Beda Jangan Disamakan, Sama Jangan Dibedakan: Memandang Perbedaan Lewat Kacamata Gus Dur

Reflections & Inspirations

photo credit: KMNU IPB

4.5K
Saya juga pernah berpandangan bahwa agama Islam adalah agama yang “egois” dan hanya mementingkan kepentingan agamanya sendiri.

Siapa yang tidak tahu dengan sosok Kiai Abdurrahman Wahid? Beliau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur ini adalah figur yang fenomenal dalam realitas sosial politik masyarakat Indonesia. Bukan hanya ahli dalam masalah kenegaraan, ia juga sangat kompeten dalam persoalan keagamaan. Menurut saya, ia adalah seorang reformer yang telah membuka sekat-sekat keagamaan. Ia bukan hanya berteori tentang agama, ia telah menghidupi sendiri nilai-nilai keagamaannya. Sederhana, terbuka, dan toleran adalah ciri khas dari seorang Gus Dur.

Saya bukan seorang Gusdurian (sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur), tetapi saya terpesona dengan cara berpikir seorang Gus Dur mengenai Islam. Pemikirannya mengenai keagamaan telah mengubah cara pandang saya mengenai agama Islam. Dulu, saya pernah berpikir bahwa agama Islam adalah agama yang pro radikalisme dan terorisme. Saya salah besar!

Baca juga: Mengapa Generasi Muda Tak Bangga akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, inilah Hasil Pengamatan Saya


Saya juga pernah berpandangan bahwa agama Islam adalah agama yang “egois” dan hanya mementingkan kepentingan agamanya sendiri. Pendapat ini dilatarbelakangi karena ada begitu banyak gerakan radikal garis keras yang mengatakan dirinya sebagai Islam sejati dan keberadaan mereka begitu meresahkan bangsa ini.

Namun, pemikiran Gus Dur telah mengubah stigma yang jelek itu menjadi sebuah pemahaman mengenai keislaman yang sebenarnya. Dari Gus Dur saya semakin tahu arti Islam sebagai “penyongsongan damai”. Ia mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah seorang yang mengadakan perdamaian dengan Allah dan sesama. Oleh sebab itu, agama Islam sesungguhnya tidak pro terhadap radikalisme dan terorisme. Agama Islam adalah agama yang cinta damai.

Gus Dur pernah mengatakan bahwa, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikkannya." Jadi, sebenarnya ajaran-ajaran pro radikalisme itu bukanlah ajaran Islam yang sesungguhnya, melainkan bentuk kedangkalan pemahaman dari kaum ekstremis.

Meskipun raga Gus Dur sudah tiada, tetap harta yang ia wariskan sangat berharga. Ini adalah 3 warisan berharga yang dititipkan oleh Gus Dur untuk kita masyarakat Indonesia.



1. Perbedaan ada untuk menyatukan, bukan untuk memecahkan

photo credit: unpar

Negara Indonesia adalah negara yang plural dan multikultural. Ada beraneka ragam unsur-unsur etnis, budaya, bahasa ibu, dan nilai agama yang tumbuh di Indonesia. Keragaman ini sering membuat Indonesia sangat rawan terhadap konflik dan perpecahan. Perbedaan sering dijadikan alasan untuk bertengkar satu dengan yang lain.

Namun, bagi Gus Dur, perbedaan bukan alasan untuk berpisah. Menurutnya, Tuhan menciptakan perbedaan bukan untuk memecahkan, melainkan untuk menyatukan.

Bukankah nilai ini juga disuarakan dalam semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (walaupun berbeda-beda tapi tetap satu)? Lalu, mengapa masih banyak konflik atas dasar perbedaan? Menurut saya, konflik antar suku dan agama yang terjadi di Negara Indonesia ini adalah bentuk kegagalan kita dalam memahami esensi perbedaan.



2. Perbedaan tidak hanya memerlukan sikap tenggang rasa, tetapi “sense of belonging”

photo credit: aktual

Menurut Gus Dur, masalah pokok dalam hubungan antar umat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Bagi beliau, kita hanya akan mampu menjadi bangsa yang kukuh, kalau setiap umat beragama yang berbeda dapat saling mengerti dan menerima satu sama lain. Penerimaan yang dimaksud bukan sekadar saling bertenggang rasa, tetapi yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging) satu terhadap yang lain. Semua pihak berkewajiban untuk menjaga kesatuan NKRI ini, karena itulah rasa saling memiliki sangat dibutuhkan.

Baca juga: Pacaran Beda Agama, LDR Terjauh. Sebelum Lanjut, Pastikan 4 Hal Penting ini Kamu Miliki

Jika setiap kelompok bisa mengatakan kepada kelompok lain “aku membutuhkanmu”, maka perbedaan tidak akan pernah bisa menjadi alasan untuk memecah belah bangsa Indonesia ini.



3. Perbedaan adalah 'fondasi perdamaian'

photo credit: Afan Oppa Blog

Konflik agamis yang terjadi di negara kita beberapa waktu terakhir ini membuat saya terus bertanya, “Sampai kapan ini berakhir?” Apakah perbedaan agama, suku, dan bahasa akan tetap menjadi alasan kita untuk ribut satu dengan yang lain? Apakah segala perbedaan yang ada membuat kelompok yang berbeda susah untuk bekerja sama dan memikirkan kesejahteraan bersama?

Apakah karena alasan perbedaan, Indonesia yang penuh damai tidak akan pernah terwujud?

Pertanyaan-pertanyaan ini kian menggelisahkan saya, tetapi akhirnya mendapat pencerahan melalui pemikiran Gus Dur. Ia mengatakan bahwa untuk mewujudkan Indonesia yang penuh damai, maka setiap orang dihadapkan dengan beragam perbedaan, baik perbedaan paham maupun budaya. Masing-masing pihak dituntut supaya dapat saling menerima. Oleh karena itu, bagi Gus Dur, “Fondasi dari perdamaian itu adalah perbedaan itu sendiri." Oleh karena itu, sudah jelas bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk ribut, tetapi perbedaan adalah dasar untuk hidup rukun satu dengan yang lain.

Baca juga: Waspada! Media yang Jahat Merusak 3 Nilai Kehidupan Penting Ini. Selamatkan Indonesia dengan Berbagi Kebaikan dan Kebenaran!

Di tengah-tengah ketegangan yang terjadi di negara kita ini, hendaknya sebagai warga Indonesia yang baik, kita tidak saling memprovokasi satu dengan yang lain. Ingatlah, Indonesia bukan negara satu suku. Indonesia bukan Negara satu agama. Indonesia adalah Negara kita bersama.

"Yang beda jangan disama-samakan, yang sama tidak perlu dibeda-bedakan”.
Oleh karena itu, berhentilah menyebarkan berita reaktif dan provokatif.



Baca juga:

Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata

Ahok Memang Luar Biasa tapi Ia Hanya Manusia. Menyikapi Kekalahan Ahok di Pilkada DKI, Ingatlah 2 Hal Ini

Ahok-Anies Pasca Pilkada DKI: Habis Ribut, Ya, Rukun! Lewat Ribut dan Rukun, Belajar Berelasi


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Beda Jangan Disamakan, Sama Jangan Dibedakan: Memandang Perbedaan Lewat Kacamata Gus Dur". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yunus Septifan Harefa | @yunusharefa

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar