Belajar dari Ketegaran Hati Jupe dalam Menghadapi Kanker Serviks

Reflections & Inspirations

[Image: Rio Motret]

9.2K
Walaupun terbaring sakit, dia tidak ingin kehilangan pesonanya. Bukan semata untuk dirinya sendiri, namun untuk setiap orang yang menjenguknya.

Kanker.

Kanker payudara. Kanker serviks.

Mendengar kata ini saja kita sudah merinding,

Sudah sekian lama Jupe harus berbaring di rumah sakit karena menderita kanker serviks. Tubuhya makin kurus. Wajahnya makin tirus. Namun, semangatnya tidak tergerus.

Apa yang bisa kita pelajari dari artis yang satu ini?



1. Tetap ingin tampil cantik

Ada orang yang sangat menjaga penampilan. Apalagi Jupe, yang adalah seorang artis.

[Image: tribunnews.com]
Namun, ia menjaga penampilan bukan sekadar agar percaya diri, tetapi ini yang mulia: menghargai orang-orang yang menjenguknya.

Tidak gampang berdandan saat tubuh sakit. Untuk menemui orang saja kita sering kali malas. Meskipun begitu, Jupe masih menyempatkan diri untuk mendandani wajahnya. Orang yang menyaksikan fotonya memakai eye shadow merasa terharu. Penampilan Jupe memang jauh berbeda dibandingkan saat dia masih sehat.

Sekitar setahun yang lalu, saya sempat makan di Nestcology Land of Gastronomy, sebuah café di Semarang. Suasana tiba-tiba berubah meriah. Rupanya Jupe datang ke resto itu bersama Anne Avantie. Restoran itu memang milik Ernest Christoga, owner sekaligus chef lulusan sekolah kuliner terkemuka, anak desainer kebaya ternama tanah air. Jupe begitu cantik dan penuh percaya diri. Tangannya dilambaikan kepada orang-orang yang menyapanya.

Walaupun terbaring sakit, dia tidak ingin kehilangan pesonanya. Bukan semata untuk dirinya sendiri, namun untuk setiap orang yang menjenguknya.

Baca Juga: Wanita, Bukan Soal Kecantikan, Inilah 4 Kualitas Diri yang Dapat Membuat Pria Jatuh Cinta


Jupe ingin menunjukkan bahwa meskipun sedang sakit, dia …



2. Tetap optimis meski hati bisa jadi menangis

Sikap semacam inilah yang justru baik untuk memerangi penyakit, apa pun! Bukankah hati yang gembira adalah obat yang luar biasa?

[Image: tribunnews.com]

Saya membaca dan mendengar banyak pasien gawat, termasuk kanker, yang akhirnya bisa survive karena sikap positif mereka dalam memandang hidup. Orang semacam ini tidak menganggap dirinya sebagai korban, menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan. Dia justru merasa bahwa baik sehat maupun sakit adalah proses alam yang sudah sewajarnya dihadapi.

Saya begitu terinspirasi oleh Arthur Ashe sehingga menuliskan ulang untuk kita renungkan bersama.

Petenis kulit hitam ini dikenal dunia sebagai jagoan tenis. Dia berhasil merebut America Open, Australia Open, dan Wimbledon. Di saat kariernya begitu cemerlang, tiba-tiba dia terkena serangan jantung dan menjalani operasi bypass. Saat di meja operasi inilah dia justru terinfeksi HIV lewat transfusi darah yang diterimanya. Di dalam situasi yang menyedihkan itu, salah seorang fans-nya menulis surat. Bunyinya: “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?”

Dengan bijak, Ashe membalas,

“Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis. Di antara jumlah itu ada 5 juta yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5 ribu mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final.

Ketika saya mengangkat trofi Wimbledon,
saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, "Mengapa saya?"
[Image: ributrukun.com]

Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan,
tidak seharusnya juga saya bertanya,
‘Mengapa saya?’”

Baca Juga: Hidup setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan kala Gelombang Duka Kematian Menerjang


Saya bukan fan Jupe. Saya juga tidak menjenguknya. Namun dari kesaksian orang-orang yang mem-bezuk-nya, saya menangkap kesan bahwa dia merindukan orang-orang yang pernah mengisi hidupnya.

Di saat terbaring di ranjang, Jupe …



3. Tetap mengingat mereka yang pernah singgah di hati

Saat diminta untuk bicara untuk memberi penghiburan bagi keluarga dan sahabat dari orang yang dipanggil pulang ke surga karena menderita kanker, saya memberi judul renungan saya ‘Mengenang Orang-Orang Tersayang.’ Jupe pun ingin orang-orang istimewa itu kembali hadir di saat dia membutuhkan, baik Gaston Castano maupun Damien Perez. Gaston sudah menjengkuk dan mengatakan masih menyayangi diva dangdut ini.

Jupe kembali mengingatkan kita:

Banyak orang yang hadir di dalam kehidupan kita, namun hanya sedikit orang yang benar-benar ada di samping kita saat kita sakit.
[Image: tribunnews.com]

Fakta ini mengajarkan kita untuk lebih banyak meluangkan waktu bagi keluarga inti - orangtua, pasangan, anak dan saudara - ketimbang sahabat, rekan, teman, dan kenalan. Hanya keluargalah yang ada di saat kita menderita.

Family is the best thing you could ever wish for.

They are there for you during the ups and downs and love you no matter what.

Baca Juga: Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja


Beristirahatlah dengan tenang, Jupe.

Thanks untuk pelajaran hidupnya!



Baca Juga:

Kanker Payudara Memulihkan Keluarga Saya. Sebuah Kisah Nyata tentang Kepahitan dengan Akhir yang Indah

Bahagia, Meski Menderita Kanker dan Tak Berlimpah Materi. Bahwa Bahagia Sejatinya Perkara Hati, Keluarga ini Membuktikannya

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar dari Ketegaran Hati Jupe dalam Menghadapi Kanker Serviks". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar