Bayi Sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?

Parenting

[Image: pixabay.com]

23.6K
Pelukan adalah sebuah bahasa kalbu. Anak akan dapat memahaminya, tanpa orangtua perlu berkata-kata untuk mengungkapkannya.


“Jangan sering digendong, biarkan saja dia belajar tidur sendiri.”

“Waduh, nangis minta gendong? Sudah bau tangan tuh!”

“Hati-hati, nanti repot sendiri kalau dari bayi sudah sering digendong!”


Perkataan bernada serupa sudah sering saya dengar, bahkan sebelum saya memiliki anak sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa bayi yang terbiasa langsung digendong begitu ia menangis, akan tumbuh manja. Akibatnya, sang orangtua yang akan jadi kerepotan meladeni bayinya, kelelahan, dan bahkan merasakan nyeri di lengan ketika nantinya harus terus menggendong si bayi yang juga terus bertumbuh menjadi semakin besar dan berat.

Apa sih sebenarnya alasan di balik semua nasihat yang sepertinya melarang orangtua atau pengasuh untuk memberikan perhatian dalam bentuk gendongan mereka kepada si bayi? Bisa jadi orangtua atau pengasuh dikhawatirkan jadi tidak mau repot mencari sebab tangisan si bayi. Cara tercepat menenangkan bayi yang menangis adalah dengan menggendongnya. Bayi akan segera berhenti menangis, namun masalah yang sesungguhnya bisa jadi tidak teratasi. Atau, bisa juga si pemberi nasihat sudah pernah menghadapi bayi yang, karena sudah demikian terbiasa langsung digendong, jadi amat sulit ditenangkan jika tidak digendong. Penyebab lainnya, mungkin si pemberi nasihat memang (dulunya) malas direpotkan, jadi ia mencari cara lain saja, yang relatif lebih tidak menyusahkan dirinya.

Apapun alasan di balik larangan terlalu sering menggendong bayi, sebenarnya ada banyak juga keuntungan dan kebaikan dari aktivitas menggendong dan memeluk - dengan dosis dan alasan yang tepat, tentunya - buah hati kita. Inilah sesungguhnya makna pelukan dan gendongan bagi anak-anak kita:


1. Membangun Keintiman

[Image: sheknows.com]

Salah seorang sahabat saya menceritakan, saat itu, ia bersama suami dan mertua membawa anaknya yang baru genap berusia 2 bulan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Setelah kendaraan selesai diparkir, sahabat saya, sambil menggendong anaknya, bersiap turun dari mobil untuk berjalan menuju ke pintu masuk pusat perbelanjaan tersebut. Seketika, sang mertua menegur dan menyuruh sahabat saya untuk meletakkan saja bayinya di kereta dorong. Sahabat saya kemudian menjelaskan dengan singkat kepada mertuanya, “Digendong saja, biar cepat. Nanti baru diletakkan di kereta.” Kita pasti sudah bisa menebak reaksi dari sang mertua, bukan? Sahabat saya kemudian jadi bertanya-tanya, “Apakah anak tidak boleh disayang, hanya boleh dipeluk kereta dorong? Apakah anak harus dirampas haknya mendapatkan kehangatan dari gendongan orangtuanya?”

Gendongan merupakan salah satu ekspresi kasih sayang orangtua kepada anak mereka. Betapa tidak; ketika anak digendong, pertama-tama tentu ia mengalami kontak fisik dengan orangtua yang menggendongnya. Bukan hanya sekedar kontak fisik, lebih daripada itu, anak bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan dari sebuah pelukan erat. Ia juga merasa aman dalam perlindungan tangan kuat namun lembut orangtua, yang melingkupi tubuhnya.

Anak saya lahir prematur. Sebagai anak prematur, ia perlu belajar menyesuaikan diri dengan suhu ruangan, yang jauh lebih dingin jika dibandingkan dengan suhu rahim - tempat di mana ia seharusnya masih berproses. Ketika saya dan suami membawanya pulang dari rumah sakit, dokter berulang kali berpesan agar kami menjaga dan memperhatikan suhu ruangan agar tidak “menyakiti” anak kami. Setelah beberapa waktu, kami mendapati anak kami lebih cepat terlelap tidur ketika digendong, dibandingkan jika ia dininabobokan sambil berbaring di tempat tidurnya. Alhasil, kami selalu menggendongnya sampai ia terlelap tidur, kemudian barulah kami meletakkannya di tempat tidur. Banyak orang menyangka bahwa ia akan menjadi manja, sering menangis minta digendong. Ternyata tidak demikian. Kami mendapati, di malam hari ia akan tidur dengan nyenyak, tidak terus menerus minta digendong - seperti terkaan orang-orang. Sesekali ia akan menangis karena lapar dan kemudian segera kembali tidur setelah minum susu. Ia merasa aman. Kehangatan pelukan kami membuatnya tidak takut menghadapi lingkungan yang dingin.

Saya melahirkan anak kami setelah mengalami pre-eklampsia dan eklampsia. Kisahnya dapat Anda baca di artikel ini: Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya

Anak belajar hangatnya cinta kasih pertama-tama dari orangtua. Hangatnya rahim ibu, lembutnya suara detak jantung ibu yang menjadi pengantar tidurnya selama sembilan bulan sepuluh hari. Kuatnya pelukan ayah yang penuh perlindungan, lembutnya sentuhan ibu yang penuh kehangatan. Lewat itu semua, bayi belajar bahwa ia dikasihi. Ia tahu bahwa ada orang-orang yang mencintai dan dekat dengannya.

Pelukan adalah sebuah bahasa kalbu. Anak akan dapat memahaminya, tanpa orangtua perlu berkata-kata untuk mengungkapkannya.



2. Menstimulasi Perkembangan

[Image: babycenter.com]

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang sering dipeluk bertumbuh lebih baik dibanding dengan bayi-bayi yang jarang bahkan tidak menerima pelukan dari orangtua atau pengasuhnya. Pertumbuhan dan perkembangan yang baik ditunjukkan oleh beberapa hal, seperti berat badan meningkat dengan stabil dan kemampuan mengelola emosi yang sehat.

Pelukan dan gendongan bukanlah sebuah 'virus' yang dapat mengganggu pertumbuhan anak, sebaliknya sebuah 'suplemen' istimewa yang akan membantu mereka berkembang sehat.

Pelukan dan gendongan, seperti telah diuraikan di poin pertama di atas, memberikan rasa aman kepada anak. Anak yang merasa aman tentu memiliki nafsu makan yang baik, porsi istirahat yang cukup, dan memiliki relasi yang baik dengan orang-orang terdekatnya. Pertumbuhan fisik dipastikan akan terjamin bila pola makan dan pola tidur teratur dan terjaga. Perkembangan emosi juga akan dibangun berdasarkan relasi paling dekat dan paling awal yang dialami anak di rumah.

Anak kami lahir dengan berat 1.980 kilogram, berat badan yang sangat rendah dibandingkan dengan standar normal berat badan bayi baru lahir menurut dunia medis: 2.5 kg. Untuk mengejar ketertinggalan, kami mengupayakan berbagai cara, tentu sesuai nasihat dokter, agar ia dapat bertumbuh dengan baik. Kami tidak mengeluh harus memberinya minum setiap 3 jam sekali, termasuk waktu dini hari. Sebagai catatan, bayi prematur memiliki risiko tersedak yang lebih tinggi dibanding dengan bayi normal. Akibatnya, kami harus menggendongnya setiap kali memberinya susu. Setiap hari kami mencatat perkembangan berat badannya dan kami menyaksikan betapa pesat perkembangannya dari hari ke hari. Setelah satu bulan bekerja keras, sesuai target dokter, anak kami berhasil mencapai bobot 2.9 kg - bahkan melebihi target minimum 2.5 kg. Merasa lega, kami mulai kendor memperhatikan jadwal minumnya. Di bulan kedua, pencatatan berat badan anak kami menunjukkan perkembangan yang lambat. Jadwal minum susu yang tidak sesering bulan sebelumnya namun dalam volume yang lebih banyak - yang juga berarti berkurangnya frekuensi gendong dan lebih banyak waktu ia tidur sendiri di tempat tidurnya, kami duga sebagai salah satu penyebab lambatnya kenaikan berat badan anak kami.

Beberapa hari terakhir, dimulai tepat satu minggu sebelum usianya menginjak 2 bulan, kami mengubah strategi. Selama siang hingga malam sebelum tidur, anak kami minum susu dengan interval setiap 2 jam sekali - berarti frekuensi peluk dan gendong lebih sering - namun dengan volume minum yang lebih sedikit di setiap sesi minum. Hasilnya, dalam dua hari terakhir terhitung dari artikel ini ditulis, berat badan anak kami meningkat tajam. Pelukan menstimulasi pertumbuhannya. Di malam hari, ia tidur lebih nyenyak dan tidak mudah terbangun. Kami pun jadi punya waktu tidur lebih lama di malam hari.

Pelukan dan gendongan bukannya merugikan, malah membawa keuntungan, baik bagi anak maupun bagi kami sebagai orangtua.



3. Mendirikan Kemandirian

[Image: ourwalkforlife.com]

Jika anda sedang berada di tempat umum di mana terdapat banyak anak balita, cobalah perhatikan. Ada anak-anak usia balita yang tampak lebih mandiri dibanding anak-anak lain. Jika Anda cukup “usil”, cobalah tanyakan kepada orangtua atau pengasuh mereka, apakah mereka sering digendong ketika masih bayi. Anda mungkin akan terkejut ketika mendapatkan jawaban yang ternyata berbeda dengan asumsi orang kebanyakan.

Hal ini sebenarnya telah dibuktikan oleh sebuah riset perkawinan dari studi psikologi dan sosiologi. Riset tersebut membuktikan, anak yang memiliki kedekatan dengan ibu memiliki IQ yang lebih tinggi. Sedangkan anak yang memiliki kedekatan dengan ayah memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi, lebih mandiri, dan berani mengeksplorasi lingkungan sekitar. Singkatnya, anak yang memiliki keintiman dengan orangtua akan memiliki masa depan yang menjanjikan, tumbuh menjadi pribadi yang sehat fisik, sehat emosi, dan sehat kognitif.


Menggendong anak tidak sama dengan memanjakan atau melindungi secara berlebihan. Menggendong anak, memeluknya dengan erat, sebenarnya adalah cara kita untuk mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan, karena apapun yang akan terjadi, perlindungan dan dukungan dari kita, orangtuanya, selalu tersedia untuknya.

Baca Juga: Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka

Menggendong anak dengan dasar kasih tidak akan membawa kerugian. Tentu janganlah dilakukan dengan tujuan yang salah, karena keegoisan kita sebagai orangtua yang hanya ingin merasa nyaman dan tidak terganggu oleh tangisannya, misalnya. Berikan pelukan dan kehangatan secara tepat!

Pelukan dan gendongan orangtua adalah sebuah “asuransi” yang tak terbeli dengan uang, sebuah harta berharga yang tak dapat tergantikan oleh apapun juga.


Baca Juga:

Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya

Anak Tunggal Pasti Manja? Belum Tentu! Lakukan 5 Cara ini Agar Anak Tunggal Tumbuh Mandiri dan Cakap Bergaul

Dari Saya, tentang Menjadi Seorang Ayah: Membangun Kedekatan dengan Anak Lewat Hal-Hal Sederhana Setiap Hari




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bayi Sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar