Berbeda-beda, namun Satu Jua. Inilah 3 Cara Menjaga Persatuan Indonesia yang Dapat Kamu Lakukan!

Reflections & Inspirations

photo credit: teddymatondang

3.7K
Kita perlu maju demi masa depan bersama yang lebih baik. Hentikan konflik, hentikan peniadaan eksistensi orang lain dan kita bergandengan tangan sebagai rakyat Indonesia

“Kamu asalnya dari mana?”

Kira-kira itulah sepenggal kalimat pertanyaan yang sering kali membuat saya bingung untuk menjawab. Bukan karena saya tidak mengerti pertanyaannya atau tidak memiliki jawaban. Saya hanya sulit untuk menyimpulkan jawaban saya.

Saya terlahir di dalam keluarga berdarah campuran. Ayah saya berasal dari Flores berdarah campuran Sabu dan ibu saya dari etnis Tionghoa berdarah campuran Ambon. Saya lahir di Dilli, Timor Leste, namun bertumbuh besar di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: Bodoh dan Naif, Begitu Komentar Orang Terdekat, Ketika Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia Setelah Bertahun-tahun Tinggal di Luar Negeri. Ini Kisah Kami

Meskipun kulit saya berwarna sawo matang, namun saya sering disapa “koko” oleh adik-adik. Lebih aneh dua orang kakak saya yang mirip orang negro, tapi harus mendapat sapaan yang sama oleh saudara-saudaranya. Meskipun mata kami tidak sipit (kecuali ibu saya), namun keluarga besar kami selalu merayakan imlek setiap tahun baru Cina.

Bisakah Anda membayangkan kami memakai baju etnik Tionghoa berwarna merah sambil mengepal tangan dan berkata “Xin nien khuai Le, gong xi fat cai?” “Sungguh menggelikan!” kata beberapa orang.

Lantas, kalau keadaannya seperti ini, apakah saya harus bingung? Tidak tentunya.

Suatu kali saya menemukan jawaban yang tepat ketika seseorang bertanya, “Dari mana asalmu?” dengan bangga saya akan menjawab, “INDONESIA”.

Hanya dengan kata inilah saya dapat mendeskripsikan siapa diri saya. Di dalamnya, saya mendapat identitas yang tepat. Di dalam Indonesia, saya mendapat tempat untuk bertumbuh di dalam identitas diri yang sudah bercampur-baur (multikultural) ini.

Di dalam pergolakan isu perpecahan yang sekarang tengah terjadi dalam masyarakat Indonesia, orang-orang sering mempermasalahkan tentang kelompok mana yang benar dan yang salah. Kafir atau non-kafir? pro kapitalis atau anti-kapitalis? Marxis atau non-Marxis? Orang Kiri atau orang Kanan? Bukan! Menurut saya hal yang perlu dibahas adalah bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Melainkan bagaimana semestinya kita merajut kepusparagaman ini agar menjadi sebuah kesatuan kehidupan yang indah dan saling menguntungkan.

Jikalau pertanyaan ini diberikan kepada saya, maka inilah tiga cara saya merawat kebhinekaan ini demi persatuan Indonesia:


1. Tolak sikap eksklusif

photo credit: blog unnes

Memajukan kepentingan golongan sendiri dan meniadakan eksistensi kelompok lain tentunya adalah hal yang salah dari kemanusiaan kita. Kira-kira begitulah pesan Alm. Eka Darmaputera (Teolog-Sosiolog Indonesia) kepada orang-orang Kristen.

“Something which good only for Christians is un-Christian”

Masyarakat seharusnya bertumbuh di dalam sikap yang dewasa dan tidak egois terhadap kepentingan dirinya sendiri. Melainkan memikirkan kepentingan bersama rakyat secara umum.

Sikap kedewasaan ini telah kita peroleh dari ideologi bangsa ini, yakni PANCASILA. Pancasila ibarat rumah bagi setiap golongan untuk mendapat tempat di sana. Dan sebagai sesama anggota, kita perlu memperlakukan satu dengan yang lainnya dengan adil dan kasih. Dapatkah kita bayangkan apa yang akan terjadi jikalau di dalam keluarga ada anak yang lebih disayang ketimbang anak lainnya? Pastilah akan terjadi perpecahan di dalam keluarga.

Baca juga: Mengapa Generasi Muda Tak Bangga akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, inilah Hasil Pengamatan Saya

Pancasila juga ibarat taman yang indah. Tentu keindahan taman itu terjadi bukan oleh karena adanya satu jenis bunga saja. Melainkan, keindahan sebuah taman tercipta oleh karena adanya beragam jenis bunga yang memiliki coraknya masing-masing.

Menurut keyakinan saya, begitulah seharusnya kehidupan di dalam kepusparagaman itu harus terjalin. Perbedaan bukanlah untuk pemisahan, melainkan untuk memperkaya kehidupan ini. jikalau perbedaan adalah untuk pemisahan, maka untuk apa lagi kita mengusahakan kehidupan ini, karena pada dasarnya semua orang tidak sama.

Di dalam Pancasila tidak ada sikap diskriminatif. Ia tidak eksklusif. Ia tidak egois.

Pancasila mengajarkan kepada kita sikap saling menghormati, saling memberi “ruang” bagi orang lain dan saling mengasihi.


2. Bersikap untuk kemajuan kepentingan bersama

photo credit: Pojok Literasi Indonesia

Saya pernah mendapat kesempatan istimewa untuk berkunjung ke pedalaman Kalimantan Barat. Di sana saya harus menetap bersama suku Dayak selama satu setengah bulan. Saya diperintahkan untuk belajar tentang kehidupan orang-orang di sana dan bagaimana menjalin relasi dengan mereka.

Awalnya, saya merasa kebingungan dan juga ketakutan. Bagaimana jikalau kehadiran saya tidak diterima di sana. Saya bakal tidak disapa, saya bakal tidak dihargai, saya tidak diberi tempat dan tidak dipedulikan oleh mereka. Pastilah itu akan menjadi pengalaman yang menyedihkan selama satu setengah bulan. Namun, ternyata tidak demikian. Saya justru diberikan tempat tinggal yang nyaman, makanan yang cukup dan perhatian yang baik.

Di sana saya banyak belajar hal-hal baru yang tidak saya dapati pada masyarakat kota. Segala pekerjaan dilakukan secara gotong royong dan semua permasalahan juga diselesaikan secara kekeluargaan. Pintu rumah mereka tidak pernah dikunci karena takut kemalingan. Meja makan mereka selalu terbuka bagi siapapun yang mau menumpang makan. Ruang tamu mereka terbuka bagi siapapun yang ingin tidur siang. Mereka tidak mengenal sistem kasta. Semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Jikalau kita berpikir bahwa perbedaan sejarah hidup, latar belakang keluarga perbedaan darah dan bahasa adalah masalah yang membuat kita berbeda dan tidak dapat hidup bersama. Mungkin kita adalah seorang pengidap sakit psikis yang disebut Xenophobia. Suku Dayak mengajarkan saya tentang arti NKRI yang sesungguhnya. Menerima semua orang sebagai bagian dari keluarga tanpa membangun sekat-sekat negatif antara satu dengan yang lainnya.

Baca juga: Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!

Pengalaman ini membuat saya belajar tentang sikap pro-eksistensi kreatif. Sikap saling menyokong eksistensi diri setiap orang sambil memajukan kepentingan bersama. Cara seperti ini bukan berarti bebas dari masalah. Melainkan, setiap permasalahan dapat dituntaskan secara kreatif di dalam dialog bersama.


3. Memiliki sikap mengampuni

photo credit: linimasa

Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang sempurna. Bangsa ini sering tidak terlepas dari masalah-masalah yang memilukan hati. Bahkan, jikalau dilihat di dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, Bangsa ini penuh dengan pengalaman masa lalu yang pahit.

Namun, yang telah lalu biarkanlah berlalu. Waktu memang tidak dapat diputar kembali. Jikalau sejarah dapat diulang, siapakah yang tidak mau memperbaiki masa lalu yang kelam. Kenyataannya, tidak ada mesin waktu yang dapat membawa kita ke sana.

Kita perlu hidup untuk hari ini dan hari depan. Kepahitan di masa lalu perlu ditinggalkan dan segera move on! Kita perlu belajar menjadi para pengampun (forgivers) yang selalu berpikir positif dan memiliki semangat rekonsiliasi. Hanya dengan pengampunanlah bangsa ini dapat berkembang. Dendam terhadap kelompok, golongan, suku atau individu tertentu harus dihentikan.

Kita perlu maju demi masa depan bersama yang lebih baik. Hentikan konflik, hentikan peniadaan eksistensi orang lain dan kita bergandengan tangan sebagai rakyat Indonesia.


Baca juga tulisan-tulisan yang memberikan inspirasi untuk hidup bersama di Indonesia ini :

Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata

Mengapa Generasi Muda Tak Bangga akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, inilah Hasil Pengamatan Saya

Sepiring Soto dan Sebungkus Nasi Rasa Toleransi. Kisah Tentang Persatuan di Tengah Perbedaan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berbeda-beda, namun Satu Jua. Inilah 3 Cara Menjaga Persatuan Indonesia yang Dapat Kamu Lakukan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar