Bersahabat dengan Lawan Jenis Tanpa Baper, Mungkin Gak Sih? Setelah 25 Tahun Menjalani, Kesimpulan Saya Begini

Love & Friendship

[Photo credit: Matheus Ferrero]

2.1K
Benarkah pria dan wanita dapat menjadi sahabat, murni tanpa embel-embel ketertarikan dan romansa?

Umumnya, 'takaran kekentalan' sebuah persahabatan dilihat dari seberapa sering sepasang kawan baik bertukar kabar bahkan bertemu secara fisik. Bisa juga dilihat dari seberapa sering mereka menghabiskan waktu bersama. Makan bareng, hang out, sampai terlibat dalam sebuah kelompok tertentu menjadi pemandangan biasa dalam lingkaran persahabatan.

Jika persahabatan terjadi dalam satu gender, banyak pihak merasa lebih aman. Lain halnya jika jalinan keakraban itu bersifat lintas gender. Tentunya ada beberapa batasan dan banyak faktor yang perlu diperhatikan.

Alasannya klasik:
Karena persahabatan antara pria dan wanita sering dibumbui romantisme yang pelik.

Salah satu film populer How I Met Your Mother juga menyoroti hal ini. Bagi kalian yang pernah menonton serial ini, tentunya tidak akan lupa pada "prahara cinta" antara Robin, Ted, dan Barney. Robin pernah berpacaran dengan Ted, bahkan sempat 'SuMon' alias Susah Move On. Setelah putus, mereka balikan lagi. Kisah Robin dan Barney pun tidak kalah seru, karena dua sahabat ini sempat menjalin kasih dan merencanakan pernikahan.


Nah, persahabatan antar lawan jenis ini memang menimbulkan sebuah pertanyaan yang akan selalu asyik dibahas:

[Photo credit: The Cofey]

Mungkinkah bisa menjalin pertemanan murni tanpa ada rasa cinta?


Pertanyaan tersebut tidaklah menghantui saya.

Sejak duduk di bangku TK, saya dan saudara kembar telah menjalin pertemanan dengan seorang anak lelaki. Seiring dengan pertambahan usia kami, sang anak lelaki itu berubah menjadi sosok pria yang dewasa dalam iman dan pelayanan. Puji Tuhan, persahabatan kami tetap terpelihara selama 25 tahun lebih. Dengan kata lain, kami berhasil menjalani platonic relationship - di mana sebuah persahabatan dapat terjalin tanpa melibatkan romansa apalagi seks.

Baca Juga: Just Friends alias Sekadar Teman, Mungkinkah dalam Relasi antara Pria dan Wanita?

Bagaimana caranya agar dapat merawat persahabatan yang sehat dengan lawan jenis? Ini dia 3 hal yang kami terapkan:



1. Pikirkan bahwa Ia Jauh Lebih Berharga sebagai Teman daripada Pacar

Ketertarikan antara pria dan wanita adalah hal yang lumrah. Tidak dapat dipungkiri, rasa cinta dapat menyapa antara sahabat lawan jenis. Agar dampak negatifnya dapat dihindari, perlu sebuah pemikiran dewasa bahwa sahabat kita adalah teman yang sangat berharga.

[Photo credit: Craig Whitehead]

Karena ia berharga, maka kita akan berusaha merawat pertemanan tetap pada track yang benar, tanpa ada pemikiran apalagi keinginan untuk menjadikan sang teman sebagai pasangan romantis. Tekankan bahwa kita akan selalu ada di belakangnya, mendorong dan menguatkannya dalam masa kesukaran.



2. Buat Batasan yang Jelas

Ada satu perjanjian tidak tertulis yang saya dan sahabat pegang, yaitu dilarang makan hanya berdua saja. Alasan utamanya adalah karena sahabat adalah seorang anak pendeta senior. Ia harus menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat memancing opini publik. Saya pribadi tidak mempermasalahkan aturan ini karena dari dulu saya pun berkomitmen untuk tidak makan berdua dengan lawan jenis - selain dengan adik lelaki dan kekasih saya.

[Photo credit: Huffington Post]

Kesepakatan tersebut memang kami buat bersama, agar ketulusan dan kadar kemurnian dalam persahabatan dapat tetap terjaga. Tentu saja, bukan berarti sahabat lawan jenis tidak boleh makan berdua. Ini kembali pada batasan yang dibuat oleh masing-masing pihak. Pastikan kedua belah pihak merasa nyaman dan bersedia melaksanakan keputusan dengan rela hati.

Baca Juga: Jangan Ada Sianida di antara Kita: 3 Cara Sehat Mengelola Persahabatan



3. Selalu Berikan Pendapat dengan Jujur

"Kamu ini, ya, setiap kali ke gereja pasti selalu menghela napas dan bilang 'Aku capek'. Energimu nanti jadi negatif, lho!" kritik sahabat saya suatu hari.

Saya disadarkan, hobi mengeluh yang ada dalam diri harus dienyahkan. Sejak saat itu, saya benar-benar berpikir jika hendak mengeluh panjang lebar. Bukankah bersyukur akan melipatgandakan energi kebahagiaan dalam hidup kita?

Saya pun berusaha objektif dalam menilai perilaku sahabat.

[Photo credit: Sam Hurd Photography]
Ya, tiada orang yang sempurna. Selalu perlu ada pihak yang mengingatkan dengan penuh kasih.

Sahabat saya mengakui, meskipun ia tidak selalu menyukai opini pribadi yang saya lontarkan, ia selalu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan pendapat mereka yang diangganya penting, termasuk saya.

Baca Juga: Sahabat Sejati atau Sekadar Kawan? Inilah 10 Tanda yang Menjadi Pembedanya


Persahabatan dengan lawan jenis akan menggiring kita memiliki perspektif yang lebih netral. Dengan terus menerus melatih diri memiliki sudut pandang yang objektif, maka keputusan yang kita ambil pun akan jauh lebih matang dan berdasar. Ilmu berharga ini dapat diperoleh cuma-cuma dengan satu syarat mudah: menjalin persahabatan yang tulus.

Selamat menjalin relasi persahabatan yang sehat dengan lawan jenis!


Sahabat itu seperti bintang.

Tidak [selalu] bisa digapai, namun ia ada pada hari-hari tergelapmu.




Baca Juga:

5 Keuntungan Ini Membuktikan bahwa Sahabat adalah Calon Terbaik Pasangan Hidup. Setuju?

Berebut Pacar dengan Sahabat, Mana yang Harus Dipilih: Cinta atau Persahabatan?

Apakah Persahabatan Anda Membangun atau Menghancurkan? Periksalah 7 Hal Ini






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bersahabat dengan Lawan Jenis Tanpa Baper, Mungkin Gak Sih? Setelah 25 Tahun Menjalani, Kesimpulan Saya Begini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Jessica ValentinaAnanta | @jessicavalentinaanan

Seorang ibu dengan dua calon kepala keluarga masa depan. Selalu ingin menebar manfaat lewat tulisan dan karya-karyanya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar