Beberapa Pernikahan Memang adalah Kesalahan

Marriage

[Photo credit: Shannon Lee Miller]

9.4K
Beberapa pernikahan memang adalah kesalahan. Lalu, bagaimana?

Beberapa pernikahan, menurut saya, memang adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang bermula dari awal, sejak keputusan menikah.

Sebagai orang yang berbicara dengan banyak pasangan, sebelum dan sesudah pernikahan, saya merasa beberapa pasangan memang memulai relasi dengan membawa masalah-masalah tertentu. Masalah-masalah pribadi yang ada di dalam diri, tersembunyi hingga perjalanan pernikahan menyingkapkan semua hal itu.



Sebut saja namanya Devi.

Sosok perempuan cerdas dengan prestasi kerja yang mengagumkan. Masalahnya hanya satu: di saat teman-teman seangkatannya telah menemukan pasangan dan menikah, Devi masih sendiri.

Kesendirian kian tak mudah untuk diatasi, sehingga ia pun tak bisa lagi berdiam diri. Ia mengikutkan dirinya dalam sebuah kontak jodoh. Tak ada yang salah dengan hal ini, bukan?

Tak mudah menemukan pasangan hidup, bahkan setelah mengikuti kontak jodoh. Akhirnya, setelah sekian lama, Devi bertemu dengan seorang pria.

Baca Juga: Sering Tak Disadari, 5 Perilaku Perempuan Ini Memperpanjang Masa Single



Dewa, panggil saja dia demikian.

Dewa adalah seorang pria dengan latar belakang sosial budaya yang sama seperti Devi. Orangtua Dewa adalah pengusaha ternama, dengan beberapa anak yang sukses menempuh hidup di luar negeri dan berpendidikan tinggi. Sosok pria idaman bagi Devi.

Devi hamil beberapa bulan sebelum menikah dengan Dewa. Bahkan kehamilan itulah yang menyebabkan Dewa dan Devi menikah. Sebuah alasan klasik yang membawa banyak pasangan menikah, dan menyimpan masalah yang siap meledak sewaktu-waktu. Kecepatan dan kecermatan memang jarang sekali berjalan beriringan. Dua putra lahir dari pernikahan ini.



Pernikahan impian berubah menjadi neraka di bumi.

Identitas yang ditampilkan Dewa dalam masa perkenalan ternyata hanyalah kepalsuan. Dewa ternyata tak jujur terkait dengan latar belakang sosial budaya keluarganya. Keluarganya bukanlah keluarga yang sukses dengan anak-anak yang berprestasi. Seratus delapan puluh derajat terbalik antara citra yang ditampilkan selama ini dan realita yang ada.

Tak hanya itu, Dewa pun ternyata mengidap masalah psikologis yang serius. Ia sering menuduh Dewi berselingkuh, tanpa alasan yang dapat dibuktikan. Bahkan kepada dua putra mereka, Dewa kerap mengungkapkan bahwa mama mereka adalah seorang peselingkuh. Bahkan seorang pelacur. Padahal dalam realita, Dewa adalah seorang pria yang tak mampu menjalankan 'tugasnya' di tempat tidur karena problem kesehatannya, khususnya setelah kelahiran anak mereka yang kedua.

Kekerasan, verbal dan fisik, hingga pengusiran menjadi makanan sehari-hari Devi.

Bukan hanya tak bertanggung jawab secara keuangan, Dewa kerap meminta uang dari Devi untuk urusan-urusan bisnis yang di kemudian hari terbukti fiktif. Dewa bahkan ’meminjam’ nama Devi untuk mendapatkan pinjaman dana. Devi kelabakan dengan begitu banyak teror yang ia alami di kantor dan di rumah terkait dengan hutang dari Dewa yang tak terbayarkan.

Lengkap sudah. Identitas palsu, tak bertanggung jawab secara lahir dan batin, serta gemar melakukan kekerasan pada istri dan anak-anak. Neraka bagi Devi!



Lalu, harus bagaimana?

Perceraian tentu adalah hal yang terpikirkan oleh Devi. Namun, keyakinan iman Devi tak membuat percakapan tentang perceraian ini menjadi mudah. Apalagi Dewa juga tak tinggal diam terkait wacana ini. Dewa berulang kali mengungkapkan ancaman, termasuk sampai pembunuhan, bila Devi bersikeras dengan niat ini.

Dewa bukanlah sosok yang hanya berani berkata-kata, perilakunya juga tak kalah mengkhawatirkan. Sudah beberapa kali Devi mengalami, dilaporkan ke polisi dengan kisah-kisah yang dibuat-buat oleh Dewa. Nama baik Dewi pun dihancurkan Dewa dengan pelbagai cara dan skenario yang meyakinkan.

Saya ingin menghentikan paparan tentang kisah Devi di titik ini. Jika Anda, pembaca tulisan ini, ada di posisi Devi, apa yang akan Anda lakukan?



Ini perspektif saya tentang pernikahan Devi.

Ada empat tiang yang menopang sebuah pernikahan: kejujuran, perlindungan, perawatan, dan waktu bersama.

Salah satu tiang penopang yang penting adalah kejujuran. Kejujuran berarti berbicara apa adanya tentang kondisi diri pada pasangan. Tanpa kejujuran, pernikahan menyimpan banyak masalah yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Lawan dari kejujuran adalah kebohongan. Kebohongan adalah tindakan yang sengaja dilakukan untuk mengelabui [calon] pasangan. Dalam keyakinan tertentu, walau tak mengenal adanya perceraian, tetap mengenal pembatalan pernikahan. Apalagi jika terkait dengan kejujuran.

Itulah sebabnya, saya sangat menyarankan perjalanan yang natural menuju pernikahan. Kenalan menjadi teman; teman menjadi sahabat; sahabat menjadi pacar; pacar menjadi pasangan. Proses yang tak natural akan melewatkan banyak hal yang penting.

Dalam relasi yang cepat dan tergesa, akan ada banyak hal yang terlewatkan. Dan penyesalan, selalu datang belakangan, bukan?

Baca Juga: Merasa Salah Memilih Pasangan setelah Menikah? Inilah 5 Penyebab Utamanya



Bagaimana dengan perceraian?

Perceraian tak pernah menjadi rekomendasi saya. Keyakinan spiritual saya tak memberikan ruang bagi perceraian sebagai solusi dalam pernikahan. Namun, saya juga mesti mengakui bahwa sebuah kesalahan, yang tak dapat diperbaiki, tak layak terus menerus dipertahankan. Apalagi dengan bahaya yang bersifat fisik dan tekanan psikologis terus menerus bagi salah satu pihak dalam pernikahan.

Perceraian tak boleh menjadi opsi pertama, walau tak menutup kemungkinan menjadi opsi terakhir dengan segala harga yang harus dibayarkan.



Bagaimana bertahan di tengah pernikahan yang buruk?

Tak ada jawaban yang pasti untuk hal ini. Tiap pernikahan dan masalahnya bersifat unik. Namun, ada beberapa pedoman umum terkait hal ini.

Pertama, tak seorang pun menikah untuk kemudian mengakhirinya. Pernikahan adalah pilihan, maka pertahankan! Sebaik dan sebisa mungkin.

Kedua, carilah pertolongan melalui konselor atau pemimpin agama yang memunyai kapasitas untuk hal ini. Tak ada pernikahan yang sempurna. Semua, suami-istri, harus belajar dan bertumbuh.

Ketiga, bertahan demi anak adalah pertimbangan yang baik, namun hal ini tak boleh berjalan sepihak. Anak adalah perekat, tapi apa gunanya perekat jika tak ada pihak yang bersedia direkatkan?

Baca Juga: 3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai



Kisah Devi berakhir dengan kematian.

Bukan kematian Devi, tetapi Dewa. Di tengah perceraian yang diperjuangkan oleh Devi dengan segala risikonya, tiba-tiba Dewa meninggal.

Dewa sedang punya urusan tertentu dan menginap di sebuah hotel ketika maut datang menjemputnya. Bagi Devi, kematian ini adalah sebuah tanda bahwa Yang Kuasa memang berbelas kasih kepadanya. Devi menulisnya dalam kalimat-kalimat seperti ini:

".... aku "gak berani" melanggar itu. Kejadian kematian almarhum itu seolah olah bagiku seperti Tuhan memberikan jalan dan membenarkan keyakinanku tanpa aku harus melanggar janji perkawinan sesuai agamaku. Pesan itu yang ingin aku sampaikan: kesetiaan pada sesuatu yang salah ... pada akhirnya berserah kepada kehendak Tuhan. Dan ternyata kehendak Tuhan pun sama menginginkan perceraian itu dengan cara-Nya."

Ya, kematian Dewa mengakhiri belasan tahun pernikahan yang terasa seperti neraka. Namun, bagaimana dengan pernikahan-pernikahan lain yang senasib dengan Devi?


[Photo credit: Zoriana Stakhniv]

Pernikahan bukanlah surga di bumi, namun tak pula harus menjadi neraka. Pilih dengan saksama dan bijaksana, agar tak hanya air mata yang tersisa.





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Beberapa Pernikahan Memang adalah Kesalahan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar