Bahagia, Meski Menderita Kanker dan Tak Berlimpah Materi. Bahwa Bahagia Sejatinya Perkara Hati, Keluarga Ini Membuktikannya

Marriage

[Image: barnimages.com]

6.6K
Terkadang kita mengukur kebahagiaan berdasarkan prestasi dan materi. Namun 60 menit berbincang dengan Bunda, saya mendapati, kebahagiaan ternyata bisa diraih dengan cara lain yang lebih berarti.

Sore itu saya diperkenalkan oleh kawan dekat saya kepada keluarganya. Bukan keluarga kandung, tetapi keluarga angkatnya, mengingat kawan saya ini sedang merantau untuk menimba ilmu pada sebuah perguruan tinggi di Jawa Tengah. Awalnya tidak ada kesan yang istimewa terhadap keluarga ini. Hanya ayah, ibu, dan kedua anak laki-laki yang bertumbuh dewasa. Sama dengan keluarga Anda dan saya.

Kami berbincang sembari ditemani secangkir teh hangat dan buah-buahan yang tersedia di meja. Saya perlahan dibuat terkejut dan kemudian terkagum dengan penuturan seorang ibu paruh baya yang mereka panggil dengan sebutan "Bunda". Dalam perjuangan melawan kanker yang sedang diderita, saya melihat semangat pantang menyerah dan kebahagiaan yang terpancar jelas dari caranya membagikan cerita, kisah hidupnya.



Bahagia karena Memberi, Meski Bukan dari Kelebihan Ekonomi

“Kalau minta uang ke ponakanku yang kaya, dia langsung ambil 5 juta rupiah dari dompetnya. Tapi kalau minta tolong ke Bunda, Bunda hanya bisa kasih 50 ribu rupiah saja ...”

Saya mengingat jelas perkataan bunda pada waktu itu. Bukan karena saya sedang meminta uang kepada Bunda, namun karena saya mengenal persis siapa keponakan yang Bunda maksudkan itu. Ia seorang tangan kanan mantan menteri pada era pemerintahan lalu, yang kebetulan adalah teman Papa saya ketika sama-sama memulai karier di industri perbankan puluhan tahun yang lalu.

Ayah, kepala dari keluarga ini merupakan pensiunan pegawai swasta. Saat ini Beliau menyambi menjadi agen sebuah perusahaan asuransi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan Bunda, penyakit kanker kini membatasi aktivitasnya. Ia tak lagi selincah dahulu.

Meskipun demikian, keterbatasan ekonomi tidak membuat mereka berhenti memberi kepada sesama.
[Image: pinterest]

Mereka mengambil anak angkat, dua orang mahasiswi. Hanya sebuah rumah dan kehangatan keluarga yang mampu disediakan keluarga sederhana ini untuk kedua anak angkat mereka. Namun, bukankah itu justru kemewahan, yang sudah lebih dari cukup bagi perantau yang tinggal jauh dari rumah?

Baca Juga: Kelelahan dan Stres adalah Tanda Bahwa Peran Rumah yang Terpenting telah Terabaikan



Bahagia karena Bisa Memberikan Dampak Positif bagi Masyarakat

Dengan semangat 45 bunda menceritakan tentang asal muasal usaha keluarga yang sedang mereka geluti saat ini, yaitu produksi yoghurt [susu fermentasi].

“Anak Bunda dulu pernah sakit, kemudian ada seseorang yang memberi saran untuk memberinya yoghurt. Awal tahun 90-an susah cari yoghurt, kalau ada pun harganya mahal. Oleh karena itu, Bunda berinisiatif membuat yoghurt sendiri.”

Membuat yoghurt untuk pemula bukanlah hal mudah. Bunda bertutur, percobaannya di awal-awal usaha selalu gagal. Ia pun terpaksa harus membuang hasil percobaan yang gagal tersebut. Tak jarang, dalam satu hari berliter-liter susu sapi habis terbuang percuma sebagai bahan percobaan. Namun, Bunda tidak menyerah begitu saja. Karena memiliki tujuan yang baik bagi anak mereka, keluarga ini terus mencoba dan mencoba hingga akhirnya mereka berhasil membuat yoghurt sendiri.

[Image: dharmatown.org]

Setelah merasakan manfaat dari yoghurt, Bunda mencoba memperkenalkan yoghurt ke lingkungan sekitar. Namun, Bunda mendapat respons mengecewakan. Bukannya disambut baik, penolakan demi penolakan yang harus mereka hadapi. “Susu basi!” begitulah masyarakat sekitar menilai yoghurt buatan Bunda saat itu. Bukannya menyerah karena cibiran masyarakat, Bunda justru makin semangat dengan kreasi yoghurtnya hingga perlahan masyarakat sekitar juga dapat menerima manfaat yoghurt yang sehat itu.

Baca Juga: Biarkan Orang Berkata Apa, Kurangi Ribuan Pertempuran Tak Perlu, Jadilah Bahagia! Ini Teknik Cerdasnya



Bahagia karena Selalu Mengucap Syukur

Saya pernah menjumpai keluarga yang bertengkar hebat hanya karena merasa kurang puas dengan keadaan yang ada. Seringkali kita mengukur kebahagiaan dengan prestasi dan materi. Tidak bahagia rasanya jika tidak mampu menyaingi tetangga membeli sebuah mobil baru. Kurang lengkap rasanya bila liburan tahun baru tidak pergi ke luar negeri.

Kebahagiaan kita gantungkan dan ukurkan kepada hal-hal yang bersifat fana.

Ayah dan Bunda memberikan kepada saya sebuah sudut pandang baru tentang arti sebuah kebahagiaan. Di tengah segala pergumulan hidup dan perjuangan yang tidak mudah melawan kanker, mereka selalu menaikkan syukur kepada Tuhan atas hidup mereka.

[Image: odaily.co]
Bahagia bukan karena mencapai sebuah prestasi atau materi, namun menjadi bahagia karena senantiasa mengucap syukur atas segala hal yang boleh terjadi.

Baca Juga: 4 Hal Indah yang Akan Kamu Temukan setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Sekadar Kompetisi


Perbincangan kurang dari 60 menit dengan Bunda adalah momen paling berharga pada hari itu. Saya belajar banyak dari keluarga ini tentang apa arti sebuah kebahagiaan dan bagaimana mendapatkannya.

Bukan kepada batasan, target, atau standar yang ditetapkan oleh manusia. Namun lebih kepada bagaimana memberi dampak bagi orang-orang di sekitar.

Sebelum mengakhiri hari malam itu, saya mengucap syukur bisa bertemu mereka. Tak lupa pula sebuah doa saya panjatkan, agar keluarga tersebut terus diberkati.



Baca Juga:

Bukan Semata tentang Tujuan, Hidup, Sesungguhnya, adalah Sebuah Perjalanan

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar Sebagai Pemenang



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bahagia, Meski Menderita Kanker dan Tak Berlimpah Materi. Bahwa Bahagia Sejatinya Perkara Hati, Keluarga Ini Membuktikannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?