetapi mengharapkan hasil yang berbeda?"

[image: 34travel.me]

Kami pulang bukan untuk mewartakan betapa bobroknya Indonesia dibanding dengan negara lain yang lebih maju. Kami kembali bukan untuk mengekspos ketertinggalan Indonesia dan menyombongkan kemajuan negara asing.

Kami pulang untuk bekerja dan mengembangkan potensi negeri yang belum banyak terolah. Kami kembali untuk meniti jalan penuh harapan bersama dengan kawan sebangsa.

Kami kembali untuk berbakti pada ibu pertiwi, dan menjadi bagian dari lini anak negeri untuk maju bersama. Kami pulang karena kami masih berharap banyak pada bangsa ini.

Baca Juga: Untuk Indonesia yang Lebih Baik : Bakti Bagi Keluarga dan Negeri. Inspirasi dari Kartini


2. Indonesia Ditinggalkan

Selama tinggal di sana, kami tergabung dalam sebuah komunitas yang anggotanya adalah perantau dari tanah air. Ada sebuah fakta menyedihkan yang kami temukan di sana: Hanya sedikit jumlah anak-anak usia sekolah yang mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia yang baik. Kebanyakan dari anak-anak itu memang dibawa orangtuanya merantau ketika usia mereka masih sangat muda atau dilahirkan di sana. Bertumbuh di negeri asing akhirnya membuat para orangtua tak lagi menuntut anak-anaknya berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.

[image: huongminh.edu.vn]

Seorang rekan yang saya kagumi pernah mengatakan, "Bahasa adalah identitas." Jika tak mampu berbahasa Indonesia, mampukah dengan bangga kita berkata, "Saya orang Indonesia?"

Bahasa Indonesia mulai ditinggalkan karena tidak mendunia. Bahasa Indonesia kurang keren. Orang berlomba-lomba belajar bahasa asing. Memang tak masalah untuk belajar bahasa baru, tetapi haruskah meninggalkan bahasa ibu?

Tahukah Anda bahwa Bahasa Indonesia sering dipuji sebagai bahasa yang indah? Paling tidak itulah umpan balik yang kami terima dari orang-orang di sana yang mendengar kami bercakap-cakap dalam bahasa ibu. Suami saya pernah diminta secara khusus membawakan nyanyian sastra Indonesia dalam resital tunggalnya. Lagu karya komponis asal Indonesia, Ananda Sukarlan, yang ia bawakan menjadi buah bibir di kampus selama beberapa waktu.

Baca Juga: Mengapa Generasi Muda Tak Bangga akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, inilah Hasil Pengamatan Saya

Indonesia memiliki banyak harta karun keindahan yang disanjung dunia, tetapi ditinggalkan putra-putrinya. Keindahan inilah yang menarik kami dengan kuat untuk kembali pulang.

Kami tak ingin keindahan ini punah.

Kami cinta Indonesia.


Keputusan tersebut merupakan salah satu keputusan terbaik yang kami ambil. Bagaimanapun, Indonesia selalu menjadi rumah kami. "Biar pun saya pergi jauh, tak 'kan hilang dari kalbu." Bodoh? Naif? Tidak, kami hanya terlalu cinta dan tidak mungkin tidak pulang ke tanah air.


Baca juga tulisan-tulisan inspiratif yang akan membuatmu semakin mencintai Indonesia ini:

Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri

Selama Studi di Swedia, Inilah 4 Hal Sederhana yang Membuat Saya Makin Mencintai Indonesia

Saya Cina. Walau Tak Selalu Mudah, Saya Memilih Tetap Mencintai Indonesia. Ini Kisah Saya

Mengapa Generasi Muda Tak Bangga akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, inilah Hasil Pengamatan Saya

Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bodoh dan Naif, Begitu Komentar Orang Terdekat, Ketika Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia Setelah Bertahun-tahun Tinggal di Luar Negeri. Ini Kisah Kami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar