Bernyanyi: Cara Saya Merengkuh dan Menata Pelbagai Emosi

Reflections & Inspirations

801
Memori masa lalu perlu tetap ada supaya kita dapat berkarya secara jujur dan bebas. Bagaimanapun bentuknya, memori tersebut memang merupakan sejarah hidup kita dan bagian dari diri kita sendiri.

Usia saya baru delapan tahun saat proses perceraian mama dan papa mencapai final. Ketika akhirnya mama memutuskan meninggalkan rumah, saya tak menahan kepergiannya. Saya bahkan tak berpesan supaya beliau ingat untuk mengunjungi saya dan adik. Di usia semuda itu, saya sudah menginternalisasi asumsi bahwa menungungkapan perasaan saya toh tidak mampu mengubah keadaan dan melunakkan keputusan orang lain.

Hingga saya lulus ke tingkat universitas, saya masih membawa-bawa kebiasaan menekan kepedihan tersebut. Kebiasaan ini yang membuat saya terlihat 'tegar' di hadapan keluarga besar selama bertahun-tahun. Kebiasaan ini pula yang memampukan intonasi saya terdengar 'normal' jika ada pembicaraan yang mengerucut ke perihal keluarga.


photo credit: Steadfast Light Photography

Tahun kedua kuliah, saya terpilih menjadi anggota vokal grup universitas. Di wadah ini, saya belajar bahwa seni menghubungkan kita dengan sesuatu yang lebih besar yang berada di luar kita, baik dengan Pencipta maupun dengan sesama manusia. Satu hal yang tak kalah penting, seni menghubungkan kita dengan bagian terdalam dari diri sendiri. Itu sebabnya ada ungkapan, "apa yang berasal dari hati akan sampai kepada hati."

Baca juga: Jangan Sekadar Menikmati, Cermati Lagu yang Kita Dengar! Waspadailah Lirik yang Merusak Moral

Tetapi, proses untuk menghasilkan karya sepenuh hati tidaklah seindah kedengarannya. Saya justru terpaksa berhadapan dengan kerapuhan diri yang sekian lama bersembunyi. Pada salah satu sesi latihan untuk fesival vokal grup, saya mendapatkan part solo yang mengisahkan seseorang yang takut kehilangan orang yang dikasihinya. Pada bagian tersebut, saya merasa kesulitan menyampaikan pesan lagu dengan tepat.

Pelatih vokal grup lantas mengajak saya bicara empat mata setelah melihat saya hampir putus asa mengulang-ulang latihan.

“Kamu pernah punya pengalaman kehilangan seseorang nggak?” tanyanya serius.

“Pernah, Kak,” jawab saya.

“Bagaimana rasanya?”

“Wah...,” Saya membeku beberapa detik. “Sedih banget. Nggak pengin ingat.”

“Nah, di situlah masalahnya. Modal utama seorang seniman adalah pengalamannya sendiri. Seni itu olah rasa, bukan olah teknik doang. Kalau kamu menekan perasaaan, kamu nggak bisa bernyanyi dengan lepas. Seperti sekarang, terdengar sekali jika kamu menyanyi dengan defense, mikir banget. Menghayati lagu berarti berpikir keras supaya bisa menunjukkan emosi yang tidak kamu miliki. Justru kamu harus lepaskan topeng, bebaskan pikiran, lalu tampil apa adanya. Recall ingatan terkuat kamu dan tunjukkan ke penonton dengan caramu sendiri."


photo credit: Daily Mirro

Saya merasa ditelanjangi mendapatkan intervensi sedetail itu. Seperti terciduk dalam benteng persembunyian yang bertahun-tahun saya bangun demikian tinggi. Pada akhirnya, latihan yang menguras fisik dan mental itu berbuah manis jua karena vokal grup kami meraih juara. Pelatih saya juga mengapresiasi upaya saya karena sudah mau menurunkan perisai pertahanan selama lomba.

Baca juga: Lagu adalah Guru Tanpa Sosok yang Turut Membentuk Karakter Anak. Orangtua, Inilah 5 Cara Mencegah Pengaruh Buruknya

Saya masih terus bernyanyi sampai sekarang. Selain karena memang mencintai bidang ini, saya menjadikan setiap kesempatan berdiri di atas panggung sebagai usaha berdamai dengan diri sendiri. Kadang kala, jika ingatan masa kecil berkunjung, saya masih tergoda untuk berpikir bahwa panggung bukanlah tempat yang tepat untuk mengungkapkan isi hati. Adalah lebih nyaman dan aman bagi saya untuk turun saja, membawa serta perasaan-perasaan tidak mengenakkan itu, lalu lari bersembunyi, tetapi, saya memilih untuk tetap berdiri.

Saya masih terus berproses untuk tidak melawan emosi-emosi tertentu dengan sikap bermusuhan. Saya belajar untuk menyambutnya dengan hati terbuka, merangkul seperlunya, lalu mempersilakannya duduk di deretan kursi penonton. Memori masa lalu perlu tetap ada supaya saya dapat bernyanyi secara jujur dan bebas. Bagaimanapun bentuknya, memori tersebut memang merupakan sejarah hidup saya dan bagian dari diri saya sendiri.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bernyanyi: Cara Saya Merengkuh dan Menata Pelbagai Emosi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ruth Lidya Panggabean | @ruthlidya

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar