Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu, dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita

Reflections & Inspirations

[Image: goodfon.su]

3.8K
Dari sekian banyak kisah yang saya dengar, juga dari pengalaman saya sendiri, saya berkesimpulan bahwa, soal bahagia, pada akhirnya, selalu berhubungan dengan 3 hal ini: uang, waktu, dan tenaga.

Apakah bahagia itu sesungguhnya? Apakah bahagia itu nampak dari wajah penuh senyuman? Atau, terdengar dari suara tawa terbahak-bahak? Atau, apakah bahagia itu hanyalah sebuah rasa yang tak berwujud nyata? Jika ada bahagia yang sesungguhnya, apakah berarti ada bahagia yang semu, alias palsu?

Siapa yang tak ingin hidup bahagia? Rasa-rasanya tak ada. Setiap orang tentu ingin bahagia, walaupun apa yang dimaksud dengan bahagia itu berbeda-beda untuk tiap pribadi.

Tentu kita sudah sering mendengar happy stories dalam berbagai versi dan dari banyak orang, demikian pula saya. Namun, dari sekian banyak kisah yang saya dengar, juga dari pengalaman saya sendiri, saya berkesimpulan bahwa, soal bahagia, pada akhirnya, selalu berhubungan dengan 3 hal ini: uang, waktu, dan tenaga.


1. Uang

[Image: mindfueldaily.com]

Siapa sih yang tidak butuh uang? Untuk apa kita harus punya uang? Apakah demi mencukupi kebutuhan dan keinginan kita semata atau supaya kita bisa menjadi saluran berkat dengan beramal untuk orang lain? Terlepas dari apa tujuan masing-masing kita memiliki uang, satu yang pasti: uang amat memikat bagi banyak orang.

Memang uang bukanlah segalanya, tapi tak perlu munafik, tanpa uang kita sejatinya bukanlah apa-apa; dengan uang, kita bisa melakukan apa saja. Entah itu untuk kebaikan atau untuk kejahatan yang dikemas sedemikian indahnya. Intinya, uang dapat dikatakan sebagai faktor yang berandil penting dalam kebahagiaan kita.

Kebahagiaan apa yang dapat kita peroleh dari uang? Tentu amat banyak. Uang bisa dibarter dengan barang, jasa, bahkan hati sekalipun. Orang juga punya rasa bangga dan puas ketika memiliki uang yang lebih dari cukup, entah dalam wujud aset, investasi, maupun dalam hal nominal. Tak perlu heran juga bila kita sering mendengar bahwa cinta bisa dibeli dengan uang. Orangtua yang menjodohkan anaknya dengan relasi bisnisnya, misalnya. Dengan uang, kita juga bisa mengubah penampilan sehingga kita dipandang layak dan memperoleh penerimaan dari masyarakat. Uang pun bisa mempererat hubungan kita dengan sesama, karena koneksi kerja atau hanya sekadar untuk diakui oleh komunitas kita. Dan, yang lebih 'halus', terkadang kerelaan kita melayani sesama juga berujung pada: karena uang. Apa boleh dikata, ternyata uang bisa “membeli" segalanya, bukan?

Walaupun uang amat berdampak bagi kehidupan kita, jangan biarkan Ia memperdaya hidup kita! Uang hanyalah salah satu sarana yang mau Tuhan pakai untuk memberkati kita. Tuhan mempercayakan uang kepada kita sebagai titipan, yang harus kita kelola dengan bijak.

Mari kita bercermin kepada kehidupan anak-anak. Mereka, tanpa uang, tetap bisa merasa bahagia. Anak-anak punya sumber kebahagiaan yang berbeda dengan orang dewasa. Di fase anak-anak, hanya waktu dan tenaga lah yang mereka miliki yang bisa menjadi sumber kebahagiaan mereka.

Rumusnya seperti ini:

[anak-anak = waktu + tenaga – uang]

Semasa anak-anak, kita punya banyak waktu dan tenaga, meskipun tak punya banyak uang.

Pelajaran yang bisa kita tarik oleh karenanya adalah: biarkan anak-anak kita menemukan kebahagiaan yang selayaknya mereka dapatkan lewat waktu dan tenaga yang mereka miliki.

Di era sekarang ini, banyak sekali orangtua yang berlomba-lomba ingin menunjukkan “prestasi” anak-anak mereka. Jika mau jujur, semua itu dilakukan untuk kepuasan dan kebahagiaan orangtua semata. Ego kita sebagai orangtua ingin agar dipandang sebagai orang tua yang berhasil mendidik anak, ingin anak kita dinilai pintar oleh orang lain.

Pernahkah kita, di tengah segudang tuntutan tugas dan kegiatan anak-anak yang telah kita set sedemikian rupa, memikirkan dan menanyakan kepada anak kita, “Apakah engkau bahagia saat ini, Nak?”

Anak yang berbahagia adalah anak yang dapat melihat apa yang sesungguhnya yang Tuhan inginkan untuk hidup mereka melalui orangtuanya. Dalam peran kita sebagai orangtua, marilah kita tidak lupa untuk secara berkala memosisikan diri dalam posisi anak-anak kita.

Baca Juga: Kesuksesan Seperti Apa yang Kita Inginkan untuk Anak-Anak Kita?



2. Waktu

[Image: docplayer.nl]

Sebuah pepatah mengatakan, waktu adalah uang. Jika kita renungkan lebih mendalam, sebenarnya waktu lebih berharga daripada uang. Waktu terus berjalan tanpa henti; waktu yang telah berlalu tak dapat dimiliki kembali. Oleh karena itu, waktu berhubungan erat dengan kesempatan.

Apa hubungan waktu dengan kebahagiaan? Sebuah keluarga dikatakan bahagia jika memiliki waktu kebersamaan yang berkualitas, quality time demikian orang sering menyebutnya. Bagi seorang pekerja, yang memiliki dedikasi dan kinerja yang baik, kesempatan untuk mendapatkan promosi jabatan dalam kariernya tentu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Seorang pelajar, yang mampu mencetak rekor prestasi di berbagai ajang perlombaan bergengsi, tentu merasa bahagia. Semua itu adalah gambaran kebahagiaan yang berhubungan dengan waktu. Namun jangan lupa, untuk memperoleh itu semua, diperlukan pengorbanan waktu juga, yang biasanya cukup panjang.

Jika digambarkan, rumusnya seperti ini:

[orang muda = tenaga + uang - waktu]

Dalam fase produktif, pengerahan tenaga semaksimal mungkin dapat menghasilkan uang banyak, meskipun untuk itu, orang muda harus kehilangan banyak waktu.

Karena begitu berharganya waktu, kita perlu mawas diri dengan penggunaannya. Jangan sampai terbuang sia-sia hanya demi mengejar "impian" atau memuaskan "ambisi", segala yang semu sifatnya. Jangan sampai kebahagiaan sejati akhirnya hanya jadi sesuatu yang tak pernah tergapai.

Satu hal pernah saya sesalkan dalam hidup saya yang belum seberapa panjang ini: Ambisi dan pencapaian dalam karier pernah begitu menguasai saya hinga membuat saya mengesampingkan kepentingan keluarga. Saya menghabiskan begitu banyak waktu untuk pekerjaan, bahkan waktu kebersamaan dengan anak dan suami pun saya korbankan, demi impian egois saya. Bersyukur bila akhirnya saya disadarkan bahwa waktu itu amat penting, bukan hanya untuk kebahagiaan saya pribadi, namun terlebih dari itu, untuk membahagiakan orang-orang yang saya kasihi.

Baca Juga: Working Mom, Rasa Bersalah dan Cara Mengatasinya

Berapa banyak waktu yang sudah kita habiskan demi menggapai 'kebahagiaan' kita? Sudahkah kita berbagi waktu, sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan kita itu, untuk orang-orang yang kita kasihi dan terlebih-lebih untuk Tuhan? Mari kita mengoreksi diri dan penggunaan waktu kita. Sebelum waktu kita di dunia habis dengan sia-sia, mari belajar untuk menggunakan waktu yang ada dengan bijak, untuk hidup yang lebih bermakna.



3. Tenaga

[Image: linkedin.com]

Tenaga berkaitan erat dengan kekuatan atau kemampuan yang bisa kita keluarkan dari diri kita untuk melakukan sesuatu. Semasa menjadi anak, tenaga kita sepertinya tidak pernah abis, oleh karena itu anak kecil atau anak muda biasanya lebih aktif dibanding dengan orang tua usia lanjut. Ketika kita menjadi tua, tenaga adalah sesuatu yang secara nyata berkurang porsinya dengan amat banyak. Orang tua tentu sudah kehilangan kelincahan, atau berkurang kelincahannya, setidaknya. Bahkan atlet pun, yang secara rutin melatih diri juga harus 'pensiun' setelah mencapai usia tertentu.

Orang tua [manula] sering mendapat tugas menjaga cucu atau cicit mereka ketika anak-anak mereka - para orang muda yang produktif - menghabiskan waktu dan tenaga mereka untuk bekerja. Saya belum sampai ke fase ini, namun sering mendengar sharing dari orang-orang tua yang amat menikmati peran mereka sebagai kakek atau nenek. Namun demikian, ada juga yang malah mengomel karena merasa dianggap sebagai satpam atau suster oleh anak-anak mereka.

Terlepas dari rutinitas atau 'pekerjaan' yang masih harus mereka kerjakan, perlu disadari bahwa fungsi organ-organ tubuh manula secara alamiah akan semakin menurun. Oleh karena itu, mereka cenderung punya anggapan bahwa kesehatan adalah faktor utama yang menentukan kebahagiaan mereka. Oleh karena kesehatan memampukan mereka untuk dapat menikmati sisa waktu yang ada, tak jarang pula mereka jadi lebih berani mengeluarkan uang demi memperoleh kesehatan yang lebih prima.

Rumusnya seperti ini:

[manula = uang + waktu - tenaga]

Para manula punya banyak uang dan waktu, namun tenaga mereka sudah banyak berkurang.

Menjadi sebuah pertanyaan besar: Apa yang sudah kita kerjakan selama ini? Bagaimana kita menggunakan tenaga kita selagi kita masih memilikinya? Apakah tenaga kita hanya terbuang habis untuk melakukan hobby, hal-hal yang kita senangi, dan mengejar prestasi gemilang tanpa lelah? Apakah kita bekerja keras dari pagi hingga larut malam, hingga tenaga kita hanya tercurah untuk pekerjaan saja? Ataukah kita masih menyediakan tenaga untuk bermain bersama anak di rumah, bahkan melakukan kegiatan rohani yang dapat membangun iman kita?

Bila kesehatan atau tenaga telah menjadi kendala yang membuat kita tak bisa melakukan itu semua, maka mungkin, sudah saatnya kita mulai mengubah pola hidup dan pola pikir kita.

Keseimbangan hidup adalah sesuatu hal yang amat penting, jangan sampai kita kehilangan itu! Jangan biarkan tenaga kita terkuras habis tanpa arti.

Baca Juga: 4 Hal Indah yang Akan Kamu Temukan Setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Soal Kompetisi


Beberapa waktu yang lalu saya berjumpa dengan seseorang yang hidupnya bahagia meski berkorban uang, waktu, dan tenaga demi turut membahagiakan orang lain. Ia adalah Priskilla Smith Jully. Priskilla adalah seorang perempuan penyandang cacat. Ia punya segudang pengalaman pahit di sepanjang hidupnya, namun mau bangkit dari keputusasaan, bahkan rela mengulurkan tangan, bagi mereka yang bernasib sama dengan dirinya agar mereka dapat hidup dengan lebih baik dan lebih bahagia.

Mari bersama belajar untuk mempergunakan uang, waktu, dan tenaga dengan bijaksana. Selamat berbahagia!


Baca Juga:

Berpikir Sederhana, Hidup Luar Biasa

Bukan Semata tentang Tujuan, Hidup, Sesungguhnya, Adalah Sebuah Perjalanan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu, dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Lany Inawati | @lanyinawati

seorang ibu rumah tangga yg sedang berbagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak sembari menulis agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang #bighug

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar