Bisakah Hari yang Buruk menjadi Lebih Buruk?

Reflections & Inspirations

[Image: reinventure.me]

2K
Ya, begitulah kehidupan. Kadangkala hidup menyapa kita dengan kejutan yang tak menyenangkan.

Bisa! Tentu saja bisa! Saya baru saja mengalaminya beberapa hari yang lalu.

Sebagai orang yang terbiasa menata dan mengatur jadwal dengan seksama, kejutan bukanlah hal yang saya harapkan. Apalagi kejutan yang membawa kabar buruk. Tapi, ya begitulah kehidupan. Kadangkala hidup menyapa kita dengan kejutan yang tak menyenangkan.

Pagi itu saya bergegas menuju ke Bandara. Saya terlebih dahulu harus mengambil hasil fotokopi di kios langganan. Sehari sebelumnya saya telah meninggalkan bahan untuk digandakan untuk 200 peserta pelatihan.

TERNYATA KIOS FOTOCOPY ITU MASIH TUTUP!

Tak biasanya kios itu masih tutup di jam seperti itu. Entah mengapa hari itu, kios itu tutup. Ya, tak ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Dari gembok masih terkunci dan menempel di depan jelaslah bahwa pemiliknya belum datang. Padahal, saya membutuhkan bahan pelatihan itu karena saya harus terbang ke Kupang.

Ah, tak mengapalah. Nanti toh saya bisa fotocopy di Kupang. Masih ada cukup waktu.

Saya pun melanjutkan perjalanan ke bandara. Tak seperti biasanya, saya membawa 200 eks buku "Tak Pernah Tergeletak" untuk dibagikan pada peserta pelatihan. Tentu saja berat, dan pasti akan kelebihan bagasi. Tak masalah dengan biaya, tetapi sangat repot untuk membawa dus sebesar dan seberat itu, sementara saya menyetir sendiri mobil ke bandara. Jarak antara tempat parkir menginap dan lokasi check in lumayan. Lumayan membuat tangan pegel dan keringat mengucur.

Tibalah saya di meja check in. Saya menaruh barang di tempat penimbangan. Menyerahkan tiket dan ID saya.

“Bapak, nomor penerbangan ini tidak ada. Dipindah besok pagi,” kata petugas check in.

HAH! APA? BAGAIMANA MUNGKIN? SAYA TIDAK MENDAPAT PEMBERITAHUAN APAPUN!

“Silakan bapak ke kantor untuk mengurus tiket dan hal yang lain-lain,” jawab petugas itu.

Saya melangkahkan kaki dengan malas ke kantor maskapai itu. Ternyata bukan saya sendiri yang mengalami pembatalan penerbangan. Pilihannya: pindah penerbangan esok hari, atau mencari maskapai lain. Saya bersikeras untuk terbang hari itu juga. Ada agenda yang tak mungkin saya batalkan di malam dan esok harinya.

Ternyata mayoritas penumpang sudah mendapatkan pemberitahuan tentang pembatalan penerbangan itu. Karena informasi pembatalan datang larut malam sebelumnya, maka ada belasan penumpang yang tak mendapatkan informasi. Saya salah satu di antaranya. Beberapa penumpang marah dan kecewa, serta terpaksa menerima perubahan mendadak itu. Sementara beberapa orang tetap bertahan di kantor maskapai itu.

“Silakan Bapak menunggu,” begitu jawab petugas di kantor maskapai.

Menunggu apa? Tak Jelas, bukan? Bukankah pesawat dengan nomor penerbangan itu tak terbang hari itu?

Dalam ketidakpastian, saya berjuang mencari tiket lewat maskapai lain. Tidak ada! Semua penerbangan penuh! Hanya tersedia penerbangan di malam hari, dan itu konsekuensinya jadwalnya berubah. Tak ada pilihan lain. Tentu saja, harga tiket pun melambung 2 kali lipat untuk penerbangan malam itu.

Saya lelah, bingung, dan tak tahu harus berbuat apa.

Saya duduk menunggu dan berjumpa dengan beberapa orang yang senasib dengan saya. Beberapa kali kami keluar masuk kantor maskapai dan hanya mendapatkan jawaban yang sama, ”Tunggu ya, Pak!”

Tunggu apa? Tak jelas!

“Rasanya tidak mungkin kita terbang pada jam ini. Tidak mungkin hanya untuk beberapa orang, pesawat tambahan akan dikirim dan membawa kita,” keluh penumpang lain di samping saya.

“Lebih baik, pihak maskapai tegas saja. Tidak ada, dan kita bisa atur jadwal selanjutnya,” tegas penumpang lain.

Kami menunggu. Menit demi menit terasa lama. Satu jam tersandera dan tak berdaya.

Seorang petugas mendekati tempat kami duduk. Ia berbisik, ”Bapak bisa terbang. Masih ada 7 seats. Siap-siap check ini di counter 5.”

Ada banyak pertanyaan di benak. Tapi, petugas itu meminta kami segera ke counter 5. Kami pun segera melangkah ke counter 5. Dan, ternyata kami bisa terbang. Dengan maskapai yang sama, namun nomor penerbangan berbeda. Bagaimana bisa seperti ini, saya tak tahu! Baru pertama kali juga saya terbang dengan boarding pass hasil tulisan tangan, bukan cetak seperti biasa.

Penerbangan berjalan lancar. Cukup sudah kejutan tak menyenangkan . Saya harap tak ada lagi.

Begitu mendarat, saya segera menyalakan handphone agar dapat berkomunikasi dengan pihak penjemput terkait dengan beberapa perubahan jadwal yang ada.

TAK ADA SINYAL DI HANDPHONE!

Ya, berulangkali saya restart handphone, tak juga muncul sinyal. Saya berjalan ke luar bandara dan menemukan semua orang tenyata punya masalah yang sama. Petugas di sebuah counter penjual nomor perdana mengatakan,” Hari ini, sinyal provider X hancur lebur.”

Maka terkatung-katunglah saya di bandara. Menanti dalam ketidakpastian. Koneksi data tak bisa, suara tak nyambung, SMS pun gagal kirim.

LENGKAP SUDAH!


Setelah mondar-mandir ke sana ke mari, akhirnya saya putuskan duduk di troli dan menanti. Tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan dan ke mana saya harus melangkah pergi.

“Permisi Bapa,” tiba-tiba saya mendengar suara itu.

Dua anak usia sekolah dasar melintas. Pakaian mereka nampak kotor. Mereka berdua membawa plastik besar. Ada botol-botol plastik bekas di dalamnya. Ya, mereka adalah anak-anak yang memulung plastik bekas di bandara Kupang.

“Adik, sini. Adik tak masuk sekolah?” tanya saya

“Masuk Bapa, ini tadi pulang sekolah,” jawab mereka.

Kami pun berbincang akrab. Beberapa kali perjalanan mission trip ke NTT membuat saya memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak ini.

Setiap pulang sekolah, mereka akan berjalan kaki sekitar 2 kilometer ke bandara. Mengumpulkan botol botol plastik yang hanya laku seribu rupiah perkilo. Berapa lama yang mereka butuhkan untuk mendapatkan satu kilo? Seminggu! Ya, seminggu. Seminggu untuk mendapatkan seribu rupiah. Kehilangan waktu bermain dan bersama-sama dengan keluarga.

Saya terdiam dan merenung. Usia mereka tak jauh beda dengan Alden, anak sulung saya. Namun, mereka tak sempat bermain dan berada di rumah yang aman dan nyaman. Mereka harus bekerja membantu orangtua. Salah satu anak mengatakan bahwa ayahnya adalah tukang kayu dan ibu adalah pemulung.

Namun, saya melihat keceriaan di wajah mereka. Berulang kali mereka berdua bercanda lepas dalam bahasa daerah yang tak saya pahami. Mereka bersemangat lari ketika ada orang yang membuang botol minuman plastik di tempat sampah.

Beban hidup sepertinya tak mereka rasakan.

“Kapan belajarnya kalau ke sini terus?” tanya saya

“Nanti, selepas dari sini, kami pulang, mandi dan belajar, lalu tidur,” jawabnya.

Saya suka melihat semangat mereka. Di dalam kesulitan dan beban hidup, mereka menghadapinya dengan cara khas anak-anak: bermain dengan ceria di tengah upaya mengumpulkan botol bekas.

Anak-anak ini pun jujur dan mau membantu. Berulangkali saya harus menitipkan tas dan troli saya ke mereka, karena harus ke toilet atau mencari penjemput saya ketika sinyal handphone belum kembali. Mereka menunggu tas dan trolli saya dengan baik. Dari jauh saya mengamati, mereka tak lagi bermain. Duduk diam di dekat troli saya. Tak bergerak walau ada orang yang membuang botol plastik di tempat sampah.

Ah, itu penjemput saya datang!


Wepe, Hans, Peter dan dua anak pemulung di Bandara Kupang

Saya berterima kasih pada anak-anak itu. Saya ulurkan sejumlah uang sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah menjaga troli dan tas saya. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Hidup, memang tak selalu seperti yang kita harapkan. Kita bisa mengatur beberapa hal, namun selalu akan ada kejutan tak menyenangkan. Ketika kejutan tak menyenangkan datang, kita merasa kehilangan semua kendali.

Padahal, ada satu kendali yang tak mungkin diambil orang lain dari hidup kita. Bukan kendali atas situasi, namun kendali atas pilihan sikap kita.

“Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms - to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way.”

― Viktor E. Frankl, Man's Search for Meaning


Baca Juga:

Jangan Biarkan Orang Lain Menjadi Remote Control Hidupmu!

Bukan Semata tentang Tujuan, Hidup, Sesungguhnya, adalah Sebuah Perjalanan

No Cheat Codes in Life, Jadilah Bijak!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bisakah Hari yang Buruk menjadi Lebih Buruk?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar