Biarkan Orang Berkata Apa, Kurangi Ribuan Pertempuran Tak Perlu, Jadilah Bahagia! Ini Teknik Cerdasnya

Reflections & Inspirations

[Image: Pixabay]

7.8K
Kita tidak bisa melarang orang berkomentar tetapi bisa mengendalikan diri, mengambil yang bermanfaat dan membuang yang tidak berguna, tanpa sakit hati.

“Hai ... Duh kangennya, lama sekali kita gak ketemu. Hampir setahun rasanya …” celoteh Dini riang sambil mencium pipi kiri dan kanan saya.

“Kamu tambah gemuk ya?" lanjutnya.

M A K J L E B !

Sirna sudah rasa senang di hati, berganti perasaan sebal. Bayangkan, sudah dibela-belain gak makan karbohidrat masih juga dikomentari gemuk!

'Gemuk' dapat disebut sebagai Hot Button - titik panas - yang membuat saya menjadi sensitif, tersinggung dan marah. Tidak semua orang tersinggung disebut gemuk, trainer di kelas EQM bercerita, hot button-nya justru saat dikomentari ‘tambah kurus’. Dia lahir prematur, makan sebanyak apa pun, tetap kurus. Ini sekadar contoh, hal-hal sepele yang kerap membuat kita tidak bahagia.

Setiap orang memiliki hot button namun banyak yang tidak memperhatikannya. Yang jelas, seketika membuat hari buruk ketika disentuh.

Kita tidak bisa melarang orang berkomentar tetapi bisa mengendalikan diri, mengambil yang bermanfaat dan membuang yang tidak berguna, tanpa sakit hati.

Inilah kiat-kiat cerdasnya:


1. Kenali Hot Button

Saya memiliki beberapa hot button. Disamping kata 'gemuk', salah satu yang paling menyebalkan ketika suami menyebut saya 'grusa-grusu' dalam Bahasa Jawa yang artinya terburu-buru sehingga kurang pertimbangan. Daftar hot button saya list untuk evaluasi.

Baca Juga: Ketika Kata-Kata Melukai Hati, Selamatkan Relasi dengan Melakukan 5 Hal Ini!



2. Pisahkan Fakta dan Opini

[Image: Odyssey Online]
Mulai renungkan dan evaluasi: mana yang fakta sehingga perlu diperbaiki dan mana yang hanya opini.

"Lebih cepat, lebih baik" adalah motto saya. Jangan menunda. Yang bisa dikerjakan sekarang, selesaikan. Sementara suami lebih suka menyelesaikan ketika batas waktu hampir habis. Kami berbeda karakter dan kebiasaan. Berarti 'grusa-grusu' opini, bukan fakta, maka saya tidak perlu mengubah apa pun soal ini.

Sementara untuk komentar 'gemuk', cek ulang. Betulkah berat badan naik? Perlukah diturunkan?



3. Katakan dengan Jujur

Memendam perasaan sungguh menyakitkan. Mendiamkan lalu berharap orang lain mengerti sendiri, lebih mustahil.

Mereka bukan peramal. Jadi cara tercepat dan efektif adalah menyampaikannya dengan jujur! Meski kadang-kadang masih lupa, lumayanlah, sudah berkurang frekuensinya. Seringkali mereka tidak bermaksud menuduh, hanya kebiasaan, terlontar begitu saja dengan ringannya.

[Image: Quotesgram]

Seorang teman bernama Lisa bercerita, tubuhnya memang tinggi dan besar. Dia sadar dan bisa menerimanya. “Kalau foto berdiri di sebelah Lisa, pasti kelihatan kurus”, demikian biasa teman-teman menggoda. Lisa tidak masalah. Tapi kalau sudah tanya berapa size bajunya, itu super menyinggung perasaannya.

Orang lain tidak akan tahu batas mana yang membuatnya tersinggung, hingga dia memberitahu. Hubungan dengan teman-temannya jauh lebih menyenangkan setelah dia memberikan batas-batas [boundaries]-nya. Lisa berhasil mengurangi ribuan pertempuran yang tidak perlu.



4. Banyak Orang Asal Komentar

Hari itu saya bertemu dengan dua teman lama, dalam dua acara yang berbeda. Yang satu berkomentar saya tambah gemuk, sementara yang lain bilang tambah kurus. Mana yang betul?

Tidak penting! Karena kebanyakan orang Indonesia cuma basa basi, tapi tidak sadar itu seringkali membuat orang lain tidak nyaman. Sehabis komentar, mereka juga lupa.

Jadi cara terbaik adalah kita ambil keputusan sendiri.
[Image: The Journey Junkie]
Bergunakah komentar itu? Kalau ya, jadikan input. Kalau tidak, 'Emang Gue Pikirin' adalah cara tercerdas meresponinya.

Baca Juga: Stop Bertanya "Kapan Kamu Menikah?" Biarkan Para Jomblo Merdeka dan Menikmati Kejombloan Mereka



5. Kunci Utama: Don’t Take it Personally

Di RibutRukun.com begitu banyak penulis-penulis bagus. Saya belajar untuk mendengarkan apa komentar mereka tentang tulisan saya. Ini salah satu cara untuk maju. Mereka jelas tidak mencoba untuk menyinggung perasaan saya, namun memberi perspektif baru, sehingga saya mendapatkan ide-ide baru, melihat dengan cara yang lebih baik untuk menjelaskan sesuatu, menyimpulkan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Saya bukan manusia serba-tahu. Terbuka untuk memperbaiki diri dan mengagumi karya orang lain membuat saya makin dewasa dan berkualitas.

Ketakutan akan kritikan menjadi sirna. Menyadari selangkah makin maju membuat saya nyaman dan bangga dengan diri sendiri.

[Image: pexels.com]

Ternyata sebagian besar ketakutan, hanya ada di kepala saya.



6. Bedakan Need dan Want

I need an acceptance berbeda jauh dengan I want an acceptance.

'Need' artinya kita tidak bisa hidup tanpanya, sementara 'want' hanya menginginkan tetapi jika tidak memperolehnya, tetap baik-baik saja. Sesuatu yang wajar jika kita senang saat dipuji atau diterima,

tetapi jangan sampai kita tidak bisa hidup tanpa pujian dan penerimaan orang lain.

Kenali diri dan potensi kita, terima diri sendiri apa adanya. Pastikan kita punya visi dan misi yang jelas dalam hidup sehingga tidak terombang-ambing oleh pendapat orang lain.

Baca Juga: Bersetia Pada Panggilan di Tengah Tekanan Penghakiman. Ini tentang Saya, Seorang Sarjana Hubungan Internasional yang Memilih untuk Menjadi Guru


Seorang bijak mengatakan,

“You don’t have control over what others think about you, but you do have control over how you decide to internalize their opinions. Leave them to their own judgements. Let people love you for who you are, and not for who they want you to be”.

Anda tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang diri Anda, tetapi Anda memiliki kendali penuh tentang bagaimana Anda memutuskan untuk memaknai pendapat mereka. Mereka boleh berpikir apa saja tentang Anda. Biarkan mereka mengasihi Anda sebagaimana adanya Anda, bukannya sebagaimana harapan mereka tentang Anda.


Dengan mempraktikkan tips di atas secara konsisten, kita akan bertumbuh menjadi pribadi anti tersinggung dan hidup dengan lebih bahagia. Tidak percaya? Silakan membuktikannya!



Baca Juga:

Bisakah Hari yang Buruk Menjadi Lebih Buruk?

Jangan Biarkan Orang Lain Menjadi Remote Control Hidupmu!

Apakah Menjadi Orang yang Baper itu Salah?

Mudah Menangis? Cepat Tersinggung? Suka Menyalahkan Orang Lain? Inilah Cara-Cara Efektif Mengatasinya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Biarkan Orang Berkata Apa, Kurangi Ribuan Pertempuran Tak Perlu, Jadilah Bahagia! Ini Teknik Cerdasnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar