Belajar dari Kasus Dimas Kanjeng: Raih Financial Freedom Bukan dengan Menggandakan Uang, Melainkan dengan Melakukan 5 Hal ini

Reflections & Inspirations

[Image: ozy.com]

5.1K
Kemerdekaan finansial bukan berarti kaya raya. Bagi saya, kebebasan finansial adalah jika kita tidak lagi diperhamba oleh uang. Sebaliknya, kita yang menjadikan uang hamba dan membelanjakannya sesuai dengan keinginan Sang Khalik. Inilah 5 cara untuk meraihnya.

“Kok saya susah nabung ya?”

“Baru tanggal 15 gaji suamiku sudah habis.”

You mending. Punyaku minggu pertama sudah habis.”

Anda pasti pernah mendengar salah satu atau bahkan ketiga kalimat bernada putus asa seperti di atas. Di sini lain, kita dibombardir oleh iklan seminar ‘Financial Freedom’ yang menawarkan kebebasan keuangan dengan cara cepat. Banyak sekali yang tergiur dengan angin surga untuk ‘merdeka secara finansial’ sehingga terjerat ke dalam praktik-praktik penggandaan uang ala Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Apa sih kebebasan finansial itu? Bagi saya pribadi, kemerdekaan secara keuangan itu tidak berarti kita kaya raya dan melimpah secara materi sehingga bebas menghambur-hamburkan uang menurut kehendak kita. Kalau pengertiannya seperti itu, saya lebih suka menyebutnya gaya hidup hedonisme.

Bagi saya, kemerdekaan finansial itu adalah jika kita tidak lagi diperhamba oleh uang. Sebaliknya, kita yang menjadikan uang hamba dan membelanjakannya sesuai dengan keinginan Sang Khalik.

Dari pengalaman pribadi, saya ingin membagikan 5 langkah agar kita bisa mengalami kebebasan finansial sejati. Saya meminjam istilah yang populer dengan sebutan making, spending, storing, loving, dan giving.


1. Making

Siapa yang tidak perlu uang? Oleh sebab itu, langkah pertama dari ‘perjalanan seribu mil’ untuk mencapai financial freedom dimulai dari be the bread winner for the family. Zaman sekarang, pasangan suami-istri sama-sama bekerja adalah hal yang lumrah agar ‘dapur tetap mengepul’. Di awal kehidupan pernikahan saya dulu, saya dan istri sama-sama bekerja keras meskipun belum sampai ‘membanting ulang’ untuk mencari uang.

Ketika tulang dibanting, bukan uang yang kita dapat, melainkan uang justru melayang karena kita terbaring di UGD!

Salomo atau Sulaiman mengajar kita mencari nafkah dengan meniru semut. Semut, meskipun kecil, tetapi semangat bekerjanya luar biasa. Dia mencari dan menyimpan makanan di musim panas sehingga ada persediaan di musim dingin.



2. Spending

Ketika seorang datang untuk konsultasi masalah jodoh, salah satu kriteria yang saya minta masuk dalam pertimbangannya adalah tentang spending pattern alias gaya belanja calon pasangan. Jika dia tipe pemboros, apakah kita sanggup menyediakannya? Seorang suami pernah mengeluh kepada saya karena istrinya menuntut uang belanja puluhan juta rupiah setiap bulannya, padahal penghasilan dia tidak sebesar itu. Di sisi lain, ada istri yang mengelus dada - dan dompetnya - karena sang suami yang tidak bekerja justru senang jalan-jalan keluar negeri, ngafe di café premium, dan membeli barang-barang branded dengan uang istrinya. Seorang akuntan pernah konseling ke saya, tiap hari ia diteror debt collector karena suaminya suka gali lubang tutup lubang dengan belasan kartu kredit.

Ungkapan ‘besar pasak ketimbang tiang’ sungguh valid. Penghasilan sebesar apa pun tidak akan bisa mengejar orang yang nafsunya belanja.
[Image: delfi.lt]

Impulsive buying, membeli hanya karena emosi dan dorongan hati sesaat, harus kita hindari. Saya punya cara begini. Setiap kali melihat tulisan ‘Sale’, ‘Discount’, ‘Buy One Get One’ dan sejenisnya, saya pakai rumus ini: ENDAPKAN SEMALAM. Sederhananya seperti ini, “Jika saya tunda beberapa hari atau seminggu, apakah saya masih tetap menginginkan dan MEMBUTUHKAN barang itu?” Jika tidak, berarti kita hanya digerakkan oleh emosi sesaat.

Baca Juga: 7 Jurus Memanfaatkan Kartu Kredit Secara Maksimal Tanpa Menimbulkan Masalah



3. Storing

Kita bisa juga menyebutnya dengan istilah ‘saving’. Sejak kecil kita diajar untuk menabung - waktu itu Tabanas - dengan prinsip ‘sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’. Tidak peduli berapa jumlahnya, jika kita menabung secara TERATUR, tanpa terasa uang kita akan meningkat secara drastis karena sistem bunga berbunga. Kata ‘teratur’ di sini penting karena kalau sering bolong-bolong, apalagi kalau sampai membolongi celengan, maka jangankan bunga berbunga, belum sempat berbunga saja pohon tabungan kita sudah layu.

[Image: tweakyourbiz.com]

Saya ingat tokoh sejarah bernama Yusuf yang dipercaya oleh Firaun sebagai Ketua Bulog Mesir. Di dalam tujuh tahun masa kelimpahan, Yusuf menyimpan seperlima dari hasil panen ke lumbung-lumbung di seluruh tanah Mesir, sehingga waktu Mesir dan seluruh dunia dilanda kekeringan dan kelaparan, Yusuf mengeluarkan gandum persediaan itu. Hikmat yang bisa kita tiru bukan?



4. Loving

Salah satu sikap dan tindakan luhur yang diajarkan oleh Tuhan kita adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri. Jika kita analogikan dengan tubuh manusia, jika satu anggota sakit, maka anggota lainnya akan merasakannya. Saya senang dengan ungkapan ini, ‘We can give without loving, but we cannot love without giving.”

Jadi, jika ada ‘kasih’ di dalam hati kita - perhatikan kata ‘kasih’ - maka kita perlu memberi ‘kasih’ dengan ‘mengasih’ uang kita kepada orang-orang yang kita kasihi.
[Image: ributrukun.com]

Baca Juga: Pacar Materialistis: Minta Ini, Minta Itu? Inilah 3 Cara Lembut namun Tegas untuk Menyiasati agar Kamu Tak Terus jadi ATM Berjalannya



5. Giving

Kelanjutan dari yang keempat, saat kita mengasihi seseorang, kita dengan penuh kasih akan rela memberi. Pemberian ini merupakan ungkapan kasih kita. Tentu saja, keluarga kitalah yang pertama-tama menerima curahan kasih kita. Pemberian ini termasuk saat saudara kita kesusahan atau saat kita diundang kondangan.

Baca Juga: Merasa Menjadi 'Sapi Perah' Orangtua? Inilah Cara Membantu Orangtua Tanpa Harus Mengorbankan Diri Sendiri

Istri saya punya kebiasaan yang menurut saya baik. Jika ada undangan - terutama pesta pernikahan - dia melihat kondisi yang mengundang. Intinya begini, dia memberi lebih banyak kepada orang yang secara ekonomi lebih lemah. Bukankah ada semacam hukum tak tertulis bahwa orang kaya, berpangkat, dan sebagainya mendapatkan sumbangan yang lebih besar? Menurutnya, memberi kepada si kaya seperti menggarami lautan. Mari memberi dengan bijak!



Baca Juga:

Keseimbangan Keuangan Akan Menghindarkan Anda dari Jeratan Utang. Inilah 3 Prinsip Sederhana untuk Meraihnya

Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu, dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita

Tangan-Tangan Pemelihara Kehidupan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar dari Kasus Dimas Kanjeng: Raih Financial Freedom Bukan dengan Menggandakan Uang, Melainkan dengan Melakukan 5 Hal ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar