Belajar dari Tax Amnesty: Ungkap Sejauh Apa dan Tebus Bagaimana yang Dapat Membawa Kelegaan dalam Relasi dengan Pasangan?

Reflections & Inspirations

[Image: pajak.go.id]

301
Benarkah pengakuan selalu disertai pengampunan? Ungkap, tebus, lega. Apakah benar-benar bisa membuat kita lega?

Tax Amnesty menjadi pembicaraan hangat mulai dari café premium di mal sampai warung kopi pinggir jalan. Pembicaraannya, jika saya cermati, ternyata bermuara pada satu pertanyaan kunci, "Ngaku nggak, ya?" Kalau saya telusuri lebih jauh, ternyata pertanyaan itu didasari rasa takut: kalau saya ngaku, akibatnya gimana? Dari pertanyaan itu saja kita tahu bahwa pengakuan membutuhkan keberanian.

Siang hari. Ibu Agnes Maria menunjukkan foto yang ada di handphone-nya kepada saya. Begitu saya melihat, saya ngeri. Tampak seorang wanita yang terbelah badannya karena menabrakkan diri ke kereta api yang sedang lewat.

Kisah tragis dari foto itu bermula dari seorang suami yang ketika mengikuti sebuah acara, diminta untuk ‘buka-bukaan’ dengan istrinya tentang masa lalunya. Suami itu ternyata pernah selingkuh. Selama ini hatinya memang tertuduh. Namun, setelah mengakui, hatinya tambah mengaduh. Hati istri yang dicintainya, setelah mendengar pengakuannya, justru gaduh. Hatinya tidak lagi teduh. Akhirnya mentalnya jatuh. Asanya luruh.

Lewat peristiwa yang memilukan itu, apa yang bisa kita petik dari Tax Amnesty?

Benarkah pengakuan selalu disertai pengampunan? Jangan-jangan setelah mengaku nanti malah dicari-cari harta lain yang ‘ketlingsut’ atau belum sempat dilaporkan? Apa ada jaminan saat mengaku, berikutnya tidak lagi dipaku? Tagline ‘ungkap, tebus, lega’ apa benar-benar bisa membuat kita lega?

Baca Juga: Tax Amnesty dan Sebuah Kenyataan Pahit tentang Relasi Orangtua - Anak yang Disingkapkannya

Apakah hal yang sama bisa terjadi antar pasangan suami-istri yang terbuka?



Ungkap

Sebagai konselor keluarga, saya sering memberikan konseling pranikah. Salah satu poin yang saya anjurkan adalah keterbukaan satu sama lain.

Baca Juga: 4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

Suatu siang, seorang wanita datang kepada saya. Dia bertanya-tanya soal operasi keperawanan. Sudah bisa ditebak, dia tidak lagi perawan karena pergaulannya yang terlalu bebas dengan pacarnya dulu. Dia takut calon suaminya kaget saat malam pertama dan menuntutnya cerai.

“Apa dengan operasi keperawanan Anda yakin bisa meredakan rasa bersalah di hatimu?” tanya saya. “Selaput daramu bisa saja pulih, tetapi apakah rasa percaya dirimu juga pulih?” sambung saya.

Dia mulai menangis. Saya biarkan dia menangis agar lega. Setelah itu saya nasihati bahwa yang paling penting adalah kejujuran. Saya dorong dia untuk mengakui dosanya dengan jujur di hadapan Tuhan dan calon suaminya.

“Bagaimana kalau dia marah dan memutuskan saya?”

“Itu risiko dan konsekuensi yang memang mau tidak mau harus engkau tanggung. Namun, mana yang lebih menakutkan: ketahuan sekarang karena Anda mengaku jujur, atau nanti di malam pertama? Keputusan ada di tanganmu.”

Setelah saya doakan, wanita muda itu pamit. Seminggu kemudian, dia datang lagi dengan wajah yang ceria. “Saya sudah mengaku di hadapan pacar saya. Meskipun kecewa, dia mau mengampuni saya dan rencana pernikahan kami berjalan seperti biasa. Terima kasih Pak Xavier,” ujarnya.

Baca Juga: Pacar Mengaku Tak Lagi Perawan atau Perjaka. Apa Sikap Terbaik yang Bisa Dilakukan?



Tebus

Tuhan itu Mahapemurah, Pengampun dan Penyayang. Dia Mahakasih. Kasih-nyalah yang menebus dosa kita. Jika Tuhan sudah mengampuni kita, apakah yang harus kita lakukan? Kita perlu menebus.

Tebusan yang paling baik adalah dengan tidak melakukan lagi dosa dan kesalahan yang sama.
[Image: ributrukun.com]

Hal yang samalah yang saya katakan ketika ada calon pengantin yang dengan jujur mengatakan bahwa mereka sudah melakukan hubungan suami istri sebelum sah di hadapan Tuhan. Setelah mengaku, mereka harus menebusnya dengan hidup kudus sampai hari pernikahannya disahkan, bukan hanya oleh lembaga agamawi, tetapi juga pemerintah.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah ini



Lega

Tidak ada hal yang begitu meringankan hati kecuali dosa kita diampuni. Kita menjadi lega. Kelegaan ini nyata, bukan semu.

Lalu, bagaimana dengan kasus pasangan suami-istri yang istrinya bunuh diri di atas? Di sinilah hikmat kita perlukan. Kita harus berdoa sungguh-sungguh, memohon agar Tuhan memberi kita kemampuan untuk mengungkapkannya pada saat yang tepat.

Jadi, kuncinya adalah situasi kondisi dan kesiapan hati pasangan untuk menerima pengakuan kita.

Jika pasangan kita belum siap, lebih baik tunda. PR pertama sudah kita lakukan, yaitu mengaku jujur di hadapan Tuhan. PR berikutnya, jujur terhadap pasangan, harus kita lakukan dengan hati-hati. Salah satu indikasinya adalah ini: Apakah pasangan kita tipe terbuka dan tidak rapuh? Jika dia rapuh, lebih baik tunda untuk mengungkapkan kesalahan kita di masa lalu. Dari hubungan kita yang intensif dengan pasangan, kita akan tahu kapan saat yang tepat itu.

Kiranya keterbukaan menjadi jalan terindah bagi pemulihan!



Baca Juga:

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

3 Jenis Keintiman yang Harus Dimiliki Pasangan untuk Menyelamatkan Hubungan dari Godaan Perselingkuhan

Inilah Satu Kunci Sukses Membina Hubungan, Baik dengan Pasangan, Anak, maupun Rekan Bisnis



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar dari Tax Amnesty: Ungkap Sejauh Apa dan Tebus Bagaimana yang Dapat Membawa Kelegaan dalam Relasi dengan Pasangan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar