Belajar dari Agus Harimurti Yudhoyono: Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan

Reflections & Inspirations

[Image: RibutRukun.com]

10.5K
Jika setiap orang menang, lalu apa artinya pertandingan? Lomba hanya jadi sandiwara.

Ingar-bingar pilkada serendak sudah reda. Petugas mulai membersihkan TPS. Pasangan calon yang menang sudah memberikan pidato kemenangan, sedangkan yang kalah menenangkan relawan dan konstituen dengan pidato kekalahan.

Pidato kekalahan? Tergantung pidatonya. Bagi saya, ‘pidato kekalahan’ Agus Harimurti Yudhoyono adalah ‘pidato kemenangan’. Mengapa? Karena dia kalah dengan gentle dan elegan!

Apa yang bisa kita pelajari dari pidato Agus? Tiga hal ini perlu kita lakukan untuk menjadikan kekalahan menjadi kemenangan:



1. Menyadari bahwa Kekalahan adalah Kemenangan yang Tertunda

Meskipun kecewa, kesadaran bahwa kita kalah adalah titik awal terbaik untuk kembali melangkah.

Ada orang yang mencari pembenaran sendiri - dan pasti menyalahkan pihak lain - sehingga mencari kambing hitam atas kekalahannya. Agus tidak seperti itu. Secara kesatria dia mengakuinya. Pandangannya tidak dia arahkan ke masa lalu, melainkan ke masa depan.

"Ke depan, nanti saya akan tetap mendarmabaktikan hidup saya untuk ikut memajukan bangsa dan negara tercinta ini menuju Indonesia Emas di tahun 2045," kata Agus di Wisma Proklamasi, Rabu 15 Februari yang lalu.

Baca Juga: Bagaimana jika Pernikahan Impianmu Tak Terwujud? Sebuah Pertanyaan tentang Keberanian Bermimpi dan Kekuatan Memperjuangkan Impian



2. Menyadari bahwa Kegagalan Bukan untuk Ditakuti melainkan Dijalani

Orang yang takut gagal justru tidak akan mengalami keberhasilan? Mengapa? Karena tidak berani mencoba. Lebih baik gagal setelah mencoba - dengan harapan suatu kali pasti berhasil - ketimbang tidak mencoba sama sekali dan pasti gagal.

Orang yang takut gagal justru mengabaikan peluang untuk berhasil.

"Jangan pernah takut gagal, jangan pernah takut kalah. Berbuatlah yang terbaik, karena banyak sekali yang bisa dilakukan dan diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia," kata Agus

Baca Juga: Tak Berani Mengambil Risiko? Takut Menghadapi Kegagalan? Satu Pertanyaan Penting ini Akan Membantumu Mengalahkan Rasa Takut dan Melangkah Maju



3. Menyadari bahwa Kegagalan Justru Awal dari Keberhasilan jika Kita Belajar Darinya

Dari ucapan Agus yang tidak ingin berhenti sampai Pilkada DKI dan ingin mendarmabaktikan hidupnya menuju Indonesia Emas 2045, saya tahu Agus bukan pelari jarak pendek. Dia adalah pelari jarak jauh. Artinya,

Agus memperlambat larinya, bahkan berhenti sejenak untuk beristirahat mengumpulkan kekuatan, dan berlari kembali.

Selama masa rehat ini dia tidak berpangku tangan, melainkan menyusun kekuatan untuk maju lagi di arena yang sama atau lebih besar lagi di tahun-tahun berikutnya. Ada yang menganalisis bahwa Agus akan maju ke Pilkada Jatim 2018. Saya tidak mau dan tidak senang berspekulasi. Siapa tahu Agus justru mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih besar, misalnya Pilpres 2019? Bukannya tidak mungkin yel-yel “Agus Presiden” yang diteriakkan pendukungnya sesaat sebelum dia berpidato justru memberinya semangat untuk maju lagi?

Bukankah setiap orangtua juga menyemangati anak-anaknya untuk mencapai cita-cita setinggi langit sekalipun?

Baca Juga: Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!


[Image: Twitter @ranabaja]

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan jika Kita Mengalami Kekalahan?



1. Di dalam Setiap Pertandingan Pasti ada yang Menang dan yang Kalah

Jika setiap orang menang, lalu apa artinya pertandingan? Lomba hanya jadi sandiwara.

Saya ingat film kocak berjudul “Bruce Amighty”. Bruce Nolan - yang diperankan Jim Carey - diberi kesempatan oleh Tuhan - diperankan oleh Morgan Freeman - untuk menjadi ‘Tuhan’ selama seminggu. Tugasnya adalah mendengarkan setiap doa dan memberikan jawaban. Karena ingin menyenangkan semua orang, dia membuat setiap orang yang beli lotere menang semua. Akibatnya? Kacau! Setiap pemenang mendapatkan uang yang sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali, sehingga membuat bandarnya bangkrut.

Saya justru kagum dengan sikap seorang anak. Anak itu berdoa sebelum bertanding dan saat ditanya apakah dia berdoa agar menang, “Tidak!” jawab anak itu tegas. “Saya berdoa agar kalau kalah tidak menangis!” Super sekali!

Baca Juga: 4 Hal Indah yang Akan Kamu Temukan setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Soal Kompetisi



2. Ketika Kita Sudah Melakukan yang Terbaik dan Kalah, itu Merupakan Kemenangan

Mengapa?

Karena persiapan dan latihan itu sendiri sudah merupakan modal awal untuk kemenangan di kemudian hari! Jadi, tidak ada istilah sia-sia.
[Image: RibutRukun]

Bukankah di bisnis pun ada uang yang harus digelontorkan untuk persiapan, promosi dan sebagainya?

Baca Juga: 5 Jalan Mengubah Kekurangan Menjadi Bekal Kesuksesan



3. Ada Hikmah dari Setiap Kekalahan

Ketika masih sekolah dulu, saya pernah dikirim untuk ikut turnamen catur antarsekolah. Saya kalah telak. Apa yang saya pelajari? Pertama, saya kalah jam terbang dari pemain dari sekolah lain. Kedua, saya bermain catur memang untuk kesenangan, bukan untuk pertandingan. Ketiga, saya tidak siap untuk turnamen ini sehingga berangkat tanpa persiapan.

Intinya, kekalahan justru mengajarkan kepada saya bahwa untuk memenangkan suatu pertandingan, saya harus mempersiapkan diri dengan baik.

Baca Juga: Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Kepahitan yang Kamu Alami


“Untuk melompat lebih tinggi dan lebih jauh, kita perlu mundur lebih dulu!”

- Xavier Quentin Pranata



Baca Juga:

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar Sebagai Pemenang

Bisakah Hari yang Buruk menjadi Lebih Buruk?

Agus Ahok Anies: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Mereka?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar dari Agus Harimurti Yudhoyono: Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar