Peran Wanita dalam Relasi dengan Pria : Dijajah, Menjajah, atau Adakah Pillihan Lain?

Marriage

[Image: watson.ch]

5.2K
Menjadi wanita itu tidak mudah. Agak dominan, dijuluki penjajah. Lalu suami diolok-olok sebagai suami takut istri. Sebaliknya, terlalu mengalah, katanya wanita bodoh. Mau saja dijajah pria [suami]. Nah lho, pusing kan?

Menjadi wanita itu tidak mudah. Agak dominan, dijuluki penjajah. Lalu suami diolok-olok sebagai suami takut istri. Sebaliknya, terlalu mengalah, katanya wanita bodoh. Mau saja dijajah pria [suami]. Nah lho, pusing kan?

Pada zaman dahulu, dalam budaya Jawa wanita dianggap ‘kanca wingking’, sekedar pengikut, dan sering pula dikatakan wanita itu, ‘Suwarga nunut, neraka katut’ - hanya ikut saja keberuntungan dan kemalangan suami.

Ada sebuah quote yang terkenal mendunia, menggambarkan peran wanita dengan apiknya:

Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria,

bukan dari kepalanya agar menjadi yang utama,

bukan pula dari kakinya supaya berada dibawahnya.

Namun dari sampingnya agar setara dengannya,

dekat dengan lengannya supaya dilindunginya,

dekat dengan hati agar dicintainya.


Pertanyaannya,

Bagaimana caranya agar wanita dapat menjadi penolong yang sepadan tanpa harus terinjak-injak maupun menginjak harga diri pria?

[Image: giantesslove.com]

Sesungguhnya, kekuatan utama seorang wanita itu terletak pada kemampuannya memengaruhi. Ada perkataan orang tua yang menyebutkan bahwa wanita itu ‘setan bantal’. Hanya dengan ucapan-ucapannya ketika akan tidur saja, dia dapat memengaruhi keputusan-keputusan suaminya. Bahkan, akan hancur atau bertahannya sebuah kerajaan ada di bawah kendali pengaruh seorang wanita, jika dia adalah seorang permaisuri atau selir raja. Telah banyak kita membaca dalam kisah-kisah sejarah betapa luar biasa pengaruh seorang wanita.

Untuk itu, ada 2 hal yang harus dikuasai seorang wanita: kualitas diri dan keterampilan menempatkan diri.

Seorang wanita yang bijak akan selalu meningkatkan diri dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Itu tips yang paling utama. Bukankah Tuhan adalah Sumber segala hikmat dan kebijaksanaan? Dengan hidup dekat serta bergantung kepadaNya maka kita akan secara bertahap mengadopsi karakter, pikiran, dan kebijaksananNya. Akibatnya, Tuhan akan membawa kita ke tempat yang tepat, menjadi orang yang tepat, serta berada pada saat yang tepat untuk menyelesaikan segala yang diperlukan.

Yang kedua, seorang wanita yang bijak akan terus mengisi pikirannya dengan pengetahuan yang baik dan berguna sehingga dia dapat berperan sebagai penasihat yang bisa diandalkan oleh suaminya.

Yang ketiga, istri yang bijak bergaul dengan orang-orang baik, positif, dan mendorongnya maju. Dengan siapa kita bergaul akan menentukan masa depan kita. Jika memiliki networking yang luas, tentunya sang istri bisa membantu mempromosikan dan mengembangkan peran suami baik dalam bisnis, karier, maupun perannya dalam masyarakat. Istri bisa ‘menggelar’ karpet merah, memudahkan suami untuk melewati jalannya menuju kesuksesan.

Selain meningkatkan kompetensi pribadi, seorang wanita bijak harus pula bisa menempatkan diri dengan benar. Yang perlu disadari betul-betul oleh seorang wanita bahwa dia adalah seorang penolong - bukan bos. Ini fondasi dasarnya. Suami sebagai imam dan kepala keluarga, itulah yang menduduki tempat yang utama. Istri haruslah tunduk kepada suami sebagaimana difirmankan oleh Tuhan. Sementara tugas seorang suami adalah mengasihi istrinya.

Seorang penolong akan menggunakan segenap kemampuannya untuk membantu dan mendukung kesuksesan sang kepala keluarga yang ditolong. Namun memaksa, tidak.

Jika sarannya sebagai penolong diabaikan, tetap tidak boleh marah, apalagi memaksa! Apa pun keputusan kepala keluarga, istri harus tetap mendukung dan berada di sisi suami untuk menyukseskan hasil dari keputusannya. Tidak mudah, bukan? Diperlukan kebesaran jiwa dan kesadaran penuh akan posisinya, agar dapat menjadi penolong yang sepadan.

Tantangan terbesar seorang penolong biasanya terjadi saat terbukti ternyata saran istri yang benar telah ditolak oleh suami. Justru sekarang keputusan suami membawa kerugian dalam keluarga. Secara manusia, tentu ingin menunjukkan pada suami bahwa saran istrilah yang benar. "Salah sendiri tidak percaya!" ini yang ingin diteriakkan. Betul? Tapi JANGAN pernah lakukan itu! Diamlah dan tetap bantu suami untuk menyelesaikan kerugian dan mencari solusi terbaik di tengah-tengah situasi yang buruk. Dengan sikap tetap menghargai, menghormati, dan tulus, itu syaratnya.

Mungkin ada yang protes, "Gak adil dong??!!" Bisa jadi. Tetapi dengan atau tanpa menyalahkan suami, kerugian sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Satu-satunya yang bisa dilakukan, jadikan bubur ini bubur yang paling enak. Tambahkan abon, ikan asin, kacang, dan segala macam pelengkap lain agar bisa menjadi bubur yang harganya bahkan lebih mahal daripada nasi. Cari manfaat di tengah situasi yang buruk.

Tanpa harus ditunjukkan, suami sudah menyadari bahwa keputusannya salah. Dalam keadaan rugi, istri masih saja mengomel menunjuk-nunjukkan terus kesalahan suami, hanya akan membuat suami jadi bad mood. Pertengkaran akan mudah sekali tersulut, akibatnya suami dan istri berada pada posisi yang berseberangan.

"A good marriage is each for the other and two against the world" - Robert Brault.

Jika istri memilih diam dan mendukung dengan setia, suami merasa aman dan dihormati. Pada masa yang akan datang, dia akan selalu minta pendapat istri sebelum mengambil keputusan-keputusan besar. Bukankah keterbukaan dan kepercayaan seperti itu yang diinginkan seorang istri?

Mengutip istilah Jawa, strategi ini disebut ngalahke tanpo ngasorake – mengalahkan tanpa merendahkan. Sun Tzu, seorang jenderal ahli strategi perang China berujar, “Jika Anda mengenal kekuatan sendiri dan mengenal kekuatan lawan maka Anda tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Namun dengan strategi yang unggul, Anda dapat memenangkan pertempuran tanpa harus bertempur.”

Sebagai seorang istri, biasakan untuk selalu menunjukkan di depan masyarakat bahwa suamilah yang hebat. Penolong tidak pernah menonjolkan diri, ia berada di belakang layar dan menjadi penopang yang kuat untuk suaminya.

[Image: centerline.net]

Dengan bijak membangun kualitas diri dan mampu menempatkan diri sebagai penolong sepadan yang terpercaya, rumah tangga akan terhindar dari ribuan pertempuran yang tidak perlu. Wanita yang berkualitas, bijak, dan dapat senantiasa diandalkan, tentunya tidak akan pernah ‘dijajah’ oleh pria [suami]. Wanita seperti ini akan dikasihi dan menjadi kebanggaan keluarga. Rumah tangga akan terbina dengan penuh kasih, saling menghargai, dan saling menghormati; kebahagiaan pun tercipta dengan sendirinya.

Setuju?

Selamat mencoba!



Baca Juga:

Fenomena Suami Kesepian: Bukan Sekadar Seks, Inilah 6 Hal yang Dapat Dilakukan Istri untuk Mendampingi Suami

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Peran Wanita dalam Relasi dengan Pria : Dijajah, Menjajah, atau Adakah Pillihan Lain?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar