Bisakah Anak-anak Lepas dari Gadget? Bisa! Setahun Anak-anak Kami Hidup Tanpa Gadget. Ini Kisahnya.

Parenting

photo credit : Camp Arohown

13.3K
Jangan-jangan, bukannya anak-anak yang tak dapat hidup tanpa gadget, tetapi orangtuanya. Orangtua yang tak bisa menikmati hidup jika anak-anak tak sibuk dengan gadgetnya.

Saya adalah penggembar gadget (gawai) dan teknologi. Berganti-ganti HP atau tablet terbaru adalah hal yang menyenangkan bagi saya, apalagi jika ada uang di kantong. Salah satu akibatnya adalah istri dan anak-anak yang tentu saja mengikuti kegemaran suami dan ayah mereka. Anak-anak kami sejak kecil sudah akrab dengan iPad atau Tab. Mereka berdua bahkan punya preferensi tersendiri.

Ketika di rumah ada iPad atau Tab, mereka memilih berebut bermain iPad. Ketika iPad tersedia dalam dua ukuran, yang standar dan mini, anak-anak berebut memainkan yang mini. Pernah ada suatu saat di mana kami mempunyai gadget yang hampir dua kali jumlah orang yang ada di rumah. Daripada ribut, lebih baik saya membelikan satu per satu, bukan?

Ada suatu saat di mana saya bangga dengan kecakapan anak-anak menggunakan iPad atau Tab.

Ada saat juga di mana mereka, yang waktu itu masih di bawah 6 tahun, bisa melakukan pembelian game via iPad karena mengingat password yang dituliskan. Ya, ada saat di mana kami bangga karena anak-anak kami sangat melek teknologi dan update dengan perkembangan yang ada. Saya bangga pada anak-anak karena hal itu.

Tapi itu dulu. Ya, dulu. Sejak kurang lebih setahun lalu, kami tak lagi mengijinkan anak-anak untuk memegang gadget lagi.

Ya, Anda tidak salah baca. Kami tak lagi mengijinkan anak-anak kami bermain HP atau tablet. Sama sekali! Ini sudah berlangsung kurang lebih satu tahun, dan kabar gembiranya adalah anak-anak kami masih hidup. Masih lucu, walau kadang mengesalkan. Makin lama mereka makin tak bertanya lagi mengapa mereka tak boleh memegang gadget, sementara banyak teman-teman mereka yang menggunakannya.


Mengapa kami tak mengizinkan anak-anak menggunakan gadget?

Begitu menyadari anak-anak sulit dilepaskan dari gadgetnya, kami membatasi pemakaian gadget oleh anak-anak. Dua jam per minggu, hanya untuk Sabtu dan Minggu. Namun, ada dua hal yang mendorong kami untuk sama sekali melepaskan anak-anak dari jerat gadget.

Pertama, anak kedua kami mengalami keterlambatan bicara. Kami berjuang untuk mencari tempat terapi. Kami berjuang untuk mencari penyebabnya. Kami berupaya keras agar anak kami yang waktu itu sudah hampir 4 tahun, tetapi baru bisa mengucapkan 5 kata, untuk mengejar ketertinggalannya. Kami mulai menyingkirkan televisi dan tentu juga gadget agar anak lebih sering berinteraksi dengan manusia daripada alat. Anak kami yang besar tentu saja protes.

Anak berhak protes, bukan? Ya, tapi keputusan ada di tangan orangtua.

Terapi yang kami lakukan efektif. Dokter menyatakan anak kami lolos dari lubang jarum. Ia bisa mengejar ketertinggalannya. Salah satu penyebab keberhasilan terapi ini adalah lenyapnya gadget itu dari anak-anak kami.

Kedua, istri saya, Vanda, mengusulkan agar anak-anak sama sekali tak diizinkan sama sekali menggunakan gadget dengan pelbagai pertimbangan. Usulan ini datang lebih dari setahun yang lalu. Saya ragu dan bertanya-tanya,” Apa bisa?” Anak yang besar, waktu itu sekitar 9 tahun, protes karena pencapaian game nya di iPad bisa ‘hancur’ karena diserbu musuh. Anak boleh protes, tapi sekali lagi orangtualah yang mengambil keputusan. Keputusan sudah diambil. Anak-anak harus menerimanya, dan sesungguhnya bukan hanya anak-anak yang terkena dampak dari keputusan ini.

Keputusan untuk memisahkan gadget dari anak-anak ternyata berdampak juga pada orangtua.


Lalu, anak-anak main apa?

photo credit : pexels

“Kalau tidak boleh main Tab atau iPad, terus main apa?”

Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Bukan karena tidak ada mainan di rumah, tetapi anak-anak itu tidak terlalu berminat lagi memainkan permainan yang lain. Daya tarik iPad atau Tab memang luar biasa. Jangankan anak-anak, orangtua pun tak dapat lepas darinya, bukan?

Apa yang kemudian anak-anak kami mainkan?

Lego, robot-robotan, ular tangga, catur, melukis, berlarian di rumah, petak umpet dan aneka permainan zaman dulu. Apa konseuensinya bagi kami sebagai orangtua? Ada! Banyak! Kami harus menemani anak-anak bermain. Kami kehilangan waktu me time.

Dulu ketika anak-anak itu menggunakan gadget, mereka tak ”menggangu” kami. Mereka asyik bermain sendiri, demikian juga dengan kami. Saya rasa dalam konteks inilah orangtua seringkali memberikan ”gadget” bagi anak-anak sebagai ”obat bius”. Gadget diberikan agar anak-anak ”tenang” dan ”tidak mengganggu” orangtua. Orangtua butuh istirahat dan ketenangan di rumah, bukan?

Baca Juga : Orangtua, Ajarlah Anak-anak Bermain secara Kreatif dan Imajinatif. Inilah Caranya!


Bagaimana jika anak-anak berpergian?

Ini salah satu kekuatiran kami. Anak-anak akan bosan menunggu penerbangan atau dalam perjalanan. Realitanya? Anak-anak ternyata punya kreativitas luar biasa. Apapun yang mereka lihat bisa menjadi mainan. Anak kami yang sulung, saat ini hampir 11 tahun, gemar membawa buku catatan. Ia menggambar dan menulis tentang apapun, kadang ia membawa buku bacaan. Anak kami yang kecil, sekarang hampir 7 tahun, suka membawa boneka tertentu atau mobil-mobilan.

Bagi saya, ada baiknya anak-anak itu dibiarkan mengalami kebosanan.

Anak-anak harus terbiasa dengan menunggu dan mungkin mengalami kebosanan. Agar dalam kebosanan itu, kreativitas muncul dan berkembang. Mengalami kebosanan juga adalah latihan yang baik untuk kesabaran. Bukankah seringkali orangtua mengeluhkan anak-anak yang tak sabar?


Bagaimana berkomunikasi dengan anak tanpa gadget?

Nah, ini pertanyaan yang sangat baik. Beberapa sekolah melarang anak-anaknya membawa gadget bukan? Ada yang menyediakan penitipan, ada yang melarang digunakan selama jam sekolah. Gadget ini menolong komunikasi orangtua dan anak, misalnya dalam rangka penjemputan. Kalau tidak pakai gadget, terus bagaimana orangtua berkomunikasi dengan anak?

Kami memutuskan untuk membelikan anak kami yang terbesar sebuah jam tangan yang dapat digunakan untuk menelpon 5 nomor saja. Nomor di jam tangan anak kami itu tak dapat dihubungi oleh selain 5 nomor yang terdaftar. Jam itu juga bisa menerima pesan SMS yang saya kirimkan. Lewat GPS yang terpasang, saya bisa memantau posisi anak.

Praktis bukan? Iya, namun harganya itu lho. Setelah membeli jam tangan ini, saya dan anak yang terbesar, melewati sebuah gerai HP yang menawarkan promo. Anak saya spontan berkata,” Itu lebih murah dari jam ini, Pa. Bisa dipakai juga main game?” Saya hanya tersenyum pahit.

Sekal lagi, kalau hanya pertimbangan soal harga, kami pasti memilih untuk membelikan HP Android yang harganya cuma setengah dari harga jam tangan anak itu.

Tapi, ini bukan sekadar soal harga bukan? Ini soal anak dan masa depannya.


Apakah anak-anak kami ketinggalan zaman?

photo credit : pexels
Ya, kami rela anak-anak kami ketinggalan zaman, apabila dalam arti tidak cakap memainkan atau menggunakan gadget.

Ketrampilan bermain gadget, menurut kami, bukan hal yang sulit dipelajari di kemudian hari.

Tidak, kami tidak ingin anak kami ketinggalan zaman dalam arti ketinggalan informasi. Anak-anak itu bisa membaca buku untuk mengikuti perkembangan yang ada. Justru setelah gadget itu tersingkirkan, maka membaca buku adalah pilihan anak kami yang terbesar.

Beberapa bulan yang lalu, saya membelikan sebuah desktop dengan layar berukuran lebar. Gunanya? Memberikan kesempatan anak-anak bermain di komputer atau menonton tayangan tertentu di Youtube. Berapa lama? Satu-dua jam dalam seminggu. Ya, hanya itu.

Apa bedanya dengan gadget? Oh, banyak sekali. Layar lebar itu memudahkan pengawasan terkait aktivitas anak di depan komputer. Layar lebar itu juga tak mungkin dibawa ke mana-mana. Tak seperti gadget yang terus ada di tangan.


Apakah gadget depenuhnya memberikan pengaruh negatif?

Tentu saja tidak! Hanya kami merasa dalam masa kanak-kanak, anak-anak tidak punya cukup kemampuan untuk mengendalikan diri. Demikian juga dengan orangtua sebenarnya, bukan? Tak heran bisa anak-anak mengalami kecanduan gadget. Gejala-gejalanya jelas sekali : tak bisa lepas dari gadget, bete jika dilarang menggunakan gadget, tak lagi dapat berkonsetrasi di kelas. Belum lagi efek-efek lain, seperti terpapar pada pornografi dan ancaman manipulasi oleh bisa lain lewat media sosial.

Beberapa tahun terakhir, saya berkeliling untuk menyampaikan seminar tentang pengaruh media sosial bagi kehidupan, khususnya remaja dan anak-anak. Saya sudah mendengar kisah anak-anak yang menjadi korban manipulasi lewat media sosial. Saya sudah membaca transkrip komunikasi anak-anak itu dengan orang dewasa yang memanipulasi mereka. Saya juga sudah berbicara dengan anak-anak berusia 9-10 tahun yang bahkan bukan hanya terpapar pornografi tanpa sengaja, namun bisa melakukan pencarian dengan kata kunci yang sangat spesifik.

Di mana orangtua, ketika anak-anak itu terpapar pornografi di usia dini lewat gadget? Masih di rumah yang sama dengan anak-anak itu, bukan?

Di mana orangtua ketika anak-anak di bawah umur 13 tahu sudah memunyai akun di facebook atau instagram? Bukanlah seharusnya mereka belum dapat memunyai akun itu sesuai dengan ketentuan facebook dan instagram?

Baca Juga : Predator Seksual ada Sekitar Kita. Kisah-Kisah Nyata Pelecehan Seks pada Anak Ini Buktinya

Mengapa kami memisahkan anak-anak dari gadget? Kami mengakui ketidakmampuan kami untuk mendampingi anak-anak ketika menggunakan gadget. Kami tidak mau mengambil resiko anak-anak menjadi ’korban” dari ketidakmampuan orangtuanya mengawasi mereka.


Sampai berapa lama kami tak mengizinkan anak-anak menggunakan gadget?

photo credit : pexels

Kami belum tahu. Namun, jika mengacu pada pedoman yang diberikan para pakar pendidikan anak, pakar kesehatan, dan pakar psikologi, nampaknya masih akan lebih lama kami belum bisa mengizinkan anak-anak menggunakan gadget. Kalau mengingat keterbatasan kami dalam mengawasi, rasanya kami masih belum bisa mengizinkan anak-anak itu bermain gadget dalam waktu dekat.

Sudah kurang lebih setahun anak-anak kami hidup tanpa gadget. Mereka bisa hidup dan tetap bergembira! Anda berani mencoba?


Tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi perkembangan zaman ini :

Anak Tidak Bisa Dipisahkan dari Gadgetnya? Orang Tua, Segera Lakukan 5 Hal Penting Ini!

Kecanduan Gadget? Inilah Jurus-jurus Ampuh yang akan Membebaskanmu

Awas! Inilah 7 Tanda Anda Bermedsos Ria dengan Tidak Sehat


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bisakah Anak-anak Lepas dari Gadget? Bisa! Setahun Anak-anak Kami Hidup Tanpa Gadget. Ini Kisahnya.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar