Belajar Berelasi dari KH Hasyim Muzadi: Menjadi Pribadi yang Teduh, Satu Ini Rahasianya

Reflections & Inspirations

[Image: tirto.id]

8.9K
Selera humor yang tinggi membuatnya menjadi pribadi yang teduh. Rukun dan senyum memang jauh lebih menyejukkan ketimbang ribut dan bersungut-sungut.

Indonesia kehilangan seorang tokoh pluralis yang populis. KH Hasyim Muzadi telah meninggalkan kita. Mantan ketua umum Nahdlatul Ulama ini sudah dipanggil pulang. Namun, beliau menyisakan kenangan yang luar biasa bagi para sahabat. Sehari setelah Presiden Jokowi mengunjunginya di Malang, kiai yang senang bergurau ini berpulang.

Apa yang bisa kita pelajari dari beliau?

[Image: tempo.co.id]

Ini: Rasa humornya yang tinggi.

Belajar berelasi dari KH Hasyim Muzadi berarti mempelajari sense of humor-nya yang begitu tinggi. Canda dan tawanya bersama Gus Dur menginspirasi banyak orang, termasuk Mahfud MD. Humor memang bisa mencairkan suasana. Inilah beberapa humor KH Hasyim Muzadi yang bisa membuat relasi jadi lebih cair.



1. Dari Gegeran ke Gergeran

Mahfud MD menceritakan bahwa KH Hasyim Muzadi adalah seorang pecinta damai. Budaya NU, menurutnya adalah mengubah gegeran [keributan] menjadi gergeran [tawa meriah]. Tawa memang menyehatkan. Waktu saya mengunjungi KH Ahmad Mustofa Bisri di Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin di Rembang, Jawa Timur, belasan tahun yang lalu, saya mendapatkan kesan yang hampir sama: keteduhannya.

Rupanya selera humor yang tinggi dari KH Hasyim Muzadi membuatnya menjadi pribadi yang teduh.

Beliau lebih suka gergeran [tawa ceria] ketimbang gegeran [bertengkar]. Rukun dan senyum memang jauh lebih menyejukkan ketimbang ribut dan bersungut-sungut.

Saya punya pengalaman menarik. Suatu kali saya diutus universitas untuk mengikuti seminar nasional di sebuah kampus di Jakarta. Saat diskusi kelompok, ada perbedaan pandangan yang cukup tajam antarkelompok. Masing-masing kelompok merasa paling benar sendiri. Akibatnya, suasana jadi tegang. Saat rehat, saya yang dari dulu memang suka humor, melontarkan joke-joke segar. Suasana berubah. Saat diskusi berikutnya, mereka jauh lebih cair.

“Humor can be one of best survival tools.” - Allan Klein

Baca Juga: Selalu Kembali Rukun setelah Ribut, Inilah 3 Hal Esensial yang Membuat Relasi Langgeng



2. Hape Modis dan Kinyis-Kinyis, tapi Pulsa Tipis Hampir Abis

KH Hasyim Muzadi jeli juga mengamati gaya anak muda masa kini. Menurut beliau, anak-anak muda zaman sekarang senang gonta-ganti hape dengan casing yang menarik. Namun, mereka lebih senang missed call agar ditelepon balik. Apa lagi alasannya kalau bukan biar irit, atau yang lebih parah lagi, pulsa menipis. He he he.

Komunikasi, di dalam berelasi, jelas butuh biaya.

Saya ingat, waktu masih tinggal di luar negeri, saya memakai sistem plan. Artinya, dalam sebulan, saya dapat jatah menelepon $ 500. Dengan pulsa yang melimpah itulah saya lebih leluasa menelepon keluarga dan sahabat di tanah air ketimbang mereka yang telepon saya. Biayanya selisih banyak. Mau yang lebih irit? Bisa! Pakai skype, BB call atau WA call, namun tentu kualitasnya tidak sebagus hubungan telepon langsung.

Meskipun demikian, kalau kita renungkan lebih dalam,

mana yang jauh lebih mahal, merawat relasi atau membeli pulsa?

Jangan sampai karena mengirit pulsa, kita kehilangan denyut kasih di antara keluarga.



3. Menuntut Ilmu ke Luar Negeri untuk Mengais Rezeki

“Senang, bnyk anak2 NU yg skrng belajar ke Saudi. Sayangnya klau pulang tak jd ulama tp berbisnis travel Umrah", Itu gurauan K. Hasyim Mzd," tambahnya @mohmahfudmd. [tribunennews.com]

Gurauan KH Hasyim Muzadi yang di-tweet Mahfud MD di atas mengingatkan saya lagu “Teluk Bayur” yang melegenda. Syair lagu klasik yang dinyanyikan oleh Ernie Johan dan kemudian dipopulerkan kembali oleh Rani ini mengajarkan kita tentang kesetiaan terhadap tujuan.

Selamat tinggal Teluk Bayur permai

Daku pergi jauh ke negri seb’rang

Ku kan mencari ilmu di neg'ri orang

bekal hidup kelak di hari tua

Di tengah heboh gadis yang menikah dengan pria yang lebih mapan ketimbang pacar yang sedang berjuang, lagu ini menawarkan kesetiaan, meskipun dijalani dengan LDR.

Apa tujuan kita kuliah di luar negeri? Mencari ilmu. Untuk apa? Bekal hidup di masa tua.

Selama menjalani kuliah di luar negeri, banyak hal yang bisa membuat kita lupa dengan tujuan semula. Sebelum berangkat, kita bertekad untuk pulang dan membangun tanah air. Namun, ketika tawaran kerja di negeri tempat kita belajar ternyata lebih menjanjikan, kita ingkar dan tidak pulang kampung. Bukan hanya Indonesia yang kehilangan putra terbaiknya, tetapi juga ada hati yang terluka karena ditinggal kekasih yang ‘pelupa’.


[Image: viva.co.id]

Beristirahatlah dengan tenang Pak KH Hasyim Muzadi.

Kesejukan dan gurauan Bapak biarlah tetap melekat di hati.



Baca Juga:

Pelajaran dari Jaket Jokowi: 3 Hal Sederhana dalam Hidup yang Berdampak Luar Biasa

Belajar dari Istri Ahok, Veronica Tan: 4 Peran Tak Tergantikan Istri yang Membentuk Kesuksesan Suami

Belajar dari Agus Harimurti Yudhoyono: Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar Berelasi dari KH Hasyim Muzadi: Menjadi Pribadi yang Teduh, Satu Ini Rahasianya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar