Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata

Reflections & Inspirations

[Image: javaloka.com, travelovely.blogspot, apdnews.com]

3.3K
Seteran adalah salah satu nama daerah di Semarang, di mana saya pernah tinggal hampir 5 tahun lamanya.
[Image: fotografer.net]

Saya pikir bukan kebetulan kalau saya pernah menjadi salah satu pengurus RT - wakil ketua RT, tepatnya - pada waktu itu.



Indonesia: Rumah Kita Bersama

Dalam perjalanan menuju rumah, saya dan istri menemukan seorang nenek terduduk di gang tempat kami tinggal. Melihat kondisinya yang begitu memprihatinkan, saya segera menghentikan mobil. Kami berdua turun dari mobil dan langsung menghampiri nenek tersebut.

Saya menanyakan beberapa pertanyaan kepada nenek itu, mencoba mencari tahu siapa dirinya dan bagaimana keadaannya. Namun saya tak berhasil mendapatkan apa-apa. Bicaranya sudah melantur entah ke mana.

Nenek itu terluka. Ia tidak sanggup menopang dirinya sekadar untuk berdiri.
[Image: unsplash]
Ia bahkan terpaksa membuang 'kotoran'nya di situ. Di tempat itu juga.

Lekas saya panggil tetangga sekitar. Tak butuh waktu lama, dua orang ibu datang memberi pertolongan. Mereka adalah ibu pegawai rumah konveksi dan ibu sekretaris RT. Saya minta istri saya memanggil bapak ketua RT, sementara ibu sekretaris RT membuatkan teh hangat untuk nenek, dan ibu pegawai dari rumah konveksi terus mengajak nenek bicara, mencoba kembali menanyakan identitas nenek. Saya di situ, menemani mereka sembari membantu membersihkan kotoran nenek.

Sejurus kemudian, Pak RT tiba di lokasi. Nenek bukanlah warga RT kami. Kami juga cukup yakin, ia bukan warga RT atau RW daerah sekitar. Walaupun demikian, kami semua sepakat, nenek harus ditolong. Setelah berembuk, akhirnya seorang bapak becak langganan tetangga kami - oma pemilik kos, mengantarkan nenek ke dinas sosial dengan becaknya.

Kemungkinan besar nenek diturunkan di gang lalu ditinggalkan begitu saja, demikian kabar yang kami terima dari dinas sosial. Syukurlah kini nenek ada yang mengurus.

Satu masalah selesai sudah.



Indonesia: Berbeda namun Satu Jua

Sore itu semua warga kembali berkumpul.

Ada saya yang beragama Kristen dan melayani di gereja. Ada ibu pegawai konveksi yang entah apa agamanya. Ada ibu sekretaris RT yang berhijab. Ada Pak RT, seorang Muslim yang taat beribadah. Ada juga oma pemilik kos, beliau Kristen dan Tionghoa. Juga tante di pojok jalan dengan hidup sembahyangannya.

Kami saling berterima kasih. Untuk kehidupan bertetangga yang terjaga dan terpelihara dengan baik. Untuk kesediaan membantu satu sama lain tanpa melihat "label" yang melekat di masing-masing pribadi.

Untuk hampir 5 tahun hidup bersama dengan guyub,
rukun bertetangga walaupun banyak berbeda.
[Image: Huffington Post]

Dari sebuah gang kecil di Seteran untuk Indonesia yang besar.



Baca Juga:

Menjalin Persahabatan Beda Agama dan Suku, Inilah 5 Keuntungannya

Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!

Ahok-Anies Pasca Pilkada DKI: Habis Ribut, Ya, Rukun! Lewat Ribut dan Rukun, Belajar Berelasi



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Natanael DBJ Pratama | @natanaeldbjpratama

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar